Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

The Real Tayo and Thomas, Mengajak Waf Naik Bus dan Kereta Api

Ditulis oleh: @elliyinayin

Public transportation is so much fun itulah konsep yang ingin saya tanamkan ke Wafa tentang transportasi umum.
Kereta Thomas

Bus Tayo
Anak siapa yang tidak mengenal bus Tayo dan kereta api Thomas? Jamak anak mengenal film kartun dengan peran utama Tayo si bus kecil ramah dan kereta api Thomas yang senang membantu. Karena hampir setiap hari Waf menonton Tayo (di TV) dan Thomas and his friends (di laptop) maka saya pun menjadi hapal seluruh soundtracknya baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris. Meskipun sebenarnya saya ingin menonton acara gosip, berita, atau sinetron (duh...ketahuan jiwa emak-emak nih) tapi saya ngalah demi tontonan yang sehat untuk anak.

Waf memang lebih sering naik motor (karena itu yang kami miliki) dan jarang naik mobil sehingga setiap kali diajak main sama budhe/pakdhe/ saudara lain dengan mengendarai mobil dipastikan Waf akan muntah beberapa kali di mobil. Usut punya usut, ternyata dia tidak kuat dengan AC. Jadi begitu terkena dingin AC maka perutnya langsung kembung dan berakibat muntah.

Keadaan sangat berbeda saat ia berada di Kelompok Bermain (KB) A Permata Hati Jebres Surakarta. Hampir setiap bulan ada kegiatan outing class yang mengharuskan ia berangkat dari sekolah menuju lokasi dengan menggunakan mobil, mini bus, atau bus. Kata Bu Yani, guru kelasnya, Waf sama sekali tidak nampak mual. Ia sangat semangat untuk naik bus, lagi dan lagi. Mabuk dan muntah pun tidak terjadi lagi.

Pasca pengambilan Laporan Perkembangan Anak Didik (LPAD) atau lebih sering dikenal dengan rapotan atau raport , saya terlanjur menjanjikan dia untuk naik Tayo (Bus Batik Solo Trans/BST). Meskipun tampak kurang fit pada hari tersebut, saya tetap memenuhi janji. Saya titipkan sepeda motor di sekolah Waf. Kemudian saya berjalan menuju halte terdekat. Saya yang buta rute bus kota berusaha mencari informasi. Ternyata tiket hanya seharga Rp 4.500 dan saya bisa berkeliling kota Solo hingga sampai Bandara Internasional Adi Soemarmo. Saya pun memilih rute kota. Waf sangat sabar menanti BST rute kota. Dia tampak begitu excited meskipun terlihat kurang sehat.

Sabar menanti BST
Tiket BST hanya Rp 4.500

Sengaja memilih kursi paling depan
Memilih tempat duduk paling depan agar dekat sopir bus adalah target saya. Tujuannya sederhana, agar ia dapat melihat Pak Sopir yang sedang menyetir serta menikmati suasana jalan dan tentunya menghindari mual. Saya pribadi masih harap-harap cemas soal kebiasaan mual dan muntah Waf saat berkendara. Berkeliling kota tanpa tujuan ternyata asyik juga. Saya hanya ikuti rute bus hingga berhenti di Halte Solo Grand Mall. Jauh, lebih dari 30 menit kami di dalam bus. Sepanjang perjalanan, ia diam, sembari ngomong berulang kali, “Naik Tayo ya Bu.” Itulah pengalaman perdana Waf naik bus kota bersama saya.



Otw Gembira Loka Zoo
Esoknya, ia minta naik Tayo lagi. Hal itu tidak mungkin saya penuhi. Lalu saya dan Bapaknya Waf menjanjikan liburan akhir tahun ke Gembira Loka Zoo di Yogyakarta dengan menaiki bus dan kereta api. Rasanya seperti backpacker bersama balita. Kami hanya bertiga. Berangkat menuju terminal Tirtonadi lalu naik Bus Mira ke arah Yogyakarta dan turun di Bandara Adi Sucipto. Kemudian oper dengan Bus Trans Jogja dari Maguwo sampai dengan depan Gembira Loka Zoo. Lima jam kami berada di kebun binatang. Puas, Waf sangat puas. Kami istirahat sejenak di masjid di luar kebun binatang, mandi, sholat, makan malam, lalu menuju ke Stasiun Maguwo.

Di stasiun ia melihat kereta api lalu lalang. Ia melihat Thomas dan Teman yang sesungguhnya. Kereta api Prameks jam terakhir maka otomatis seluruh kursi penuh. Saya menyuruh Waf agar duduk di bawah bersama saya. Di kereta api, dia tidak tidur sama sekali. Sesekali terlihat menguap dan mengantuk tapi ia bertahan menikmati laju Prameks ke arah Solo. Dia dipangku Bapaknya, sedangkan saya tak kuat menahan letih dan kantuk. Sepanjang perjalanan ia ceriwis terus, ngomong dan nyanyi terus menerus membuat mata khalayak tertuju kepada kami. Inilah konsekuensi memiliki anak kreatif dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Dinikmati saja kali ya, meski mulut kami berdua terkadang capek harus merespon setiap yang ia tanyakan dan ia komentari.

Hingga tiba di rumah, mabok dan muntah yang kami khawatirkan sama sekali tidak terjadi. Sepertinya rasa senang membuat ia lupa semuanya. Mengajak Waf melakukan perjalanan dengan angkutan umum merupakan salah satu cara yang ampuh untuk membiasakan dia berkendara selain motor pribadi dan tentunya melatih agar tidak mabuk-an. Saya sengaja mengajarkan dia naik angkutan umum sebelum dia tahu/sadar bahwa umumnya orang  menganggap naik public transportation  di Indonesia sebagai sesuatu yang “rendah”. Sedikit tips orang tua saya, kalau bepergian pusarnya ditutup koyok Salon Pas biar hangat terus.  Hal ini pun saya terapkan ke Wafa, hehe...Setidaknya membantu menghangatkan perut sekaligus mengurangi perut kembung.

Sebelum naik kereta Prameks dari Stasiun Maguwo ke Stasiun Balapan, sebenarnya Waf sudah pernah naik kereta api. Saat itu, kami sekeluarga penasaran dengan kereta api Werkudara yang merupakan kereta wisata dengan tujuan Stasiun Wonogiri. Waf pun kami ajak, meski saya merasa ini terlalu dini bagi Waf untuk diajak “dolan” ke Waduk Gajah Mungkur, tapi ya sudahlah jalan aja, bismillah sehat.

Waf juga sudah sempat menaiki kereta api Prameks arah Kutoarjo saat kami ada acara di rumah saudara. Ia pun menikmati semuanya. Sayangnya saat moment naik kereta api Werkudara dan Prameks Kutoarjo ia sama sekali belum mengerti apa itu “naik kereta api”.

Saya suka sekali dengan slogan BST, "Ayo naik bus, biar nggak macet". Pokok e using public transportation is so much fun ya Waf. Murah meriah, bersih, nggak capek, nggak panas, dan mengurangi kemacetan. Setiap kali macet maka saya katakan ke Waf, "Si Komo lagi lewat Waf." Ia pun akan bernyanyi Si Komo sampai usai.

Kamis, 22 Februari 2018

Garasi Monce, Coffee Shop Dengan Instagramable Spot

Logo Garasi Monce
Ditulis oleh @elliyinayin
Pekan lalu (28/1) kami sekeluarga diundang oleh sepupu saya (Kak Mona) yang mengadakan syukuran soft opening Garasi Monce. Garasi Monce merupakan sebuah coffee shop dengan mengangkat konsep yang unik.

Secara menu, ia menyediakan kopi khas yang ia beri nama Kopi Monce. Sayang, kemarin saya belum sempat nyicip. Jadi ga bisa kasih testi rasa nih. Menu lainnya adalah makanan angkringan sebagaimana yang ada di angkringan yang lain seperti nasi bandeng, nasi oseng, nasi goreng, nasi teri, bihun, capcay,  telor puyuh, kepala ayam goreng, sate usus, mie goreng, mie rebus, krupuk, tempe goreng, bakwan, tahu goreng, dsb. Eits, untuk rasa jangan samakan dengan angkringan yang lain ya. Kak Mona yang saya kenal memang pandai memasak. Jadi racikan bumbunya jangan diragukan lagi. Soal harga, sudah pasti terjangkau.

Anak muda jaman now nggak afdol donk ya kalau sekedar kulineran saja. Rugi, rugi abis apalagi kalau sudah datang di Garasi Monce tapi cuma minum es teh doank. Ada hal lain yang tidak boleh kalian lewatkan yaitu take pictures. Disana tersedia spot-spot foto yang instagramable banget deh. Bukti fotonya seperti apa bisa dilihat di ig @Garasimonce. Mulai dari gerobaknya yang berwarna hitam kuning,  ceretnya dengan cat hitam putih kotak-kotak, design interior yang klasik abis, dsb. Semua sudut design interior dan ekseriornya bisa kalian jadikan background foto kekinian.

Sering kan ya kita makan di angkringan tapi di bawah kaki kita ada kucing yang mencari sisa makanan? Hehe...Di Garasi Monce ini kebersihannya dijamin. Nggak akan ada kucing yang nggodain kalian saat makan. Jarang-jarang lho ada angkringan yang punya toilet. Di Garasi Monce juga menyediakan toilet yang bersih dan para custumer diberi jalan sendiri tanpa harus melewati dapur untuk mengakses toilet.

Garasi Monce yang terletak di Kampung Griyan (belakang Solo Square)  memiliki nilai lebih tersendiri di banding  coffee shop yang lain. Pertama, dia sangat strategis karena berada di sebuah lingkungan masyarakat yang bukan perumahan. Kedua, tempat parkir yang luas. Terakhir adalah setiap saat Anda dapat melihat kereta api yang melintas. Suara berisiknya mesin kereta api tidak ada artinya jika dibanding semangat Waf untuk makan di Garasi Monce. Suara berisiknya juga tidak akan mengalahkan semangat kalian untuk mencoba menu di Garasi Monce, mencoba foto di spot yang instagramable, dan mencoba suasana baru di sebuah coffee shop. Sementara ini jam operasionalnya adalah Senin-Jumat 07.00-17.00 dan Sabtu-Minggu 07.00-22.00.

Jadi kalau bosan dengan coffee shop dan atau angkringan yang gitu-gitu aja, kini waktunya nyobain ngopi di Garasi Monce dengan suasana unik nan asyik.
Soft opening bersama keluarga besar

Selasa, 13 Februari 2018

Suami Cuti Sehari, Umbul Ponggok Tujuan Kami

Ditulis oleh: @elliyinayin

Suami cuti sehari (Senin 29/1), bingunglah kami menentukan tujuan untuk menghabiskan waktu selama 4 jam. Hanya empat jam saja lho ini, karena Waf sekolah dari pukul 08.00 sd 12.00 WIB. Biarkan kami pacaran sejenak ya...hehe...

Berembug dengan suami untuk mencari lokasi yang terjangkau jarak dan kantong, akhirnya kami memutuskan untuk ke Umbul Ponggok, Klaten. Pukul 9 kami berangkat menuju lokasi dengan menggunakan sepeda motor (Solo-Klaten +- 45 menit). Kami tidak membawa peralatan dan bekal macam-macam karena tujuan suami hanya untuk berenang dan ganti suasana saja. Inilah rute menuju Umbul Ponggok.


Meski ini bukan pertama kalinya, tapi kami selalu menikmati suasana Ponggok. Terakhir kali saya kesana saat hamil Waf 7 bulan, sekitar akhir tahun 2014. Namun sebelumnya saya juga sudah pernah kesana beberapa kali. Dari tahun ke tahun, Umbul Ponggok mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Ponggok Dulu dan Kini

Pertama kali saya ke Ponggok diajak calon suami, saya terkejut luar biasa. Bukan karena indahnya underwater Ponggok, bukan karena berenang bersama ikan-ikan tawar yang besar-besar tapi karena melihat orang mencuci karpet  dan mencuci baju di umbul tersebut. Bagaimana rasanya berenang sambil melihat buih sabun cuci baju? Bagaimana rasanya berenang sambil mendengar suara orang yang sedang menyikat karpet lalu membilasnya? Air untuk berenang dan mencuci karpet dan baju adalah air yang sama. Itu dulu, dulu sekali. Saya masih mengalaminya di tahun 2013. Bahkan saya masih mengalami tiket masuk seharga  Rp 3.000 tanpa ada petugas parkir dan tanpa ada pungutan untuk bilas mandi. Setiap kali kami datang sekitar pukul 08.00 WIB, Umbul Ponggok masih sangat sepi, terkadang petugas tiketpun belum datang. Semua warga pun bisa menerobos tanpa harus membeli tiket karena memang Umbul Ponggok belum memiliki pagar pembatas.

Seiring berjalannya waktu dan dengan kesadaran masyarakat setempat bahwa Umbul Ponggok merupakan sebuah potensi besar, nampaknya Pemda mulai turut serta dalam mengelola asetnya. Tidak hanya itu, saya menyakini bahwa terkenalnya Umbul Ponggok juga dikarenakan campur tangan media baik media elektronik  melalui liputan stasiun TV maupun media sosial seperti banyaknya orang yang mengunggah foto saat di Umbul Ponggok dan memberi hashtag #umbulponggok.

Wahana terbaru, Ponggok Warrior Rp 15.000/ 30 menit/ orang
Umbul Ponggok Kini

Apa saja yang berubah di Umbul Ponggok?

Tentuny harga tiket masuk donk. Harga regular adalah Rp 15.000. Dengan nominal tersebut kalian akan mendapatkan camilan seperti kripik bakso ikan nila atau sejenisnya. Camilan tersebut merupakan hasil olahan dari PKK Desa Ponggok. Rasanya enak di lidah.

Selanjutnya, tempat bilas mandi yang bersih dan berbayar. Kalau mandi tarifnya Rp 2.000. Tidak sekedar bersih, di kamar mandi tersebut sudah terdapat toilet, capstok/ cantolan baju, dan sabun mandi. Mantap kan. Jumlah kamar mandi pun berderet banyak banget. Jadi kalian tidak perlu khawatir soal antri mandi. 

Tempat persewaan pelampung
Ada persewaan camera, jasa cameramen, dan juga persewaan pelampung. Jadi nggak ada alasan untuk mengatakan, “Duh, nggak punya camera underwater.” “Hiks, aku nggak bisa berenang.” Di sana semua sudah tersedia. Rugi, rugi banget terkhusus kalian yang dari luar kota, sudah sampai Umbul Ponggok tapi nyia-nyiain kesempatan foto-foto underwater. Bahkan Umbul Ponggok punya slogan –Bunakennya Klaten-Jawa Tengah lho. Itu karena saking indahnya alam underwater Umbul Ponggok.

Berikut ini saya sertakan link yang saya dapat dari brosur www.umbulponggok.co.id. Di website tersebut sudah tertera segala rincian harga, harga paketan, harga persewaan dan segala fasilitas yang akan didapat oleh pengunjung. Pengunjung tinggal memilih sesuai budget yang telah dianggarkan. Saya juga sertakan link intagram dari umbul ponggok  sebagai bukti foto-foto para pengunjung yang kece abis. Sebagai referensi lain kalian juga dapat mengakses website ini.

Secara pribadi saya sangat mengapresiasi perkembangan dan pengelolaan yang baik dan sehat.  Itulah bukti sinergi antara pemda dan masyarakat yang menguntungkan kedua pihak. Umbul Ponggok yang sekarang, bukanlah Umbul Ponggok yang dulu. So, nggak perlu jauh-jauh ke Bunaken, di Klaten juga punya Bunaken.

Akhirnya pukul 12.15 kami menjemput Waf di sekolah. Cuti pun usai. Kami kembali ke dunia nyata bahwa kami telah diamanahi Waf yang sangat kreatif dan sedang di usia emas. Next time kami akan mengajakmu Waf.

Mbah, Ayo Besok Naik Haji



Ditulis oleh: @elliyinayin

Setiap akan outing class, sepertinya Wafa selalu menyambut dengan gembira. Outing class sudah terjadwal. Misal bulan ini renang, bulan depan outbound, bulan selanjutnya kunjungan ke kebun binatang dst. Semua kegiatan tetap menyesuaikan materi di kelas. Jadi saya yakin kalau outing class pasti ada manfaatnya. Toh kami selaku wali murid tidak dibebani biaya lagi karena semua biaya kegiatan sudah dibayar di awal.

Hari itu saya mendapatkan informasi via grup WA bahwa besok ananda akan melaksanakan manasik haji di Donohudan, Boyolali. Sudah ada catatan bahwa anak harus membawa apa dan apa, tidak boleh membawa ini dan itu, serta mengenakan kerudung dan baju putih. Puyeng lah saya. Waf tidak memiliki baju putih maupun kerudung putih. Masak iya sih hanya untuk moment 1 kali di kegiatan sekolah saya harus membelikan baju baru? hehehe....Tak kehilangan ide, saya japri kakak-kakak saya untuk cari pinjaman  baju dan jilbab putih. “Ini ada, semoga tidak kegedean. Ini dulu dipakai oleh Jien (ponakan saya) juga untuk manasik haji saat dia TK,” kata kakak saya no.2. Alhamdulillah dapat baju pinjaman. Kerudung juga dapat pinjaman dari Nenek. Hemat sedikit lah ya,,,jiwa emak-emak  mulai muncul nih.

Malam itu kebetulan Mbah Kakungnya Waf sedang berkunjung di rumah. Waf dengan riang mengatakan, “Mbah, ayo besok naik haji.” Mbah Kakungnya Waf sudah pernah umroh 1 kali namun belum berangkat haji (semoga list calon jemaah hajinya segera naik ya, Amin). Beliau usianya lebih dari 72 tahun. Simbahnya langsung tanya, “Apa Nduk? Kemana?”. Saya pun menjelaskan bahwa Waf ngajak jenengan naik haji besok pagi. Kalau saya berada di posisi simbah, pasti saya akan menangis seketika. Seorang anak yang belum mengerti naik haji, seorang anak yang belum paham perjuangan para calon jamaah haji, dengan entengnya mengajak naik haji. Waf memaknai bahwa naik haji adalah jalan-jalan naik bus. Nampaknya kata-kata “ayo naik haji” ke simbahnya seperti gurauan belaka. Namun tidak bagi saya. Seketika Waf mengucap, “ayo naik haji  Mbah”, saya langsung mengAmini.

Dengan kostum serba putih yang saya dapat dengan usaha meminjam, pagi-pagi Waf mengatakan ke Bapaknya, “Waf mau naik haji. Ayo Pak naik haji sama Waf.” Berulang kali ia katakan hingga akan berangkat ke sekolah. Perjalanan menuju sekolah, saya berulang kali mengucap kalimat talbiyah di motor. Mengenalkan Waf dengan jawaban “Labbaik” , kita segera penuhi panggilan ke Baitullah.




Sepulang dari manasik haji, Waf masih memiliki cerita yang sama.

“Waf tadi naik haji Bu”

“Waf tadi lari-lari disana Bu”

“Waf tadi naik haji sama Bu Yani sama Bu Muti”

“Waf tadi naik haji naik bus”

“Waf tadi naik haji, Ibu nggak diajak”

Apakah yang dimaksud lari-lari adalah Sa’i dan tawaf, atau dia berlari sesuka hati. Saya tidak mengerti.

OMG, saya harus tetap tersenyum dan selalu tampak bahagia meski ceritanya akan selalu sama. Saya berusaha merespon sepositif mungkin agar cerita itu tetap mengalir lancar dari bibir mungilnya.



Keesokannya, cerita masih sama.

Bulan berikutnya, LPAD pun datang. Saya menerima foto dia dengan didandani kostum ihram. Ya ampun, lucunya luar biasa. Dan kata Bu Guru, hanya ada 4 anak dari semua siswa KB A yang mau foto dengan kostum putih-putih. Makin Alhamdulillah.


Bulan berikutnya, jangan dikira Waf lupa dengan manasik haji. Malah tambah terkenang, karena ada materi “Ka’bah diserang Raja Abrahah”. Di rumah ia katakan, “Disana lho Bu, di naik haji ada Ka’bah. Ka’bahnya diserang Raja Abrahah”. Setiap lihat foto manasik haji, ia juga mengatakan hal yang serupa, seputaran manasik haji.



Bulan berikutnya, Februari 2018, tak sengaja ia menemukan foto saya dan neneknya dengan latar belakang Ka’bah. Ia makin excited dan pura-pura bertanya. “Ini apa Bu? Ini apa? Ini gambar apa?”. Saya tanya balik, “Itu gambar apa Waf?” Ia menjawab, “Gambar Ka’bah”. Saya informasikan ke dia bahwa Ibu dan Nenek dulu pernah ke Ka’bah. Titik. Usai sudah cerita Ka’bah dan naik haji.

Hal inilah yang saya sukai dari kegiatan outing class. Kenangan di lokasi dan apa yang ia lakukan begitu tertancap tajam di memorinya. Doakan kami sekeluarga agar dapat segera naik haji. Kami juga turut mendoakan agar para Guru di KB TK Permata Hati Jebres Surakarta segera dipanggil untuk ke Baitullah, tidak hanya mengantarkan anak-anak manasik haji setiap tahun. Amin.