Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Koruptor Junior

foto koruptor
sumber: www.google.com
Ditulis oleh @elliyinayin

Bermula dari sebuah pengamatan di sebuah ”wedangan[1] tempat biasa kami cangkrukan[2]. Para mahasiswa lebih senang menyebut dengan diskusi bebas dan terbuka jika posisi mereka berada di sekitar lingkungan kampus. Menurut mereka itu lebih keren dan berbobot sesuai dengan gelar yang akan mereka sandang setelah tali topi toga berpindah dari sisi kiri ke sisi kanan, dan saat itulah penanda tugas dan tanggung jawab sarjana benar-benar dimulai.

Sungguh ini hanya sekedar obrolan ringan yang mampu menggugah kesadaran, mempertebal iman, dan mengetuk pintu hati. Lagi-lagi ini adalah malam minggu, waktunya kami bersantai tanpa memikirkan tugas-tugas kuliah yang bejibun[3]. Yang karena kertas makalah dan fotocopian tersebut mampu membuat negeri ini panas, banjir, longsor, dan erosi disebabkan tugas-tugas yang kami kerjakan, buku-buku tebal yang dicetak untuk kami baca, tapi lebih sering hanya sekedar jadi pajangan di rak. Dunia memang ibarat sebuah koin, yang selalu mempunyai dua sisi untuk dikaji dan tak bisa dipungkiri.

Wedangan ini tak pernah sepi dari pelanggannya, bapak-bapak, om-om, tukang becak, supir taksi yang ikut mangkal asyik membicarakan bencana negeri, korupsi para pejabat, tidak meratanya kualitas pendidikan negeri, janji orang-orang pembuat undang-undang, bahkan ada seorang guru yang membicarakan soal BHP[4]. Segala topik dari yang berat sampai ringan tak berbobot bisa kita dapatkan di sana. Indonesia memang kaya tak terkira.

Malam minggu, banyak polisi berpatroli, muda mudi seperti tak punya tugas dan tanggung jawab apapun di hari itu. Kebetulan wedangan tersebut tak terlalu jauh dari ”bangjo”[5]. Tiba- tiba ada seorang pemuda mengendarai motor satria ngebut melebihi aturan standard kecepatan kota yang ditetapkan. Dan di situ terdapat tulisan ”kawasan tertib lalu lintas”. Terang, pak polisi mengejarnya secepat superman terbang. Selanjutnya entah apa yang terjadi dengan si pengendara, kami tidak tahu. Yang jelas dalam benak kami, yang sedang menikmati wedang jahe, tidak habis pikir ”kok berani sekali ya melanggar aturan padahal sudah jelas-jelas perempatan ini kawasan tertib lalu lintas, ada bangjonya, selalu di jaga polisi, apalagi jika malam minggu.”

Di saat itulah kudengar perbincangan hangat mereka, para sesepuh (maksudku orang-orang yang lebih senior dariku, yang sudah makan asam garam lebih banyak).

”Wah, anak muda zaman sekarang lebih parah dari kita ya Pak. Apa mereka buta huruf dan buta aturan? Lha wong saya saja yang tukang becak ngerti kalau itu warna merah yang artinya harus berhenti. Saya tidak perlu kuliah untuk mengerti hal tersebut.”

”Lha nggih pripun Pak, kulo men kuwalahan.[6] Saya ini guru SMP, anak saya kuliah semester tujuh. Anak saya sering menceritakan hal-hal dan tindakan yang mengarah pada korupsi di organisasi kampusnya. Anehnya dia tahu bahwa itu korupsi, tapi ya tetap saja dijalani, alasannya demi kelancaran kegiatan yang sudah diagendakan di organisasi. Opo aku ra melu stress lan isin Pak, ngerti anak koyo ngono?[7] Di sekolahkan, bayar mahal, tapi kenapa hanya otaknya saja yang berkembang, akal dan akhlaknya tidak. Duh Gusti, paringono sabar![8]” keluh Pak guru SMP.

 Dulu anak saya malah pernah bicara begini, ”Lha yang ngajari yang atas kok pak, ya kita manut-manut saja, asal dana bisa cair dan kegiatan bisa berlangsung, kami tidak peduli bagaimana cara uang itu bisa cair. Sampun biasa pak nggagem nota palsu, distempel piyambak, nggantos anggaran,[9] kalau tidak seperti itu malah aneh Pak.

Zaman edan, negara ra waras[10] (jerit hatiku, menolak sekaligus meng-iya-kan statemen yang ada, karena aku pun mengalami dilema itu)

Ngapunten[11] Pak,” aku menyela. ”Semester tujuh ya Pak?,” aku menambahkan.

mBoten[12], putra saya yang semester tujuh,” jawab guru SMP itu.

”Lha sing mboten saged maos sinten?”[13]

Itu lho, yang tadi ngebut pake motor satria, tanpa helm, melanggar bangjo. Lha itu juga ada yang tidak melanggar bangjo tapi tanpa helm tetap selamat dari kejaran dan teguran polisi satlantas. Aneh ya negeri kita ini.” guru SMP mulai mengajak ke pembicaraan yang hangat.

”Sama-sama melanggar aturan, tapi kok diperlakukan dan ditindak dengan beda-beda. Jika aturan sama, ya seharusnya berlaku untuk semua. Ngonten to dik?, sing sekolah mesti luwih paham,” imbuh tukang becak.

Seperti di hantam palu kepalaku. Aku hampir tersedak karena aku sambil menikmati nasi kucing[14] dan beberapa butir telur puyuh yang ada di hadapanku. Aku pun tidak mengangguk, tidak menggeleng. Betapa mereka bisa mengerti akan fungsi dan aturan hukum bahkan mereka lebih paham akan hak dan kewajiban tanpa mereka harus sekolah tinggi-tinggi seperti para pejabat yang ujung-ujungnya bukan melayani rakyat tapi minta dihormati rakyat. Lalu siapa yang lebih kaya dan siapa yang lebih miskin hatinya? Betapa mereka sangat mengharapkan negara yang bersih (dari KKN), penegakan hukum yang berlaku tidak dengan perkecualian.

Di sela-sela kepalaku yang mulai berat, aku juga mendengar mereka beralih topik, membicarakan Gayus, Artalita Suryani, Aulia Pohan, dan sederet nama-nama (yang biasa kami sebut sebagai koruptor, yang sering muncul di headline berita TV maupun koran) yang menurut bapak-bapak tadi adalah orang-orang yang merendahkan moral, harkat, dan martabat bangsa. Bahkan mereka pun sesekali menyebut dengan ”penghancur negeri”. Nggondol uang negara, yang artinya uang rakyat, segala hak rakyat, hanya untuk memenuhi perut mereka. Yang paling tertancap dalam hati dan pikiranku adalah ketika si tukang becak bicara dengan mulut penuh dengan krupuk udang, ” Opo wong-wong kae ora wedi doso? Opo ora wedi karo sing Kuoso?Yen mati, pirang trilyun sing arep melu dipendem ning kubur?”[15]

Sedangkan aku, aku sudah menjadi koruptor junior, aku juga semester tujuh, aku hidup di dunia akademis yang selalu menjujung tinggi akhlak dan moral serta integritas intelektual. Seharusnya kita sebagai penuntut ilmu, berprinsip ”bagai ilmu padi, makin berisi makin merunduk”. Aku ini mahasiswa, agent of change, aku sering mendengar kata-kata itu diteriakkan teman-temanku saat melakukan aksi (demonstrasi). Lalu, apa benar semua itu, aku tidak senang dengan orang yang ”maling teriak maling”, sedangkan aku sendiri adalah pelaku ”maling teriak maling”. Melabeli diri sebagai agen perubah, tapi aku sendiri juga tetap melestarikan budaya yang tanpa kita sadari menghancurkan negeri sendiri, yaitu korupsi. Aku tidak melakukan perubahan apapun, aku juga mengajari adik-adik tingkatku berbohong, membuat nota palsu dan segala kelicikan yang mengikuti di belakangnya.

Aku tak jarang datang di kelas terlambat dengan alasan rapat organisasi. Aku sering hadir di kelas hanya untuk memenuhi presensi agar dapat mengikuti ujian, teman-temanku lebih memalukan dengan tingkah ”nitip presensi/ tanda tangan”. Aku tak jarang mengambil rokok dan tidak membayarnya saat di kantin. Aku bahkan hobi ”copy and paste” tugas-tugas kakak tingkat. Lebih parah teman-temanku yang ”copy paste dari paman google” tanpa mencantumkan alamat rujukan (referensi). Itu semacam kecurangan  HAKI[16] (lagi-lagi korupsi-KETIDAKJUJURAN). Aku juga tidak canggung untuk minta kiriman dari orang tua lebih dari dua kali lipat dari biaya kuliah yang kubutuhkan. Semua yang kusebut, tidak hanya aku, tapi berdasar pengamatan dan beberapa obrolan dengan teman-teman, kakak tingkat, dan adik tingkatku, bisa kusimpulkan: tidak sedikit dari mereka yang melakukan apa yang kupaparkan. Betapa tidak tanggung jawabnya kami sebagai anak dan mahasiswa yang sering dibanggakan orang tua di depan kerabat mereka. Harapan mereka tinggi, akhlak kami yang nantinya bagus akan dijadikan panutan, teladan. Ilmu yang kami dapat, diharapkan untuk ditularkan ke masyarakat. Kulihat si tukang  becak itu membanting tulang untuk membiayai sekolah anaknya, sedangkan aku malah melakukan aksi korupsi yang tentu saja akan merugikan diriku sendiri dan orang lain.

-^^^-

Opo ora wedi karo sing Kuasa? (Apa tidak takut dengan Yang Maha Kuasa)

Refleksi diri, introspeksi

Lihatlah betapa kacaunya jiwa pemuda kita, para akademisi yang diharapkan mampu memegang amanah negara di masa depan, malah sudah menjadi koruptor junior.  Jiwa membara yang seharusnya disulut dengan api dan semangat kebaikan, seperti sudah tidak ada secercah cahaya lagi. Bibit yang buruk, menghasilkan buah yang tidak manis. Ironisnya, hal tersebut terjadi di tempat yang seharusnya bersih, karena perguruan tinggi adalah cerminan ilmu yang terefleksi pada kepribadian dan iman yang kuat karena adanya sebuah pemahaman yang mendalam.

Kita pun tidak dapat memungkiri dengan wacana; fenomena yang telah dipaparkan di atas. Saatnya kita para pemuda memperbaiki diri, jadilah teladan, tidak perlu demo sana, demo sini, demo lah diri anda sendiri yang sekiranya melakukan banyak kecurangan dan kelicikan dalam bertindak. Ingatlah dunia bukan segalanya, bukan atasan kita yang perlu kita takuti, tapi Atasan kita yang sesungguhnya yang harus  ditaati. Tumpas benih-benih jiwa korupsi yang bersemai dalam dirimu.

Negara kuat jika pemudanya kuat dan baik akhlaknya.

Surakarta, 3 November 2010




Note: Tulisan di atas merupakan hasil lomba yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret. Alhamdulillah Juara I. Saya menuliskannya hanya dalam 2 pagi. Dua kali pasca subuh selama 2 jam. Tulisan di atas tidak dipublikasikan oleh penyelenggara, sehingga saya posting pada wordpress pribadi ini. Memang tulisan sudah cukup lama, namun sangat berharap dapat menginspirasi agar kita selalu berbuat baik.
Berikut sertifikatnya sebagai bukti otentik karya, piala ada di rumah orang tua



[1] Sejenis  warung yang bernuansa merakyat dan santai, biasanya lesehan dan ada di trotoar jalan, menyajikan menu yang khas ada HIK (Hidangan Iklim Kampung). Si penjaual menaruh jajanannya di gerobak, biasa buka setelah waktu salat magrib (setelah matahari tenggelam).
[2] Mengobrol atau berbincang hal-hal ringan, atau juga bisa diartikan nongkrong.

[3] Sangat banyak, bahkan tugasnya sampai bertumpuk-tumpuk

[4] Badan Hukum Pendidikan

[5] Lampu merah lalu lintas

[6] Lalu mau bagaimana pak,  Saya juga tidak bisa menangani/ menyelesaikan.

[7] Apa saya tidak ikut stress dan malu Pak, tahu anak seperti itu?

[8] Tuhan, berilah aku kesabaran!

[9] Sudah biasa Pak pakai nota palsu, stempel sendiri, mengganti anggaran

[10] Zaman gila, negara tidak sehat

[11] Maaf/ permisi [12] Bukan

[13] Lalu yang tidak bisa membaca siapa?

[14] Nasi bungkus dengan lauk secuil ikan bandeng dan sambal

[15] Apa orang-orang tersebut tidak takut dosa? Apa tidak takut dengan Sang Pencipta? Kalau meninggal dunia, mau berapa trilyun yang mau ikut dipendam dalam makam?

[16] Hak Atas Kekayaan Intelektual

Arjuna Sahadewa Dalang Masa Depan

Ditulis oleh: @elliyinayin
Kelasku yang tepat ada di samping kanan kantor guru, membuat jam kosong kami kurang menyenangkan. Gimana nggak, setiap ada sedikit suara gaduh pasti salah satu guru yang ada di kantor akan mengecek kelasku. Minimal kelasku sering dilewati guru yang mau ke toilet, karena toilet yang berada tepat di samping kiri kelasku. Strategis, memang. Tapi menyebalkan kalau setiap menit kelasku selalu dicek apakah ada guru yang mengajar atau tidak.

Jam kosong tak mungkin kulewatkan begitu saja. Selalu kumanfaatkan untuk ke kantin lah, ngobrol sama Laras atau bahkan ke toilet. Biar waktunya tidak terbuang percuma.
Di saat Laras sedang menulis, entah apa yang ditulisnya. Mungkin sebuah lirik lagu atau mungkin surat pribadi atau mungkin sebuah syair puisi yang dibuat khusus untukku. GR amat sih aku. Apa yang bisa kubanggakan, sekedar bisa main wayang kok sombong. Laras tampak terkejut dan refleks menutup lembaran kertas yang ada di depannya ketika aku tak sengaja mengagetkannya.

“Ras, lagi sibuk ya?,” kataku tanpa bermaksud mengagetkannya.

”Ng…nggak, ada apa?”

“Boleh nggak aku memberi sedikit saja komentar tentang karaktermu. Karena dari tadi aku melihat wajahmu yang oriental penuh makna. Aku tahu kita baru kenal. Tapi sedikit saja kok komentarnya, nggak banyak-banyak,” kataku dengan wajah memelas memohon.

“Ah, nggak pa pa. Santai saja, aku orangnya nggak mudah tersinggung kayak Krisna kok,” kata Laras tanpa ada rasa keberatan.

“Ras, setelah kulihat dari tadi saat kamu menulis, memang wajahmu sedikit ada kemiripan dengan Dewi Drupadi. Hidungmu mancung, wajahmu selalu terlihat tenang dan aku paling jarang bisa menemukan cewek yang punya wibawa di depan semua orang.”

“Ngomong-ngomong, siapa itu Dewi Drupadi?” celetuk Laras.
“Oh sorry, aku juga sudah menebak kamu bakal nanyain itu.”
“Dewi Drupadi itu salah satu tokoh wayang yang…”

“Huuu…hari gini ngomongin wayang. Hei teman-teman dengerin ya, pak dalang kita Arjuna Sahadewa mau ndalang di kelas yang komunitas orangnya serba modern kayak gini. Pada setuju nggak?” teriak Krisna, teman sekelas Dewa yang paling hobi ndengerin musik hip hop.

“Ndengerin musik keroncongan aja aku sudah mules, apalagi disuruh ndengerin orang ndalang yang betah berjam-jam,” celetuk salah satu teman yang duduk di bangku pojok belakang.

“Dewa! Ini sekolahan. Kalau elo mau mau belajar jadi Pak Dalang bukan di sini tempatnya, tapi lebih tepatnya kamu datang ke rumah Ki Mantep Sudarsono,” kata Krisna sambil berpaling dari hadapan Dewa.

“Bener nggak coy?”
“Yongkru men…,” sahut sekelas, mereka kompak banget kalau mau ngejelekin budaya yang menurut mereka sudah kuno dan nggak ada harganya lagi.

“Dewa, ngomong dong ke mereka, kalau kita itu orang-orang yang masih cinta dan menghargai budaya bangsa sendiri, nggak kayak mereka yang selalu membanggakan budaya luar,” kata Laras sedikit nggak terima kalau Dewa diejek.

"Nggak ah, aku sudah kebal digituin. Kita lanjutin lagi ya ceritanya. Dewi Drupadi itu salah satu tokoh wayang yang termasuk kategori putri luruh dengan ciri-ciri hidung mancung, bermuka tenang, tertunduk dan tidak memakai perhiasan atau permata apapun. Dewi Drupadi ini permaisuri dari pandawa lima yang pertama yaitu Prabu Yudhistira yang memiliki pusaka bernama Kalimasada.”

“Wah, kamu hebat. Di saat orang-orang hanya paham tentang Harry Potter beserta para musuhnya, ternyata masih tersisa orang yang paham tentang wayang. Dari mana kamu tahu tentang dunia pewayangan?”

“Aku? Aku tahu dari bapak-ibuku yang gemar sekali nonton wayang.”

Cukuplah, ejekan Krisna membuatku teringat penyesalanku saat penutupan MOS (Masa Orientasi Siswa) dulu.
***
Api unggun menyala semakin besar seiring dengan melajunya malam ke pergantian waktu, dikitari kurang lebih tiga puluh limaan siswa baru beserta panitia yang terdiri dari guru dan pengurus OSIS dari sebuah SMA Negeri favorit di kota yang terkenal sebagi kota pelajar itu. Dari awal acara aku hanya duduk diam sambil menyilangkan dua tanganku di dada karena jaketku tak mampu menahan hembusan angin, ditambah lagi posisiku yang tidak begitu dekat dengan api unggun. Mendengarkan mereka menceritakan cita-cita dan menyaksikan aksi teman-temanku yang ditunjuk secara acak oleh panitia untuk unjuk kemampuan, memang cukup menghibur. Dari berorasi, main gitar, berakting bak artis sinetron, menyanyi lagu hip hop bahkan aksi breakdance.
Aku berharap tidak ditunjuk ke depan hingga acara api unggun ini selesai. Biar aku dapat menikmati kebolehan teman-temanku yang baru kukenal beberapa hari ini. Namun sepertinya dari tadi aku sudah membuat penasaran panitia karena sikapku yang biasa-biasa saja, tidak tampak borju seperti kebanyakan lainnya. Tapi memang begitulah aku. Dugaanku benar! Pandangan mata pembawa acara mengarah dan beradu dengan mataku dan…
“Kamu, maju!” sambil mengarahkan telunjukknya lurus ke posisi dudukku.
Tiba-tiba saja aku seperti terserang demam panggung. Dengan agak gemetar aku sebutkan satu-persatu yang aku anggap perlu tentang diriku hingga…

“Namaku Arjuna Sahadewa. Aku biasa dipanggil Dewa. Rumahku di daerah… kayaknya nggak perlu kusebut nama daerahnya, percuma kalian juga nggak bakalan ada yang tahu daerah itu.”

“Pasti daerahnya belum tercantum di peta Indonesia,” sahut salah satu temanku.
“Ha…ha…ha…”
“Hu…hu…hu…”

“Zaman modern gini masih ada yang berpikir ndeso!” celetuk temanku yang dari awal memang bersikap sok kebarat-baratan.
Sorakan ini spontan dari teman-temanku saat kukatakan aku menyukai wayang, hobi main gamelan dan ingin menjadi dalang terkenal.
“Hu…KUNO!” semua bersorak mengejekku lagi.

“Kuno, memang, tapi aku senang dengan itu semua. Dengan seperti ini aku merasa benar-benar lahir di Indonesia dan dibesarkan di Indonesia. Tapi aku bangga. Cita-citaku ingin menjadi seorang dalang profesional yang mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia.” Mungkin itu sebuah kalimat pembelaan untuk diriku yang secara refleks keluar dari mulut yang nervous ini.

“Ngebet banget sih pingin jadi dalang, seperti nggak ada profesi lain aja,” teriak salah seorang teman.
Dari mana asal suara itu aku nggak mempedulikannya.
***
Kuhitung delapan bulan sejak acara api unggun itu aku masih saja menerima ejekan dan cemooh karena hobi dan cita-citaku. Aku lebih banyak memilih diam daripada mesti menanggapi mereka. Kadang-kadang justru Laras yang balik membalas mereka. Aku jadi tidak enak hati. Tapi memang hanya dia yang dari awal menghormati keinginanan dan ketertarikanku pada lembaran kulit binatang yang dibuat berkarakter sedemikian rupa itu, memberikan semangat padaku untuk tidak peduli dan terus maju. Hanya Laras, anak orang kaya yang senantiasa nampak bersahaja. Entah maksud apa dibalik sikapnya itu padaku.

Semua teman selalu menganggapku kuno, tradisional, sok jadi orang keraton. Aku nyesel banget kenapa semua kuungkapkan dengan berlebihan seolah aku benci dengan budaya mereka yang kebarat-baratan. Kenapa bapakku hanya mengenalkan wayang, gamelan dan karawitan saja. Aku juga ingin mengenal budaya barat. Hatiku berkecambuk nggak karuan seakan aku sedang krisis percaya diri, seakan impianku untuk menjadi seorang dalang sirna seketika ditelan ejekan teman-teman. Hanya Laras yang mau merelakan telinganya untuk mendengarkan ocehanku tentang wayang. Apa keinginanku yang sebenarnya?
***
Malam hari, di ruang tengah. Dengan secangkir teh hangat dan sedikit camilan yang sudah ibu sediakan di atas meja kayu yang beralaskan taplak meja bermotif bunga-bunga. Sambil nonton TV bersama, dengan volum TV yang agak pelan adalah waktu yang tepat untuk aku mulai berbicara pada bapak.

“Pak, Dewa mau bicara sama Bapak.”

“Dewa nggak ingin lagi jadi dalang.”

“Lho, kenapa?” tanya bapak ketika aku belum mengutarakan beberapa alasanku yang nggak masuk akal.

Saat itu aku sempat terbawa emosi karena teringat ejekan teman-teman di kelas yang tak henti-hentinya.

“Pokoknya Dewa tidak mau jadi dalang lagi. Itu kuno. Sekarang bukan zaman Walisongo lagi, bukan zaman karawitan dan gamelan. Dewa ingin seperti teman-teman yang lain. Dewa ingin menjadi gitaris seperti Dewa Bujana. Pokoknya Dewa nggak mau jadi dalang yang kerjaannya ngoceh sendiri di malam hari seperti orang gila.”

“DEWA!” bentak bapak.

“Kamu ini kenapa? Kalau nggak mau jadi dalang, kemampuan apa yang kamu punya Dewa! Dari kecil Bapak selalu mengajarimu tentang wayang biar kamu ada bekal untuk jadi seorang dalang. Lagipula kamu senangkan belajar wayang?” bapak membentakku lagi, seolah bapak dalam posisi yang paling benar.

“Bapak hanya mengajariku itu, jadi Dewa nggak punya kemampuan lain yang bisa dibanggakan. Kalau ingin jadi kayak Dewa Bujana aku kan bisa belajar gitar mulai dari sekarang.”

“Sudahlah, terserah kamu,” bapak terlihat marah, memalingkan mukanya dari wajahku sambil meneguk secangkir teh hangat.

“Nak, kamu pasti akan menemukan pilihan yang terbaik untuk dirimu sendiri,” ucapan terakhir bapak sebelum melanjutkan nonton TV.

Ibu yang hanya duduk di samping bapak tak mengucapkan sepatah kata apapun untuk membelaku. Hening, layaknya perang dingin sedang berlangsung.
***
Teng…teng…teng…!
Waktu yang paling kami tunggu, jam terakhir telah usai. Lalu lalang kendaraan umum di depan sekolah tak bisa dihindarkan. Suasana tiap pulang sekolah selalu seperti ini. Makin hari udara semakin panas, seiring makin banyaknya pohon yang ditebang, ditambah lagi polusi udara yang menyesakkan pernafasan. Hal-hal semacam ini jangan kamu tanyakan pada orang desa, karena mereka tidak mengenal polusi udara. Sambil berjalan bersama Laras di koridor menuju halte terdekat dari sekolah, obrolan santai pun kami langsungkan.

“Ras, kuno nggak sih, kalau aku ingin jadi seorang dalang.”

“Kuno? Kata siapa kuno, nggak lagi. Jarang-jarang ada anak muda yang punya cita-cita menjadi seorang dalang. Dari 100.000 pemuda mungkin cuma ada satu pemuda yang bercita-cita jadi dalang dan pemuda itu adalah kamu Dewa.”

“Apa yang kamu katakan itu tidak berlebihan?”

“Wah, kayaknya kamu memang benar-benar lagi krisis self confidence.”

“Kamu nggak mau kan budaya kita mati begitu saja atau diambil dan dimodifikasi oleh orang luar negeri, kemudian mereka mengaku bahwa budayanya lahir dari negerinya. Dengan kamu menjadi dalang, kamu bisa terkenal, lagipula kamu bisa menjaga keaslian budaya orang timur.”

“Tapi Ras, lama-lama aku nggak kuat mendengar ejekan Krisna dan teman-teman yang lain. Rasanya aku adalah orang yang tersisa dari zaman Raden Patah atau bahkan zaman Mataram Islam.”

“Ras, kenapa sih kamu selalu menghargai keputusanku dan memperhatikan kebimbanganku, nggak kayak teman-teman yang lain?”

“Dewa, dari halte ini, kamu jalan lurus, kira-kira 50 meter, kamu belok ke kanan. Kemudian kamu jalan lebih kurang 100 meter lagi, kamu akan menemukan kembali dirimu di sana.”

“Wa, duluan ya. Bus ku sudah datang.”

“Hei tunggu, pertanyaanku yang tadi belum kamu jawab.”
Dewa sudah tidak sempat lagi. Bus sudah melaju kencang sambil mengeluarkan kepulan asap hitam. Sambil berjalan dan menggaruk-garuk kepala. Dewa berpikir apa maksud ucapan Laras “Kamu akan menemukan dirimu kembali di sana.”
***
“SANGGAR PEDALANGAN SEMAR”

Itulah tulisan yang tertera di atas plakat yang menurutku termasuk tulisan yang kecil. Apalagi mataku minus. Ooo…Jadi tempat ini yang barusan diomongin Laras. Tempatnya sederhana sekali. Tapi aneh, kok banyak orang bule di tempat seperti ini. Aku sedikit ragu untuk melangkahkan kaki menuju tempat informasi.

“Good morning, Sir!” sapaku pada salah seorang bule.

“Selamat siang,” jawab bule itu.
Hah, gila, aku salah menyapa. Harusnya aku menyapa dengan Bahasa Indonesia.

“Selamat siang Mbak!” sapaku pada salah seorang cewek bule yang baru saja meletakkan sepedanya di tempat parkir.

“Sugeng siang, Mas!” jawab cewek bule itu dengan ramah.

“Aku salah lagi, harusnya aku menyapa tidak dalam Bahasa Indonesia tapi dengan Bahasa Jawa yang paling halus. Nggak kusangka orang bule lebih terbiasa dengan Bahasa Jawa daripada aku yang asli orang Jawa.

“Sugeng siang Mbak!” sapaku pada perempuan paruh baya yang ada di meja informasi.

“Siang Dik,” sapa perempuan yang berbaju batik itu.
Oh iya, aku masih pakai seragam putih abu-abu. Pantas saja dipanggil “dik”.

“Mbak, apa benar ini sanggar khusus orang yang mau belajar jadi dalang?”

“Ya benar. Adik mau mendaftar?”
Kok yang kulihat dari tadi cuma orang-orang bule yang masih muda. Tak satupun kulihat orang pribumi kecuali mbak nya yang jaga di meja informasi. Suasana mencekam, hening, sepi. Piranti wayang yang lengkap. Gamelan yang tertata rapi tanpa debu di atasnya menandakan seringnya gamelan ini digunakan.

“Dik, apa Adik mau mendaftar?”

“Ha, apa Mbak?” Dewa terperanjat, entah ke mana pikirannya sekarang. Seakan cewek yang sedang memainkan wayang itu menyedot perhatiannya. Cewek itu yang disapanya barusan saat dia menuju meja informasi.

“Adik mau mendaftar nggak?”

“Oh ya, sebentar Mbak, aku ingin melihat-lihat dulu.”
***
Dewa pun menghampiri cewek bule yang sedang memainkan wayang.

“Maaf Mbak, ganggu sebentar. Kenalkan namaku Arjuna,” sambil kuulurkan tanganku.

“Arjuna? Nama yang kuidamkan. Aku Stevy,” dia menjabat tanganku sambil mengenalkan namanya.

“Mbak sudah lama kursus ndalang di sini?” tanyaku pada cewek bule itu.

“Ya lebih kurang sudah satu setengah tahun.”

“Wah, lama juga ya. Pantas Bahasa Indonesianya sudah lancar.”

“Ada darah Indonesia?” tanyaku dengan penuh penasaran.

“Oh, tidak. Aku asli Jerman,” cewek bule itu menjawab dengan sedikit tawa dan senyum manis yang melekat di bibirnya.

“Ngomong-ngomong motivasi apa yang membuat Mbak belajar wayang dan pedalangan sampai ke Indonesia?”

“Jangan memanggilku Mbak. Panggil saja Stevy.”

“It’s Ok,” jawabku singkat.

“Kamu tahu makna lampu yang dipasang di atas dalang saat pementasan?”

“Tentu, artinya adalah cahaya atau sinar kehidupan,” jawabku dengan mantap.

“Kamu ngerti arti wayang?”

“Jelas aku tahu, artinya adalah bayangan.”

“Untuk yang terakhir kalinya aku tanya sama kamu Arjuna, kamu tahu makna gunungan yang dipasang di tengah-tengah wayang yang dimainkan nggak?”
“Of course, aku ngerti banget, arti gunung itu adalah dunia lengkap dengan isinya.”

“Setelah kamu jawab sendiri, kamu ngerti nggak motivasiku belajar seni pewayangan dan pedalangan?”

“Belum…tapi sebentar. Wayang sebagai cermin kehidupan di dunia,” jawabku sambil menerawang apakah yang barusan kukatakan itu benar atau tidak.

“Yap. Seni inilah yang mengajariku hidup. Filsafat hidup yang terkandung di dalamnya sangat dalam, karena itulah aku mempelajarinya. Arjuna adalah tokoh idolaku. Kalau seorang cewek pantas bernama Arjuna, maka aku akan menambahkan kata Arjuna di belakang namaku. Ha…ha…ha…,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ternyata kamu asyik juga ya diajak ngobrol,” kataku.

“Kenapa pilihan belajar bisa jatuh di Indonesia?”

“Kata grandma dan grandpa lebih baik belajar di Indonesia daripada negara lain, karena di Indonesia masih terjaga keasliannya. Lagipula bukannya wayang memang lebih berkembang di Pulau Jawa?”

“Berkembang di Pulau Jawa?” bisikku dalam hati.

“My parents sangat berharap, kalau aku balik nanti aku sudah bisa menjadi dalang wanita yang profesional.”

“Jadi karena itu kamu jauh-jauh dari Jerman ke Pulau Jawa hanya untuk belajar wayang dan dalang?” tanyaku sedikit nggak menerima alasan yang kurang logis itu.

“Yup,” jawab Stevy penuh keyakinan bahwa alasan itulah yang membuatnya terbang ke Bandara Soekarno Hatta.

“Stev, thanks banget kamu mau ngobrol sama aku.”

“Sama-sama. Apa kamu murid baru di sanggar ini? Kayaknya baru pertama kali ini aku melihatmu di sini?”

“Oh nggak kok. Aku bukan murid sanggar ini. Tadi cuma kebetulan lewat. Sekolahku dekat sini. Eh… tapi mungkin sebentar lagi aku bakal jadi murid baru di sanggar ini.”

“Aku pulang dulu, sudah sore!”
“See you next time!” Stevy mengucapkannya seakan aku memang akan bertemu lagi dengannya di lain waktu.
***
Kepulan asap rokok selalu menghiasai suasana di dalam kendaraan umum. Tidak jauh beda dengan kendaraan umum yang sekarang aku naiki. Ketika di dalam bus yang lumayan tidak sesak, kulihat seorang kakek tua yang menggunakan blangkon sebagi penutup kepalanya. Aku teringat akan perkataan bapak kemarin malam. Dan telah kutemukan jawabannya. Filsafat hidup itulah yang membuat orang tuaku selalu memotivasiku untuk belajar tentang dunia wayang. Dan aku pun telah menemukan jawaban dari ucapan Laras tadi siang. Memang benar, Stevy, cewek yang telah membuatku menemukan kembali diriku yang sebenarnya. Tapi sampai saat ini belum kutemukan jawaban mengapa Laras selalu mendukungku. Aku tidak berani berprasangka apapun padanya.
***
Suara riuh tepuk tangan memenuhi ruangan yang tidak sempit itu. Ini pertama kali Dewa mengikuti lomba dalang tingkat provinsi. Dengan latihan di Sanggar Pedalangan Semar secara maksimal, Dewa pun mendapatkan hasil yang maksimal pula. Dia mendapat juara pertama di ajang dalang pemula. Dengan seringnya ia mengikuti lomba, pengalaman berdalangpun makin banyak ia peroleh. Akhirnya impian untuk mengharumkan nama bangsa dengan wayang pun terwujud ketika dia liburan kenaikan kelas tiga. Saat liburan itu ia mengikuti lomba wayang di kota Holland. Informasi itu ia dapatkan dari Stevy, yang kakaknya kuliah di Belanda. Stevy pun mengikuti lomba itu. Tapi sayang, Stevy harus merelakan trophy juara pertamanya kepada Dewa. Stevy kalah dalam kefasihan berbahasa Jawa dan variasi suara dalang.

Setelah lomba itu, Dewa terpilih menjadi duta kebudayaan dan kesenian untuk mewakili Negara Indonesia. Dewa pun harus melanjutkan studi kelas tiga SMU-nya di ibukota negara. Ia pun harus rela meninggalkan teman terbaiknya yang selalu mendukungnya. Larasati, kamulah teman terbaikku.

Dewa telah mewujudkan impiannya. Sekarang tak ada satupun temannya yang berani mengejeknya karena hobinya yang suka main gamelan dan wayang. Hrapan Dewa cuma satu, dia ingin agar pemuda Indonesia mencintai budayanya sendiri yang telah ada.



Note: Cerpen di atas ditulis dalam rangka partisipasi Lomba Mengarang Essay dalam Bahasa Indonesia Tingkat Nasional tahun 2006. Lomba diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Alhamdulillah dapat juara 3. Ketika itu saya sedang awal kelas 3 aliyah di MAN 1 Surakarta. Namun, lomba atas nama MA Ali Maksum Yogyakarta (masa transisi saya pindah sekolah pasca gempa Yogyakarta Mei 2006).  Karena karya ini unpublished dari pihak penyelenggara, maka sengaja saya posting di wordpress ini agar lebih memberi manfaat.

sertifikat di atas sebagai bukti otentik karya, enggan disebut plagiat