Tampilkan postingan dengan label Serba serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba serbi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

The Real Tayo and Thomas, Mengajak Waf Naik Bus dan Kereta Api

Ditulis oleh: @elliyinayin

Public transportation is so much fun itulah konsep yang ingin saya tanamkan ke Wafa tentang transportasi umum.
Kereta Thomas

Bus Tayo
Anak siapa yang tidak mengenal bus Tayo dan kereta api Thomas? Jamak anak mengenal film kartun dengan peran utama Tayo si bus kecil ramah dan kereta api Thomas yang senang membantu. Karena hampir setiap hari Waf menonton Tayo (di TV) dan Thomas and his friends (di laptop) maka saya pun menjadi hapal seluruh soundtracknya baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris. Meskipun sebenarnya saya ingin menonton acara gosip, berita, atau sinetron (duh...ketahuan jiwa emak-emak nih) tapi saya ngalah demi tontonan yang sehat untuk anak.

Waf memang lebih sering naik motor (karena itu yang kami miliki) dan jarang naik mobil sehingga setiap kali diajak main sama budhe/pakdhe/ saudara lain dengan mengendarai mobil dipastikan Waf akan muntah beberapa kali di mobil. Usut punya usut, ternyata dia tidak kuat dengan AC. Jadi begitu terkena dingin AC maka perutnya langsung kembung dan berakibat muntah.

Keadaan sangat berbeda saat ia berada di Kelompok Bermain (KB) A Permata Hati Jebres Surakarta. Hampir setiap bulan ada kegiatan outing class yang mengharuskan ia berangkat dari sekolah menuju lokasi dengan menggunakan mobil, mini bus, atau bus. Kata Bu Yani, guru kelasnya, Waf sama sekali tidak nampak mual. Ia sangat semangat untuk naik bus, lagi dan lagi. Mabuk dan muntah pun tidak terjadi lagi.

Pasca pengambilan Laporan Perkembangan Anak Didik (LPAD) atau lebih sering dikenal dengan rapotan atau raport , saya terlanjur menjanjikan dia untuk naik Tayo (Bus Batik Solo Trans/BST). Meskipun tampak kurang fit pada hari tersebut, saya tetap memenuhi janji. Saya titipkan sepeda motor di sekolah Waf. Kemudian saya berjalan menuju halte terdekat. Saya yang buta rute bus kota berusaha mencari informasi. Ternyata tiket hanya seharga Rp 4.500 dan saya bisa berkeliling kota Solo hingga sampai Bandara Internasional Adi Soemarmo. Saya pun memilih rute kota. Waf sangat sabar menanti BST rute kota. Dia tampak begitu excited meskipun terlihat kurang sehat.

Sabar menanti BST
Tiket BST hanya Rp 4.500

Sengaja memilih kursi paling depan
Memilih tempat duduk paling depan agar dekat sopir bus adalah target saya. Tujuannya sederhana, agar ia dapat melihat Pak Sopir yang sedang menyetir serta menikmati suasana jalan dan tentunya menghindari mual. Saya pribadi masih harap-harap cemas soal kebiasaan mual dan muntah Waf saat berkendara. Berkeliling kota tanpa tujuan ternyata asyik juga. Saya hanya ikuti rute bus hingga berhenti di Halte Solo Grand Mall. Jauh, lebih dari 30 menit kami di dalam bus. Sepanjang perjalanan, ia diam, sembari ngomong berulang kali, “Naik Tayo ya Bu.” Itulah pengalaman perdana Waf naik bus kota bersama saya.



Otw Gembira Loka Zoo
Esoknya, ia minta naik Tayo lagi. Hal itu tidak mungkin saya penuhi. Lalu saya dan Bapaknya Waf menjanjikan liburan akhir tahun ke Gembira Loka Zoo di Yogyakarta dengan menaiki bus dan kereta api. Rasanya seperti backpacker bersama balita. Kami hanya bertiga. Berangkat menuju terminal Tirtonadi lalu naik Bus Mira ke arah Yogyakarta dan turun di Bandara Adi Sucipto. Kemudian oper dengan Bus Trans Jogja dari Maguwo sampai dengan depan Gembira Loka Zoo. Lima jam kami berada di kebun binatang. Puas, Waf sangat puas. Kami istirahat sejenak di masjid di luar kebun binatang, mandi, sholat, makan malam, lalu menuju ke Stasiun Maguwo.

Di stasiun ia melihat kereta api lalu lalang. Ia melihat Thomas dan Teman yang sesungguhnya. Kereta api Prameks jam terakhir maka otomatis seluruh kursi penuh. Saya menyuruh Waf agar duduk di bawah bersama saya. Di kereta api, dia tidak tidur sama sekali. Sesekali terlihat menguap dan mengantuk tapi ia bertahan menikmati laju Prameks ke arah Solo. Dia dipangku Bapaknya, sedangkan saya tak kuat menahan letih dan kantuk. Sepanjang perjalanan ia ceriwis terus, ngomong dan nyanyi terus menerus membuat mata khalayak tertuju kepada kami. Inilah konsekuensi memiliki anak kreatif dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Dinikmati saja kali ya, meski mulut kami berdua terkadang capek harus merespon setiap yang ia tanyakan dan ia komentari.

Hingga tiba di rumah, mabok dan muntah yang kami khawatirkan sama sekali tidak terjadi. Sepertinya rasa senang membuat ia lupa semuanya. Mengajak Waf melakukan perjalanan dengan angkutan umum merupakan salah satu cara yang ampuh untuk membiasakan dia berkendara selain motor pribadi dan tentunya melatih agar tidak mabuk-an. Saya sengaja mengajarkan dia naik angkutan umum sebelum dia tahu/sadar bahwa umumnya orang  menganggap naik public transportation  di Indonesia sebagai sesuatu yang “rendah”. Sedikit tips orang tua saya, kalau bepergian pusarnya ditutup koyok Salon Pas biar hangat terus.  Hal ini pun saya terapkan ke Wafa, hehe...Setidaknya membantu menghangatkan perut sekaligus mengurangi perut kembung.

Sebelum naik kereta Prameks dari Stasiun Maguwo ke Stasiun Balapan, sebenarnya Waf sudah pernah naik kereta api. Saat itu, kami sekeluarga penasaran dengan kereta api Werkudara yang merupakan kereta wisata dengan tujuan Stasiun Wonogiri. Waf pun kami ajak, meski saya merasa ini terlalu dini bagi Waf untuk diajak “dolan” ke Waduk Gajah Mungkur, tapi ya sudahlah jalan aja, bismillah sehat.

Waf juga sudah sempat menaiki kereta api Prameks arah Kutoarjo saat kami ada acara di rumah saudara. Ia pun menikmati semuanya. Sayangnya saat moment naik kereta api Werkudara dan Prameks Kutoarjo ia sama sekali belum mengerti apa itu “naik kereta api”.

Saya suka sekali dengan slogan BST, "Ayo naik bus, biar nggak macet". Pokok e using public transportation is so much fun ya Waf. Murah meriah, bersih, nggak capek, nggak panas, dan mengurangi kemacetan. Setiap kali macet maka saya katakan ke Waf, "Si Komo lagi lewat Waf." Ia pun akan bernyanyi Si Komo sampai usai.

Minggu, 25 Februari 2018

Ulun Bangga Memanggil Pian-Abah Mamak



foto abah mama edit
Abah (alm), saya, Mamak. Wisuda IAIN Surakarta 22 September 2012
Ditulis oleh @elliyinayin

Tulisan ini tidak ada maksud SARA. Hanya untuk sekedar mengenalkan identitas diri yang sering dipertanyakan oleh kanan kiri.



Tentu tak banyak anak yang mempertanyakan hal sepele mengapa kami memanggil orang tua dengan sebutan yang berbeda-beda. Ada yang memanggil dengan Bapak Ibu, Papa Mama, Abi Umi, Babe Enyak, Abah Umi, Pipi Mimi, Mama Mimi, Bapa Biyung, Daddy Mommy, dst. Apakah hal di atas hanya semata-mata kesewenangan orang tua ingin dipanggil si anak dengan sebutan apa?

Saya (+-2 tahun) digendong Abah

Ah... saya meragukan hal tersebut. Jika itu hanya kesewenangan orang tua atau sekedar kebiasaan di daerah tertentu dimana orang tua tinggal dan si anak dibesarkan, mengapa saya tak pernah bisa menjawab pertanyaan teman sekolah hingga saya kuliah? Pertanyaan sangat sederhana mengapa saya memanggil Abah Mamak, bukan panggilan sewajarnya di lingkungan sekolah saya seperti Bapak Ibu.

Tidak hanya teman sekolah, guru sekolah pun banyak yang bertanya. Mengapa saya tidak menggunakan istilah Abah Umi atau Abi Umi seperti orang keturunan Arab. Mengapa juga bukan Bapak Ibu atau Ayah Ibu seperti teman-teman sekolah yang lain yang asli Jawa? Semakin saya merasa aneh yaitu ketika masuk sekolah pasca liburan. Saya bercerita ke teman bahwa saya berlibur di rumah Ninik dan Kaik di Pasuruan. Teman saya malah bertanya, “Ninik itu siapa?”. Lalu saya jawab, “Ninik ya Ninik. Masak kamu nggak punya Ninik?” Itu jawaban saya saat masih kelas 1 SD. Karena pemikiran bahwa semua teman juga memanggil Ninik dan Kaik untuk sebutan Nenek dan Kakek. Sayangnya, saya sama sekali kami tidak pernah mendapat penjelasan di rumah terkait hal-hal di atas. Bahkan soal istilah makanan saja, terkadang saya dengan teman kuliah menjadi berselisih. Saya mengatakan bahwa ini paes pisang, sedangkan teman ngotot bahwa ini namanya nogosari. Eh, tenyata dua istilah itu mengacu pada jajanan yang sama.

Hingga suatu saat di usia 25, saya mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama. Saya bertemu banyak teman dari berbagai daerah di Nusantara. Salah satunya adalah Kak Tara yang bernama lengkap Siti Tarawiyah. Dia asli Banjarmasin. Dia bukan roomate saya ketika di asrama. Kebetulan saja saya sedang mampir di kamarnya dan mendengarkan dia telpon dengan anaknya. Di kamar itulah saya mencuri dengar istilah-istilah Abah Mamak, Kaik Ninik, guring, dst. Lalu saya sampaikan ke Kak Tara bahwa sejak kecil saya juga memanggil demikian namun kami tidak berlogat Banjarmasin. Untuk Paman, saya gunakan kata “Bah” yang berasal dari kata “Abah”. “Mak” dari kata “Mamak” untuk istilah tante. Saya juga masih menggunakan istilah Acil, Julag, Ulun, Pian, dan Ikam. Tidak hanya itu, jajanan sehari-hari saya masih sangat dekat dengan amparantatak, sarimuka, paes pisang (nogosari), pepesan, cucur, cincin, bingka pisang, dan bingka kentang. Masakan pun, saya masih menggunakan istilah Masak Habang untuk sejenis Rendang, Soto Banjar, Masak Ayam Kuning, Sate Banjar, dst. Saya bertanya ke Kak Tara. “Kak, mengapa saya memanggil Abah Mamak?” Lalu Kak Tara menjawab,”Ya karena kamu orang  Kalimantan, Banjarmasin Yin....”. Dengan intonasi bicara Kak Tara yang khas. “Kalau orang Banjarmasin, ya pasti manggilnya Abah Mamak,” sambungnya.



Saya memang pernah mendengar sekilas tentang perantauan orang Banjarmasin terkhusus Martapura yang menjadi pusat intan berlian. Mereka sengaja merantau jauh-jauh ke Jawa untuk berdagang intan permata, salah satunya di daerah Jayengan, Serengan. Entahlah kapan itu terjadi. Meski Ninik Kaik saya baik dari pihak Abah maupun Mamak memang lahir di Banjarmasin tapi Abah Mamak sudah lahir dan besar di Solo tepatnya Jayengan. Kakak saya nomor 1,2,3 sudah pernah diajak ke Martapura untuk silaturahmi ke para sesepuh. Tapi saya, kakak ke 4 dan 5 belum pernah diajak kesana.

Kampung Jayengan yang berada di Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, dulu banyak didominasi orang asli Banjarmasin. Mereka semua masih berbicara dengan Bahasa Banjar dan logat Banjarmasin yang sangat kental. Warung Banjar yang menyediakan berbagai makanan khas Banjar juga masih beroperasi hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, asimilasi dan akulturasi terjadi. Dulu, pemikiran orang lama harus menikahkan anak dengan sesama yang masih asli berdarah Banjarmasin. Tapi pemikiran di atas lama-lama tidak relevan. Jawa dan Banjarmasin pun berkolaborasi. Banyak dari mereka yang bersatu melalui pernikahan. Sehingga anak turunnya sudah bercampur Jawa-Banjar, seperti nasib anak saya, hehehehe...Kami pun juga mengadaptasi istilah, yang dulunya saya memanggil Ninik Kaik, kini anak saya memanggil Nenek-Kaik.



Pernah suatu saat saya makan di warung Banjar dengan menu favorit yaitu Soto Banjar. Sebelah saya Bapak-bapak. Saya tahu kalau dia tinggal di kampung sebelah. Namun saya tidak tahu namanya. Saya ngobrol dengan calon suami dengan menggunakan aku-kamu. Bapak tersebut lalu menanyakan dimana saya tinggal dan siapa nama Bapak saya. Lalu ia mengatakan, “Kalau bukan orang Banjar, nggak mungkin makan disini. Oalah ikam anaknya Bah xxx to?”. Saya jawab, “Nggih.” Ia pun melanjutkan dengan kata-kata yang menohok, “Nggak usah pakai aku-kamu, kayak artis di TV saja. Pakailah Ulun atau Sorong. Nanti tak laporin Abah kamu lho.”

Semenjak ketemu Kak Tara, saya sadar dan bangga ketika menyebut istilah Abah Mamak di depan orang lain. Meski teman saya mayoritas orang Jawa, tapi itu bukanlah alasan untuk mengganti Abah Mamak menjadi Bapak Ibu di depan mereka.

Selasa, 13 Februari 2018

Orang Baik Itu Masih Ada

Ditulis oleh @elliyinayin
Pada November dan Desember 2013, saya tinggal di sebuah asrama di Ciputat dikarenakan beasiswa dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Beasiswa tersebut mencakup uang makan dan jajan harian. Sabtu dan Minggu kami mendapat jatah libur , dan kamibebas untuk beraktifitas.

Saat itu hari Minggu, saya memang berencana untuk menemui mas ipar saya di salah satu gedung di sebelah gedung MPR DPR RI. Saya juga berencana berkeliling Jakarta dengan bus Transjakarta yang fenomenal itu bersama teman kamar saya, Linda. Saya sengaja membawa uang saku penuh dari panitia untuk hidup di bulan Desember dengan tujuan disetortunaikan di ATM. Faktanya, saya malah lupa mampir ATM, dan uang cash tersebut masih ada di dompet saya hingga siang hari.

Mereka orang-orang hebat yang menjadi partner belajar saya selama proses beasiswa pembibitan alumni. Linda berada di baris kedua dengan kerudung warna biru langit
Jakarta, Ibu kota NKRI, di sinilah tumplek blek orang mengais rejeki. Orang-orang berfikir hidup di Jakarta itu menjanjikan. Tapi saya kok hanya melihat tingkat kriminalitas yang makin hari makin meningkat saja. Terlepas dari berbagai pengamatan saya, setelah saya bertemu kakak ipar, saya melanjutkan perjalanan. Masih dengan Transjakarta, kami berkeliling mengikuti rute yang telah ditentukan Transjakarta. Akhirnya kami memutuskan untuk meluangkan waktu di Masjid Istiqlal, sholat Dzuhur dan istirahat sejenak.

Sebelum masuk Masjid, kami makan lontong sayur tepat di depan gerbang Masjid. Enak dan murah, recommended lah, :) Setelah itu kami menuju toilet, saling bergantian agar barang bawaan tetap dalam keadaan aman. Selanjutnya kami sholat Dzuhur. Pasca solat, saya sengaja mengambil Qur’an untuk mengisi waktu saja. Tanpa saya sadari, saat mengembalikan Qur’an, saya begitu ceroboh meninggalkan tas ransel berisi barang-barang termasuk dompet dan uang cash di dalamnya. Nothing happens, all is well saat itu. Lalu adzan Asar berkumandang, kami sholat jamaah. ENG ING ENG, ABRAKADABRA, setelah melipat mukena, saya merogoh tas ransel hingga bawah, mengobok-oboknya, dan seketika itu saya sadar bahwa dompet saya diambil orang yang ada di masjid (note: bukan dimaling ya, hanya dia ambil tanpa ijin saya).

Mengecek semua langkah kaki yang kami lewati, sudah. Lapor security masjid setempat juga sudah, yang ada kami malah dimarah-marahi. Hopeless. Saya sudah tidak bisa berpikir lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Saya sampaikan ke calon suami (sekarang sudah resmi suami) tentang hilangnya dompet saya. Dia menyarankan agar saya segera lapor polisi untuk membuat surat keterangan hilang. Ah.. benar sekali saran dia. Yang berharga itu bukan uang nya, bukan dompetnya, tapi kartu - kartu yang harus saya urus di Solo kemudian hari. Saya bertanya petugas Masjid, agar menunjukkan dimana kantor polisi terdekat. Jalan kaki kurang dari sepuluh menit, saya memasuki kantor polisi POLSUBSEKTOR PASAR BARU.

***

JENG JENG JENG, babak baru dimulai. (Saya, Polisi 1 dan Polisi 2)

Saya: "Sore Pak, saya mau buat surat kehilangan."

PL 1: "Yang hilang apa?"

Saya: "Dompet Pak."

PL 1: "Ya, saya buatkan sekarang."

PL 2: "Hilang dimana?"

Saya: "Masjid Istiqlal Pak."

PL 1: "Sebutkan Nama"

Saya: "Elliyina"

PL 1: "TTL"

Saya: (Pre memori)

PL 1: "Agama"

Saya: "Islam"

PL 1: "Alamat"

Saya: (Pre memori)

PL 2: "Lho orang Solo to?"

Saya: "Iya Pak."

PL 2: "Wah tonggo nu, aku orang Jogja."

Saya: "Hmmm," saya menggumam.

PL 1: "Yang hilang apa saja?"

Saya: "Kartu A, B, C, D, E, F, G"

PL 1 : "Coba tunjukkan KTP ke saya."

Saya: "Hilang Pak," saya mulai agak emosi. "Hilang semua Pak, semua ada di dompet."

PL 1: "Oh iya, bisa sebutkan No KTP, dan nomor-nomor yang kamu ingat?"

Saya: "Bla bla bla" (Alhamdulillah saya mencatat semua nomor yang beliau minta di note HP)

PL 2: "Lha sekarang tinggal dimana?"

Saya: "Di Ciputat Pak, dapat beasiswa."

PL 2: "Terus nanti pulang masih ada uang?"

Saya: "Ya ga ada, wong hilang semua.

Lin, kamu masih ada uang kan? (sambil nyikut)

Linda: "Ada."

Saya: "Gampanglah Pak nanti gimana."

***

Saya: "Sudah Adzan Magrib, solat sekalian aja yuk Lin."

Linda: "Jalan ke Masjid lagi?"

Saya: "Nggak, aku masih sakit hati dengan orang yang ngambil dompetku. Solat di kantor polisi aja. Ada Mushola to Pak di sini?"

PL 2: "Iya ada, kecil, silakan kalau mau solat."

Saat saya sudah wudu, Linda juga sudah wudu, tiba-tiba PL 2 ikut-ikutan masuk toilet. Eh beberapa detik kemudian, dia keluar dari toilet dan menyodorkan uang warna biru ke saya. Saya sama sekali tidak berniat menolak, tapi saya tidak bisa menerima secara langsung karena takut tidak sengaja tersenggol dan batal wudu. Kata PL 2, “Sudah terima saja, tidak apa-apa, nanti uang ini buat kamu pulang ke Ciputat.” PL 2 melempar uang di pangkuan saya.

Saat itu hati saya amat sangat trenyuh dengan kebaikan PL 2. Hari gini masih ada orang baik. Kenapa saya katakan baik, karena saya melihat ekspresinya yang begitu tulus memberikan bantuan. Tangannya begitu ringan. Wajahnya tidak menyimpan pamrih untuk dipuji. Sama sekali saya tidak menemukan ekspresi negatif pada wajahnya (Semoga Allah membalas kebaikannya berlipat-lipat). Dan saya juga dibebaskan dari biaya administrasi pembuatan surat kehilangan. Saya merasa beruntung. Saat itu juga saya ikhlas dengan hilangnya dompet dan uang cash di dalamnya. Uang cash dari negara yang kehalalannya wallahua’lam. Pak Polisi 2 adalah orang awam yang baik pertama yang saya temui.

Surat keterangan hilang dari kantor polisi



Selang beberapa minggu, masa belajar di Ciputat berakhir. Tanggal 24 Desember 2013, malam hari saya sudah sampai di rumah. Saya tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah surat yang diselipkan oleh pak Pos di bawah pintu rumah. Saat itu rumah kosong, karena Abah dan MamaK sedang Haul di Bangil. Well, saya buka surat tersebut, saya surprise bukan main. Saya temukan KTP saya di dalam amplop tersebut, dibungkus dengan sepucuk pesan. Saya deg-degan. Jangan- jangan si maling masih punya hati untuk mengembalikan KTP saya. Ternyata TIDAK. Pesan itu bertuliskan: Elliyina, saya menemukan KTP ini di got selokan di wilayah saya. Saya Ketua Rt xxx Rw xxx, daerah xxx. Karena saya melihat bahwa KTP ini masih berlaku maka saya kirim ke alamat tertera. Jika amplop ini sampai ke Elliyina, mohon hubungi nomor di bawah ini xxxxxxxxxx, saya atas nama xxx Ketua RT xxx.

Kaget sekaget kagetnya. Terimakasih ya Allah Engkau telah mengirim orang baik lagi kepadaku. Karena melihat cap pos surat dikirim berselang 2 minggu setelah dompet itu hilang. Dan saya benar-benar tidak menyangka KTP itu pulang sendiri ke alamatnya tanpa saya harus ribet dan ruwet ngurus pembuatan KTP baru. Pak RT tersebut adalah orang awam baik kedua yang saya temui.



Malam, saya tiba di asrama, teman-teman menanyakan tentang “Kok bisa dompet hilang di masjid.” Saya pun jawab sebisa mungkin. Selain takdir, saya memang tidak ingin menyalahkan si maling, karena saya merasa ceroboh meninggalkan tas, dan itu adalah salah saya. Dompet hilang adalah salah saya.

Yang mengesankan dan makin membuat saya ikhlas adalah:
  1. Teman yang bernama Munawir mengatakan: "Sudahlah Yin, ikhlaskan saja, mungkin yang mengambil dompetmu itu lebih butuh uang tersebut dibanding kamu."

  2. Teman yang bernama Al Farabi mengatakan: "Sudahlah Yin, ikhlaskan saja dan ambil hikmahnya dari kehilangan dompet."
Tapi yang gregeti adalah, saya bingung, pada bulan Desember tsb saya harus makan dengan uang siapa? #kosongkan tabungan#

Hikmah dari hilangnya dompet:
  1. Masjid merupakan tempat ibadah, namun di dalamnya tidak semua orang beribadah adalah orang baik. Hati-hati, makin ramai masjid, makin banyak maling.

  2. Kalau bepergian, bawalah uang cash secukupnya.

  3. Yakin bahwa setiap kesulitan (dompet hilang) pasti ALLAH memberikan kemudahan (Pak Polisi 2 dengan surat kehilangannya dan Pak RT bersama KTP saya)

  4. Jakarta memang ibukota, dan benar kata teman bahwa Ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri, hehehe...
Berikut alasan saya mengapa menuliskan kisah ini dengan cukup detail. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri bahwa akan mengabadikan kejadian tersebut dalam sebuah tulisan. Saya sangat terkesan dengan kebaikan Pak Polisi 2 dan Pak RT. Dua orang yang sama sekali tidak saya kenal, namun tulus membantu orang yang sama-sama tidak mereka kenal juga. Dompet dan isinya akhirnya tidak ada artinya bagi saya ketika saya menerima kebaikan yang disampaikan melalui hamba-hambaNya. Terima kasih. Semoga ALLAH membalas kebaikan kalian berlipat-lipat. Akhir kata, percayalah bahwa orang-orang baik itu masih ada.

Bakpao Ubi Ungu, Kolaborasi Usaha dan Usaha Kolaborasi

Ditulis oleh: @elliyinayin
Akhir-akhir ini sebelum saya resign dari kantor, saya memang sedang gencar mempromosikan bakpao ubi ungu dan pizza melalui akun media sosial yang saya punya (Facebook, Instagram, BBM dan WA). Banyak yang menanyakan secara pribadi apakah itu masakan saya sendiri atau bukan. Nah melalui tulisan ini saya ingin menjelaskan asal muasal saya jualan makanan sekaligus menjawab pertanyaan teman-teman.

Saya merupakan anak terakhir dari 6 bersaudara. Kami perempuan cantik semua. Cantik dengan karya masing-masing. Kakak saya yang kelima ternyata lebih dicintaiNya. Ia dipanggil di usia 26 tahun. Usia dimana saya melakukan ijab qobul dengan calon suami (sekarang sudah jadi suami). Yup, karena dia anak nomor 5 dan saya nomor 6, maka jarak 3 tahun menjadi alasan bounding kami terlalu kuat. Saya paling dekat dengan dia dibanding kakak-kakak yang lain yang jaraknya ada yang 7 hingga 17 tahun. Jungkir balik, mainan, gebuk-gebukan pakai bantal, pasaran, renang, dsb dengan dia. Shocked, saat salah satu saudara terdekat saya tidak ada. Empat yang lain sama, mereka saudara kandung saya, seAbah seMamak dan tentunya lahir dari rahim yang sama. Mau tidak mau saya juga harus dekat dengan mereka.

Singkat cerita, Mamak saya jualan roti pisang (tetangga dan pelanggan nyebut demikian, meski aslinya yang benar adalah kue bingka pisang-asli Banjarmasin) sejak saya TK. Kira-kira Mamak konsisten jualan roti pisang selama 25 tahun. Sempat on off ketika kakak (2011) dan Abah (2014) saya sakit. Mamak juga saya akui hebatnya untuk masak Soto Banjar, Kue Lumpur Kentang, Paes Pisang, Pepes Ikan, Masak Kuning, dan beberapa makanan khas lain. Pokok e jempol. Well, ternyata lagi, jiwa-jiwa masak itu secara tidak langsung menurun pada anak-anaknya kecuali saya. Mengapa demikian? Di mata saya semua kakak saya jago pegang pisau. Dan yang paling pintar untuk menakar dan uji coba masakan hanyalah si kakak nomor 3. Nah, masakan dialah yang selama ini saya jual berupa bakpao ubi ungu dan pizza.

Berulang kali saya nyatakan, apalah Yiyin ini, cuma bisa merebus air, itupun gosong. Masak iya saya masak bakpao seenak itu. Hehe… Sering saya katakan demikian untuk menunjukkan betapa kakak saya jauh lebih mampu masak dibanding saya. Meski faktanya, saya juga pintar lho bersinergi dengan pisau. Kalau ngga percaya bisa ditanyakan ke suami langsung ya….:)

Pada akhirnya, kakak nomor 3 yang memiliki dua anak kecil yang sedang aktif-aktifnya merasa uji coba bakpao ubi ungu layak untuk dipasarkan. Saya pun ikut mencicip, suami saya ikut mencicip juga. Sepakat bahwa rasanya enak. Harga terjangkau, masaknya mudah, sehat dan bergizi, dan masih sangat jarang ada dipasaran. Awalnya kakak pelan-pelan nitip di Fitnes center UNS (tempat fitnes tidak boleh gorengan, jadi bakpao adalah menu yang sangat tepat), ada satu dua orang saudara yang pesan untuk pengajian. Saya sendiri kadang-kadang pesan 10 pcs saja untuk konsumsi sendiri. Suami saya sempat mengatakan: “Bakpaonya kakak tuh enak lho, kenapa nggak dipasarkan lebih luas aja Dik?” Kata dia ke saya. Entah keberanian saya datang dari mana. Saya pasang DP di BBM, di WA dan nyetatus di Facebook. Saya beranikan diri untuk menghubungi nama-nama yang ada di kontak WA saya untuk sekedar mempromosikan jajanan sehat NO Gorengan yang disebut bakpao ubi ungu. Alhamdulillah, hampir semua pemesan mengatakan enak meski baru pertama kali mencicip bakpao ubi ungu. Semua testimoni pembeli saya screenshoot dan saya upload di facebook dan instagram. Ini sebagai bukti bahwa bakpao ubi ungu yang dimasak kakak melalui uji coba selama 6 bulan layak diterima di lidah customer, baik harga, rupa, tekstur dan rasa.

Saya sadar betul bahwa saya tidak bisa memasak. Maksud saya memasak untuk diberdayakan (baca: dijual). Sebaliknya, kakak mampu memasak namun keadaan tidak memungkinkan untuk memasarkan karena suami bolak balik ke Yogyakarta untuk bekerja. Nyata kedua anaknya tidak mungkin ia tinggal kerja di luar rumah karena luar biasa aktif dan sedang butuh perhatian yang banyak. Di sisi lain, saya yang tidak bisa memasak ini, memiliki jaringan yang lumayan. Didukung dengan bekerja sebagai staf humas, saya merasa dimudahkan untuk memasarkan ke sana dan sini. Kakak butuh orderan agar dapur juga selalu mengepul, saya pun juga butuh pendapatan sampingan agar motor saya bisa selalu berjalan.

Pada akhirnya, tampak sudah kolaborasi kami. Kolaborasi Usaha dan Usaha untuk Kolaborasi. Saya diuntungkan karena dapat “tambahan”, kakak pun untung karena bisa menambah pundi-pundi sedikit demi sedkit, customer untung karena mendapat varian baru dalam memilih jajanan sehat NO GORENGAN. Saya dan kakak meski kami beda generasi, kami tidak mengenal kompetisi (Y GENERATION  tuh kenalnya kolaborasi). Kami tak pernah bersaing, hampir dalam semua hal, kecuali akeh-akeh an Ngaji dan salat taraweh (8 rekaat tuh memalukan bagi kami, jika kami mampu 20 rekaat, ups malah mrembet sampai bahas Ramadan). Jadi, lihatlah anak-anak Mamak ini semua cantik pada karya masing-masing.




Kini varian rasanya sudah bertambah. Yang awalnya hanya coklat dan keju, sekarang bertambah menjadi coklat, keju, kacang hijau, kacang tanah, strowberri, dan blueberri. Per pcs hanya dipatok harga Rp 3.000 aja. Namun pemesanan minimal 1 kotak yang berisi 10 pcs. Karena bakpao ini homemade dan bukan frozen food, maka diharapkan pelanggan memesan minimal 1 hari sebelumnya. Oh iya, sebagai informasi, bakpao ubi ungu hanya bertahan selama 2 hari saja. Dengan penuh perjuangan wira wiri di Dinas Kesehatan Sukoharjo, akhirnya bakpao ubi ungu telah memperoleh Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga atau yang lebih sering dikenal dengan P-IRT. No P-IRT untuk bakpao ubi ungu adalah  3153311010837-22. Nomor tersebut akan berlaku hingga tahun 2022. Sudah jelas tidak ada yang perlu diragukan lagi terkait kandungan gizi dan jaminan kebersihan proses memasak ya. Rumah produksi kami di Desa Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo. Bagi yang berminat dapat menghubungi kami di WA 085742979600. Minat-ngiler-order-silakan.

Diedit di Ngoresan, Jebres, Surakarta 23 Januari 2018



Berikut sebagian testimoni bakpao ubi ungu...
Pesanan 20 box