Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Apa Yang Harus Diketahui dan Dilakukan Ibu Saat Mendekati Masa Persalinan?

Ditulis kembali oleh @elliyinayin

Mendekati hari persalinan atau masa masa Hari Perkiraan Lahir (HPL) adalah saat yang semakin mendebarkan bagi seorang calon ibu dan ayah, lebih-lebih menanti anak pertama. Ibu dan Ayah harus meminimalkan rasa panik. Ketahuilah tanda bayi akan lahir. Berikut sedikit panduan bagi ibu yang menanti masa persalinan.

Tanda bayi akan lahir
  • Perut mulas secara teratur
  • Mulasnya sering dan lama
  • Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir
  • Keluar air ketuban dari jalan lahir
  • Jika muncul salah satu tanda di atas maka suami atau keluarga harus segera membawa ibu hamil ke fasilitas layanan kesehatan

Proses melahirkan (persalinan)
  • Bayi biasanya lahir 12 jam sejak mulas teratur yang pertama. Ibu masih boleh makan, minum, buang air kecil dan berjalan
  • Jika terasa sakit, tarik nafas panjang lewat hidung dan keluarkan lewat mulut
  • Jika terasa ingin buang air besar, segera beri tahu bidan/dokter
  • Bidan/dokter akan menyuruh ibu mengejan. Ikuti perintahnya
  • Begitu bayi lahir, letakkan bayi di dada ibu. Biarkan ia berusaha mencari puting susu ibunya (inisiasi menyusu dini)
  • Tindakan ini bisa mencegah perdarahan dan merangsang keluarnya ASI

Masalah pada persalinan
  • Perdarahan lewat jalan lahir
  • Tali pusar atau tangan bayi keluar dari jalan lahir
  • Ibu tidak kuat mengejan
  • Ibu kejang
  • Air ketuban keruh dan berbau
  • Ibu gelisah
  • Ibu merasakan sakit yang hebat
  • Ikuti semua nasihat bidan/dokter. Suami atau keluarga harus selalu mendampingi

Seluruh tulisan di atas bersumber dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia atu lebih sering kita kenal dengan buku pink

Minggu, 25 Februari 2018

Ulun Bangga Memanggil Pian-Abah Mamak



foto abah mama edit
Abah (alm), saya, Mamak. Wisuda IAIN Surakarta 22 September 2012
Ditulis oleh @elliyinayin

Tulisan ini tidak ada maksud SARA. Hanya untuk sekedar mengenalkan identitas diri yang sering dipertanyakan oleh kanan kiri.



Tentu tak banyak anak yang mempertanyakan hal sepele mengapa kami memanggil orang tua dengan sebutan yang berbeda-beda. Ada yang memanggil dengan Bapak Ibu, Papa Mama, Abi Umi, Babe Enyak, Abah Umi, Pipi Mimi, Mama Mimi, Bapa Biyung, Daddy Mommy, dst. Apakah hal di atas hanya semata-mata kesewenangan orang tua ingin dipanggil si anak dengan sebutan apa?

Saya (+-2 tahun) digendong Abah

Ah... saya meragukan hal tersebut. Jika itu hanya kesewenangan orang tua atau sekedar kebiasaan di daerah tertentu dimana orang tua tinggal dan si anak dibesarkan, mengapa saya tak pernah bisa menjawab pertanyaan teman sekolah hingga saya kuliah? Pertanyaan sangat sederhana mengapa saya memanggil Abah Mamak, bukan panggilan sewajarnya di lingkungan sekolah saya seperti Bapak Ibu.

Tidak hanya teman sekolah, guru sekolah pun banyak yang bertanya. Mengapa saya tidak menggunakan istilah Abah Umi atau Abi Umi seperti orang keturunan Arab. Mengapa juga bukan Bapak Ibu atau Ayah Ibu seperti teman-teman sekolah yang lain yang asli Jawa? Semakin saya merasa aneh yaitu ketika masuk sekolah pasca liburan. Saya bercerita ke teman bahwa saya berlibur di rumah Ninik dan Kaik di Pasuruan. Teman saya malah bertanya, “Ninik itu siapa?”. Lalu saya jawab, “Ninik ya Ninik. Masak kamu nggak punya Ninik?” Itu jawaban saya saat masih kelas 1 SD. Karena pemikiran bahwa semua teman juga memanggil Ninik dan Kaik untuk sebutan Nenek dan Kakek. Sayangnya, saya sama sekali kami tidak pernah mendapat penjelasan di rumah terkait hal-hal di atas. Bahkan soal istilah makanan saja, terkadang saya dengan teman kuliah menjadi berselisih. Saya mengatakan bahwa ini paes pisang, sedangkan teman ngotot bahwa ini namanya nogosari. Eh, tenyata dua istilah itu mengacu pada jajanan yang sama.

Hingga suatu saat di usia 25, saya mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama. Saya bertemu banyak teman dari berbagai daerah di Nusantara. Salah satunya adalah Kak Tara yang bernama lengkap Siti Tarawiyah. Dia asli Banjarmasin. Dia bukan roomate saya ketika di asrama. Kebetulan saja saya sedang mampir di kamarnya dan mendengarkan dia telpon dengan anaknya. Di kamar itulah saya mencuri dengar istilah-istilah Abah Mamak, Kaik Ninik, guring, dst. Lalu saya sampaikan ke Kak Tara bahwa sejak kecil saya juga memanggil demikian namun kami tidak berlogat Banjarmasin. Untuk Paman, saya gunakan kata “Bah” yang berasal dari kata “Abah”. “Mak” dari kata “Mamak” untuk istilah tante. Saya juga masih menggunakan istilah Acil, Julag, Ulun, Pian, dan Ikam. Tidak hanya itu, jajanan sehari-hari saya masih sangat dekat dengan amparantatak, sarimuka, paes pisang (nogosari), pepesan, cucur, cincin, bingka pisang, dan bingka kentang. Masakan pun, saya masih menggunakan istilah Masak Habang untuk sejenis Rendang, Soto Banjar, Masak Ayam Kuning, Sate Banjar, dst. Saya bertanya ke Kak Tara. “Kak, mengapa saya memanggil Abah Mamak?” Lalu Kak Tara menjawab,”Ya karena kamu orang  Kalimantan, Banjarmasin Yin....”. Dengan intonasi bicara Kak Tara yang khas. “Kalau orang Banjarmasin, ya pasti manggilnya Abah Mamak,” sambungnya.



Saya memang pernah mendengar sekilas tentang perantauan orang Banjarmasin terkhusus Martapura yang menjadi pusat intan berlian. Mereka sengaja merantau jauh-jauh ke Jawa untuk berdagang intan permata, salah satunya di daerah Jayengan, Serengan. Entahlah kapan itu terjadi. Meski Ninik Kaik saya baik dari pihak Abah maupun Mamak memang lahir di Banjarmasin tapi Abah Mamak sudah lahir dan besar di Solo tepatnya Jayengan. Kakak saya nomor 1,2,3 sudah pernah diajak ke Martapura untuk silaturahmi ke para sesepuh. Tapi saya, kakak ke 4 dan 5 belum pernah diajak kesana.

Kampung Jayengan yang berada di Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, dulu banyak didominasi orang asli Banjarmasin. Mereka semua masih berbicara dengan Bahasa Banjar dan logat Banjarmasin yang sangat kental. Warung Banjar yang menyediakan berbagai makanan khas Banjar juga masih beroperasi hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, asimilasi dan akulturasi terjadi. Dulu, pemikiran orang lama harus menikahkan anak dengan sesama yang masih asli berdarah Banjarmasin. Tapi pemikiran di atas lama-lama tidak relevan. Jawa dan Banjarmasin pun berkolaborasi. Banyak dari mereka yang bersatu melalui pernikahan. Sehingga anak turunnya sudah bercampur Jawa-Banjar, seperti nasib anak saya, hehehehe...Kami pun juga mengadaptasi istilah, yang dulunya saya memanggil Ninik Kaik, kini anak saya memanggil Nenek-Kaik.



Pernah suatu saat saya makan di warung Banjar dengan menu favorit yaitu Soto Banjar. Sebelah saya Bapak-bapak. Saya tahu kalau dia tinggal di kampung sebelah. Namun saya tidak tahu namanya. Saya ngobrol dengan calon suami dengan menggunakan aku-kamu. Bapak tersebut lalu menanyakan dimana saya tinggal dan siapa nama Bapak saya. Lalu ia mengatakan, “Kalau bukan orang Banjar, nggak mungkin makan disini. Oalah ikam anaknya Bah xxx to?”. Saya jawab, “Nggih.” Ia pun melanjutkan dengan kata-kata yang menohok, “Nggak usah pakai aku-kamu, kayak artis di TV saja. Pakailah Ulun atau Sorong. Nanti tak laporin Abah kamu lho.”

Semenjak ketemu Kak Tara, saya sadar dan bangga ketika menyebut istilah Abah Mamak di depan orang lain. Meski teman saya mayoritas orang Jawa, tapi itu bukanlah alasan untuk mengganti Abah Mamak menjadi Bapak Ibu di depan mereka.

Selasa, 20 Februari 2018

Bancakan dan Interaksi Sosial Anak

Ditulis oleh @elliyinayin
Siang itu ruang tamu rumah kami dipenuhi oleh anak kecil usia SD dan balita yang didampingi oleh orang tuanya. Mereka duduk rapi menanti bancakan yang akan dibagikan setelah berdoa bersama. Mereka datang dengan pakaian seadanya layaknya saat bermain, dan tidak membawa bingkisan apa pun. Hadir pula para handai taulan dan sahabat dekat kami. Putri kami pun tampil apa adanya, dengan baju pink tanpa aksesoris apa pun. Di atas tikar, tersaji hidangan sederhana berupa nasi bancakan yang telah ditata sedemikian rupa di atas pincuk daun pisang. Karak, tahu dan tempe bacem, serta ayam goreng pun dihidangkan sebagai lauk. Sebagai tambahan, kami siapkan martabak mini dengan topping yang menarik.

Di depan Rumah Nenek (Jayengan, Surakarta)
Hari itu kami mengadakan tasyakuran ulang tahun putri kami yang genap berusia satu tahun. Tasyakuran sengaja digelar di rumah saja. Tidak ada undangan tertulis yang dibagikan kepada para tetangga maupun saudara. Pernak-pernik pesta ulang tahun pun sengaja kami hindari. Sebagai tuan rumah, kami berharap tidak ada bingkisan atau kado yang diberikan untuk putri kami. Kami lebih memilih untuk tasyakuran dengan tradisi bancakan. Menantikan doa-doa berdatangan dari kebersahajaan.

Bancakan merupakan sebuah tradisi kenduri yang masih dilakukan sebagian orang. Dalam tradisi bancakan, hidangan yang disajikan adalah nasi putih, berbagai sayuran seperti timun, tauge, buncis, wortel, bayam, kenikir, kacang panjang yang direbus lalu dicampur dengan urap kelapa parut yang telah dibumbui. Biasanya juga dilengkapi dengan telur rebus. Nasi bancakan terkadang disebut juga dengan nasi gudangan atau nasi urapan.

Awalnya tradisi bancakan adalah sebuah upacara sederhana masyarakat Jawa untuk menyertai tahapan perkembangan seorang anak. Biasanya dilakukan untuk memperingati hari lahir anak berdasarkan hari pasaran pada penanggalan Jawa, atau yang biasa disebut dengan wetonanBancakan dilaksanakan sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan berbagai nikmat, khususnya nikmat usia dan keselamatan.

Seiring berjalannya waktu, tradisi bancakan dulu dan kini pun berubah secara fisik. Dulu bancakantak lengkap tanpa penyajian tumpeng berupa gunungan nasi yang dibentuk kerucut disertai hidangan sayur dan lauk pauk yang lezat. Namun, kini bancakan tak selalu menyajikan tumpeng. Bukan urusan ada atau tidaknya tumpeng dalam tradisi bancakan yang kami selenggarakan, tapi lebih kepada tujuan diadakannya bancakan.

Bersama para tetangga dan saudara
Interaksi sosial anak dalam bancakan

Saat putri kami berusia 40 hari, kami pun mengadakan bancakan 7 hari setelah aqiqahBancakan di kampung, lagi dan lagi. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi kami mengapa menyelenggarakan bancakan, bukan pesta ulang tahun yang meriah untuk si kecil.

Pertamabancakan adalah pengajaran hidup. Penting bagi orangtua mengajarkan kesederhanaan dalam hidup, tidak berlebihan. Cukup sak madya, kata orang Jawa. Mengajari anak untuk selalu rendah hati kepada siapapun, tidak menyombongkan apa yang dia atau orangtuanya miliki. Selain itu, sudah seharusnya orangtua mengajarkan akan rasa syukur yang setiap saat bisa dipanjatkan melalui berbagai cara, salah satunya adalah berbagi nasi bancakan dengan para tetangga dan saudara tanpa mengharapkan pamrih, Murni untuk berbagi kebahagiaan saja dalam suasana yang akrab dan erat. Dengan segala kemewahan perayaan, apa yang sebenarnya ingin diajarkan kepada anak? Toh acara heboh maupun tidak, anak usia balita belum paham dengan makna kemeriahan pesta. Perlu disadari bahwa orang tua dan keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam penguatan karakter anak. Setiap sikap dan perilaku anak merupakan cerminan apa yang diajarkan dan dibiasakan oleh orangtua.

Kedua, melatih kepekaan sosial anak. Intensitas interaksi sosial anak sangat bergantung kepada seberapa sering orangtua mengajak si anak untuk bertemu orang lain yang tinggal di luar rumahnya. Jiwa sosial anak bukanlah sebuah sulap yang terwujudkan dalam sekejap bisa, tetapi butuh waktu lama untuk menjadikannnya peka akan lingkungan sekitar. Berkunjung atau silaturahim ke sanak saudara atau teman-teman si orangtua bisa menjadi salah satu cara untuk mengenalkan anak kepada orang lain. Bancakan menjadi salah satu media yang jitu untuk melatih interaksi sosial anak. Saat diteriakkan, “Ayo cah, rene, ono bancakan!”, anak-anak kecil langsung berkumpul.

Mereka duduk rapi. Ikut mendoakan dan berharap akan keselamatan. Cukup, tanpa ritual ini-itu. Dengan berkumpulnya anak-anak kecil, maka secara otomatis akan terjadi interaksi sosial yang dapat berujung pada pengasahan jiwa sosial anak. Interaksi tersebut bisa dalam bentuk bermain atau bahkan saling berebut mainan maupun makanan. Di sinilah anak akan belajar berbagi dan saling peduli, bahwa “Aku teman dia, dan dia adalah temanku. Jika dia disakiti, maka aku juga akan sakit dan sebaliknya". Karena anak kita juga butuh teman sebaya, jadi sebagai orang tua sudah seharusnya wajib mengenalkan anak balitanya kepada lingkungan terdekat.

Tidak hanya sampai disitu, dengan bancakan, kita dapat mengumpulkan sanak saudara di rumah, dengan suasana akrab tanpa jarak. Mengenalkan anak kita lebih dekat kepada kakek-neneknya yang tidak serumah, sepupunya, paklik, bulik, pakdhedan budhe, serta saudaranya yang mungkin jarang bertemu. Anak makin mempunyai banyak kesempatan dalam berinteraksi, baik dengan teman seusianya maupun saudara terdekatnya.

Ketiga, mengenalkan tradisi atau identitas. Sultan Takdir Alisyahbana mengatakan kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir. Bancakan sendiri merupakan bagian dari kebudayaan yang mencerminkan cara pikir orang Jawa yang suka menolong dan bergotong royong. Dengan mengadakan bancakan, maka secara tidak langsung kita telah mengenalkan kepada anak tentang asal usul kita, dan ikut melestarikan sebuah tradisi yang bisa jadi kini kian meluntur atau dianggap kuno. Padahal dalam sebuah tradisi, banyak sekali makna-makna simbolis yang terkandung di dalamnya.

Semoga tradisi bancakan dapat lestari di kalangan orangtua untuk mengajarkan makna kesederhanaan dalam hidup dan melatih kepekaan sosial anak. Perlu diingat, karakter anak dibentuk dari rumahnya, keluarganya. Keluarga sebagai rumah pengajaran urip.




Note: Tulisan di atas merupakan hasil perenungan saya setelah mengadakan bancakan di rumah dalam rangka ulang tahun Wafa yang pertama (28 Februari 2016). Tulisan yang asli saya kirim dan telah dimuat di http://theurbanmama.com/articles/bancaan-dan-interaksi-sosial-anak-w58132.html

Selasa, 13 Februari 2018

Pengenalan Gender Pada Anak Balita

foto taman cerdas
 Waf  dengan tali minum di leher bersama teman-teman dan Bu Guru di Taman Cerdas Jebres Surakarta 2/2/2018
Ditulis oleh: @elliyinayin

Laki-laki dan Perempuan*

Karena aku laki-laki

Rambut pendek, baju koko, berpeci

Aku gagah dan baik hati

Ku bahagia jadi laki-laki



Karena aku perempuan

Berkerudung, berbaju panjang

Aku lembut, juga penyayang

Ku bahagia jadi perempuan



Laki-laki dan perempuan

Semuanya Allah yang ciptakan

Laki-laki dan perempuan

Walau beda tetaplah berteman

*Lirik lagu dari Album CD Syair Anak Negeri Vol 1, karya para guru di Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Jawa Tengah 2016. Lagu dapat didengar melalui link 4shared : https://www.4shared.com/mp3/KG4PxNGgca/laki_laki_dan_perempuan_1.html ya Moms.
Lirik lagu di atas pertama kali saya dengar di sebuah Tempat Pengasuhan Anak (TPA) yang terintegrasi dengan sebuah PAUD dan TK yang dikelola oleh Yayasan Swasta Islam di wilayah Solo. Saat itu anak saya sedang ber TPA di tempat tersebut. Sontak saya mendengarkan lirik lagu dengan seksama. Ada yang asyik dari lagu tersebut. Ada nada-nada yang membuat anak kecanduan untuk terus-menerus bernyanyi.

Pada kesempatan lain, saya menemui kepala sekolah dengan tujuan untuk menggandakan lagu tersebut. Namun, saya tidak diijinkan untuk menggandakan tapi harus membelinya. Tidak masalah bagi saya, asalkan anak saya mengkonsumsi lagu-lagu dengan lirik yang sehat dan mendidik.

Lirik lagu tersebut sarat makna tentang pendidikan gender anak usia dini.  Ia menyebutkan beberapa ciri-ciri laki-laki dengan menyebutkan rambut pendek, baju koko, berpeci. Diiringin dengan ciri non fisik yaitu gagah dan baik hati. Sebaliknya, ia menyebutkn bahwa perempuan itu berkerudung, berbaju panjang. Diimbuhi dengan sifatnya yang lembut dan penyayang. Hal yang menarik lagi adalah jika kita menggunakan peran di sekeliling kita untuk mengkonkretkan siapa yang laki-laki dan perempuan untuk mengenalkan fungsi gendernya.

Pada anak balita, mencontohkan laki-laki dan perempuan cukup sederhana dengan mengambil model ayah dan ibu. Ayah adalah seorang laki-laki. Laki-laki itu menggunakan celana, memakai peci dan sarung saat beribadah. Ayah itu berkumis, tidak menggunakan anting, gelang, kalung dan lipstick. Ayah itu berambut pendek, jadi ayah itu ganteng. Anak laki-laki itu bermain mobil-mobilan dan robot-robotan. Ibu adalah seorang perempuan. Perempuan itu mengenakan rok, memakai mukena saat beribadah. Ibu memakai kalung, anting, gelang, dan akan cantik jika menggunakan lipstick. Anak perempuan itu bermain boneka dan masak-masakan.

Jika dari ilustrasi di atas disampaikan melalui gambar dan dongeng, seandainya ada anak laki-laki mulai bertanya, “Jadi aku ga boleh pakai lipstik?”, maka kita pun bisa menjawab, “Benar, kamu tidak seharusnya memakai lipstick, kamu itu ganteng, bukan cantik”. Di situlah anak mulai mengenal perbedaan laki-laki dan perempuan melalui konsep sederhana yang nantinya akan berkembang saat usia mereka bertambah.

Pada tahap selanjutnya, anak dapat diperkenalkan tentang apa yang dilakukan ayah dan ibu. Misalnya mengapa ibu lebih sering di rumah dibanding ayah. Perkenalkan kepada mereka pekerjaan dominan laki-laki dan dominan perempuan. Pemisahan toilet bagi anak laki-laki dan perempuan balita juga dapat mengajarkan banyak hal tentang pendidikan seks. Menumbuhkan rasa malu dan membiasakan diri menjaga organ seks nya merupakan hal yang sangat penting.

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan seks itu sedernana, bahkan kita bisa mengajarkannya melalui lirik lagu sehingga alam bawah sadar anak akan pelan-pelan merekam bagaimana peran dia, bagaimana seharusnya dia bersikap sebagai laki-laki atau perempuan. Di akhir lirik lagu itupun disebutkan pada bait terakhir bahwa menjadi laki-laki dan perempuan itu tidak bisa memilih, karena Allah yang telah menentukan. Namun demikian, kita tetap dituntut untuk berteman meskipun kita berbeda.

Asi itu Murah, Benarkah?

Ditulis oleh: @elliyinayin

"Mengapa repot-repot pumping ASI, El?” tanya seorang teman kantor.

Saya diam tidak merespon.

“Kerja kok nggak kuat beli susu formula. Gajimu untuk apa?” sambungnya.

Saya hanya dapat memberi senyum sambil menenteng tas perang untuk tempur alias pumping di gudang kantor.

Kata-kata tersebut sungguh menusuk hati ketika diluncurkan, 'tidak mampu membeli susu formula'. Apalagi sampai menyinggung gaji bulanan dipakai untuk apa.


Bekerja 8 jam selama 5 hari dalam seminggu bukanlah hal yang mudah bagi para ibu yang sedang menyusui. Alih-alih kantor tempat bekerja pun belum ramah perempuan. Keramahan yang diharapkan, misalnya memiliki ruang laktasi untuk para ibu, harus diperjuangkan terlebih dahulu. Kalau ada yang menyimpulkan bahwa ASI itu lebih murah daripada susu formula, siapa bilang? Justru ASI sebenarnya lebih mahal daripada susu formula. Berikut beberapa faktanya:

Pertama, untuk dapat rutin memberikan ASIP, Urban mama harus punya pompa ASI atau breastpumpyang nyaman. Breastpump yang nyaman akan sangat membantu mama selama proses pumping. Kata 'nyaman' tersebut yang terkadang membebani. Nyaman artinya kita harus merogoh kocek lebih dalam, karena untuk alat yang satu ini ada rupa ada harga. Pompa ASI dari merk yang terkenal memang terbukti enak dipakai, aksesoris dan sparepart-nya mudah dicari serta awet tahan lama, meski harganya juga tak murah. Beberapa merk tertentu dapat dibeli dengan harga sedikit lebih murah tetapi sulit mencari sparepart-nya jika salah satu bagiannya rusak. Rata-rata rasa nyaman terbeli dengan pompa ASI yang merknya sudah dikenal. Tanpa menyebut merk, Urban mama dapat mencari informasi merk pompa ASI tersebut secara online.

Kedua, botol kaca. Butuh banyak botol kaca untuk menyimpan ASIP. Rata-rata kisaran harga botol rekondisi adalah Rp2.000 hingga Rp3.000 per botol. Namun, jika memilih kualitas barang lebih bagus (merk botol untuk ASIP) maka harga juga akan naik. Biaya untuk botol kaca dapat disiasati karena kebutuhan masing-masing ibu berbeda, tergantung produksi ASIPnya. Makin banyak ASIP yang dihasilkan, tentu botol ASIP yang dibutuhkan akan lebih banyak. Jika malas mencuci botol, maka gunakan breastmilk storage bags (kantung plastik khusus ASI). Ada yang reusable, ada yang sekali pakai. Jika menggunakan kantung ASIP, Urban mama harus berhitung juga: misalkan di rumah pumping 2x dan di kantor 2x, maka sehari akan butuh 4 plastik. Satu kotak kantung berisi rata-rata 30 kantung ASI dengan harga Rp 40.000/box/minggu. Maka setiap bulan mama harus mengeluarkan uang Rp160.000 hanya untuk kantong plastik ASI.

Stok ASIP Waf per 18 Mei 2015 (perdana masuk kantor)
Ketigacooler bag atau tas khusus berpendingin untuk menyimpan ASIP selama perjalanan pulang-pergi antara kantor dan rumah. Tas ini berfungsi untuk menjaga kondisi ASIP agar tidak rusak. Kalau mencari yang murah, Rp50.000 saja sudah dapat. Namun kalau mencari yang lapisan dalamnya agak bagus maka Urban mama harus merogoh kocek lebih dalam.

Keempatice gels. Tak cukup cooler bag, Urban mama sangat butuh ice gels. Fungsi ice gels ini seperti es batu namun mampu mempertahankan suhu dingin lebih lama, karena tak mungkin menggunakan es batu yang mudah mencair dan suhunya tak dingin lagi. Ice gel ini dapat digunakan berulang (reusable), setidaknya siapkan 2 hingga 4 ice gels menyesuaikan ukuran cooler bag dan jumlah botol ASIP yang setiap hari harus ditenteng ke kantor. Kualitas ice gel ditentukan dari seberapa lama ia dapat membeku serta seberapa besar ukurannya. Semakin kecil ukuran ice gel dan semakin lama ia bertahan beku maka harganya semakin mahal.

Kelima, kulkas atau freezer. Barang inilah yang menurut saya paling mahal. Bagaimana mungkin kalau sudah mengumpulkan ASIP hingga berbotol-botol bahkan berkantung-kantung, tetapi tidak ada tempat penyimpanan yang sesuai dengan standar aturan penyimpanan ASIP. Maka kepemilikan kulkas dan freezer menjadi syarat wajib jika ingin berhasil memberikan ASIP untuk si kecil.

Keenam, dot dan botol susu untuk si bayi saat ditinggal kerja. Kalau dari pengalaman yang sudah-sudah, setidaknya mama memiliki empat dot dan botol susu. Jumlah tersebut menurut saya cukup agar tidak buru-buru mencuci, merebus dan mengeringkannya.

Ketujuh, membersihkan dot, botol, serta peralatan pompa ASI itu itu butuh air panas dan tentunya butuh gas dan listrik untuk memanaskan airnya dan menjalankan alat strerilisasi, bukan? Belinya ya tentu saja pakai uang, kecuali kalau kita bisa barter seperti jaman nenek moyang.

Tidak sengaja menemukan artikel di majalah saat duduk santai di kantor
Tujuh hal tersebut membutuhkan rupiah yang tidak sedikit, tetapi nominalnya masih bisa dikalkulasikan. Namun jangan lupakan hal-hal yang yang tidak dapat dihitung, seperti:
Waktu
Urban mama butuh menyisihkan waktu untuk memompa ASI saat di kantor. Artinya akan ada beberapa pekerjaan kantornya yang bisa jadi tertinggal karena waktunya dipakai untuk memompa ASI demi si kecil di rumah. Ini dapat Urban mama siasati dengan pintar-pintar mmebagi waktu dan berusaha se-efisien mungkin mengerjakan tugas di kantor.

Tenaga
Menyusui, termasuk memompa ASI butuh tenaga dan membakar kalori. Apalagi memompa ASI itu kadang-kadang bisa terasa melelahkan dan menjemukan.

Dirasani rekan sejawat
Yang jelas tidak bisa dihitung adalah saat mata partner kerja tertuju pada kita. Saat mereka juga tahu bahwa kita mencuri-curi waktu untuk memompa ASI dan terlihat seperti duduk santai saja. Apalagi sampai ada ucapan yang terlontar: “Kerja kok nggak kuat beli susu formula”

Ikhlas
Di atas semua hal yang sebelumnya dibahas satu persatu, inilah yang harganya tak ternilai. ASI, menurut saya, bermakna keikhlasan. Keikhlasan seorang ibu yang menyisihkan tenaganya untuk menyusui. Keikhlasan menerima bentuk tubuhnya tak akan pernah sama lagi setelah melahirkan dan menyusui. Keikhlasan untuk waktunya yang sangat banyak tersita. Keikhlasan saat menemui kendala sewaktu menyusui dan harus mencari cara agar si kecil tetap dapat minum ASI. Keikhlasan seorang ibu untuk menjaga kesehatannya bahkan mengonsumsi suplemen agar kualitas dan kuantitas ASI terjaga. Belum lagi keihklasan menerima rasa sakit ketika harus berobat, atau ketika ada masalah anatomi seperti bentuk putingnya dikoreksi dengan nipple puller dan sakitnya minta ampun. Dan berbagai keikhlasan lainnya yang hanya Tuhan yang tahu. Pernah ada yang bilang: kalau tidak ikhlas, tidak perlu jadi seorang ibu. Jabatan menjadi seorang ibu tidak semudah mengucap 3 huruf tersebut: I-B-U.

ASI adalah akumulasi perjuangan seorang ibu. Mungkin beberapa orang akan menilai pernyataan tersebut berlebihan. Namun bagaimana tidak, itulah harga komitmen yang harus dibayar sebagai orangtua, khususnya ibu. Semua kembali kepada komitmen Urban mama dan papa serta tuntutan keikhlasan yang luar biasa.

Pada akhirnya, ASI memang lebih 'mahal' karena representasi perjuangan yang dibutuhkan untuk dapat memberikannya kepada si kecil. Segala kebaikan ASI dan perjuangan memberikan ASI untuk anaklah yang membuat ASI begitu tak ternilai harganya. Sama halnya seperti perjuangan membesarkan dan mendidik anak seterusnya.



Tulisan asli telah disunting oleh The Urban Mama dan telah dimuat pada link http://theurbanmama.com/articles/asi-itu-lebih-mahal-dari-susu-formula-dan-representasi-keikhlasan-seorang-ibu-H51863.html

Ketika Anak Mengenal Istilah "Jajan"

Ditulis oleh: @elliyinayin
Wafa sudah tujuh bulan bergabung di Kelompok Bermain A. Tentunya sudah banyak perkembangan pada berbagai bidang, seperti bahasa, hafalan doa, ibadah, motorik kasar, motorik halus, dan tata krama. Seiring bertambahnya usia, teman bermain, variasi makanan, dan lingkungan bermasyarakatnya, maka bertambah pula kosa kata yang ia miliki.

Kata “jajan” tak asing lagi bagi anak-anak yang telah dapat berbicara, baik yang sudah lancar maupun belum. Wafa memang tidak pernah saya perkenalkan dengan kata “jajan”. Namun, perlahan Wafa pun mengenal apa yang dimaksud dengan jajan dari lingkungan sekolahnya. Padahal di KB telah disiapkan snack khusus setiap hari. Namanya juga anak-anak, tak afdol rasanya kalau tidak ada kisah merengek minta jajan. Jika di rumah ada uang receh tergeletak, Wafa akan mengatakan, “Buat jajan ya, Bu” atau saat ia melihat dompet yang tidak pada tempatnya, ia akan membuka dan mengambil uang lalu mengatakan hal yang sama.

Saya sendiri sering mendengar kakak-kakak mengeluhkan banyaknya pengeluaran jajan untuk anak, bahkan sampai over budget setiap bulannya. Lalu saya berpikir, apa yang harus saya lakukan agar Wafa dapat menahan diri dari jajan.


Pertama, membuatnya kenyang baik dengan makan nasi maupun minum susu. Bagi Wafa, makan nasi adalah momen yang paling ditunggu-tunggu. Badannya memang tampak kecil, tetapi makannya luar biasa banyak. Alhamdulillah, di saat teman-teman seusianya sulit makan, ia sangat mudah makan. Syukur juga karena tidak cacingan.

Kedua, selalu menyediakan camilan kesukaannya di rumah. Misalnya kacang telur, pilus, wafer coklat, semprong, atau dibuatkan pisang goreng, kolak, kacang hijau, ketela goreng, bakso cilok, dan lainnya. Snack kemasan kecil juga menjadi solusi. Hal di atas sekadar meminimalkan ia mengajak saya keluar untuk jajan.

Ketiga, mengajaknya ke bank untuk menabung. Kebetulan jarak antara rumah, sekolah, dan bank sangatlah dekat. Bahkan sekolah dan bank hanya berjarak kurang dari 500 meter. Setiap seminggu sekali, ia sengaja saya ajak ke bank untuk menabung.


Ada beberapa manfaat yang dapat saya ambil dari mengajak Wafa ke bank. Ia makin mengenal apa itu tata krama/sopan santun di tempat umum, misalnya dengan duduk yang baik-tidak berlari-lari. Selanjutnya, jika di rumah ia tak sengaja membuka dompet kami yang tidak pada tempatnya, maka saya dapat mengatakan ke Wafa, “Nanti kalau uangnya hilang, kamu nggak bisa tabung lho.” (Catatan: Wafa pernah memegang uang saat di motor dan malah terbang. Selanjutnya ia juga pernah memaksa meminta uang yang saya pegang sebesar Rp50.000,- dan tidak jelas ia letakkan di mana hingga berakhir dengan hilang).

Saya tidak tahu apakah saya terlalu dini atau tidak mengenalkan bank sebagai tempat yang aman untuk manabung. Pada usianya yang akan menginjak 3 tahun di 28 Februari mendatang, saya hanya ingin mengajarkan bahwa uang tak semata-mata hanya untuk jajan, membeli, dan membeli. Saya meyakini bahwa suatu saat ia akan mengerti bahwa uang tak hanya untuk dibelanjakan.

______________________________________________________________
Tulisan di atas telah terbit hari ini (9/2/2018)  pada laman http://theurbanmama.com/articles/saat-waf-mengenal-istilah-jajan-apa-yang-harus-saya-lakukan-Y92578.html

Mbah, Ayo Besok Naik Haji



Ditulis oleh: @elliyinayin

Setiap akan outing class, sepertinya Wafa selalu menyambut dengan gembira. Outing class sudah terjadwal. Misal bulan ini renang, bulan depan outbound, bulan selanjutnya kunjungan ke kebun binatang dst. Semua kegiatan tetap menyesuaikan materi di kelas. Jadi saya yakin kalau outing class pasti ada manfaatnya. Toh kami selaku wali murid tidak dibebani biaya lagi karena semua biaya kegiatan sudah dibayar di awal.

Hari itu saya mendapatkan informasi via grup WA bahwa besok ananda akan melaksanakan manasik haji di Donohudan, Boyolali. Sudah ada catatan bahwa anak harus membawa apa dan apa, tidak boleh membawa ini dan itu, serta mengenakan kerudung dan baju putih. Puyeng lah saya. Waf tidak memiliki baju putih maupun kerudung putih. Masak iya sih hanya untuk moment 1 kali di kegiatan sekolah saya harus membelikan baju baru? hehehe....Tak kehilangan ide, saya japri kakak-kakak saya untuk cari pinjaman  baju dan jilbab putih. “Ini ada, semoga tidak kegedean. Ini dulu dipakai oleh Jien (ponakan saya) juga untuk manasik haji saat dia TK,” kata kakak saya no.2. Alhamdulillah dapat baju pinjaman. Kerudung juga dapat pinjaman dari Nenek. Hemat sedikit lah ya,,,jiwa emak-emak  mulai muncul nih.

Malam itu kebetulan Mbah Kakungnya Waf sedang berkunjung di rumah. Waf dengan riang mengatakan, “Mbah, ayo besok naik haji.” Mbah Kakungnya Waf sudah pernah umroh 1 kali namun belum berangkat haji (semoga list calon jemaah hajinya segera naik ya, Amin). Beliau usianya lebih dari 72 tahun. Simbahnya langsung tanya, “Apa Nduk? Kemana?”. Saya pun menjelaskan bahwa Waf ngajak jenengan naik haji besok pagi. Kalau saya berada di posisi simbah, pasti saya akan menangis seketika. Seorang anak yang belum mengerti naik haji, seorang anak yang belum paham perjuangan para calon jamaah haji, dengan entengnya mengajak naik haji. Waf memaknai bahwa naik haji adalah jalan-jalan naik bus. Nampaknya kata-kata “ayo naik haji” ke simbahnya seperti gurauan belaka. Namun tidak bagi saya. Seketika Waf mengucap, “ayo naik haji  Mbah”, saya langsung mengAmini.

Dengan kostum serba putih yang saya dapat dengan usaha meminjam, pagi-pagi Waf mengatakan ke Bapaknya, “Waf mau naik haji. Ayo Pak naik haji sama Waf.” Berulang kali ia katakan hingga akan berangkat ke sekolah. Perjalanan menuju sekolah, saya berulang kali mengucap kalimat talbiyah di motor. Mengenalkan Waf dengan jawaban “Labbaik” , kita segera penuhi panggilan ke Baitullah.




Sepulang dari manasik haji, Waf masih memiliki cerita yang sama.

“Waf tadi naik haji Bu”

“Waf tadi lari-lari disana Bu”

“Waf tadi naik haji sama Bu Yani sama Bu Muti”

“Waf tadi naik haji naik bus”

“Waf tadi naik haji, Ibu nggak diajak”

Apakah yang dimaksud lari-lari adalah Sa’i dan tawaf, atau dia berlari sesuka hati. Saya tidak mengerti.

OMG, saya harus tetap tersenyum dan selalu tampak bahagia meski ceritanya akan selalu sama. Saya berusaha merespon sepositif mungkin agar cerita itu tetap mengalir lancar dari bibir mungilnya.



Keesokannya, cerita masih sama.

Bulan berikutnya, LPAD pun datang. Saya menerima foto dia dengan didandani kostum ihram. Ya ampun, lucunya luar biasa. Dan kata Bu Guru, hanya ada 4 anak dari semua siswa KB A yang mau foto dengan kostum putih-putih. Makin Alhamdulillah.


Bulan berikutnya, jangan dikira Waf lupa dengan manasik haji. Malah tambah terkenang, karena ada materi “Ka’bah diserang Raja Abrahah”. Di rumah ia katakan, “Disana lho Bu, di naik haji ada Ka’bah. Ka’bahnya diserang Raja Abrahah”. Setiap lihat foto manasik haji, ia juga mengatakan hal yang serupa, seputaran manasik haji.



Bulan berikutnya, Februari 2018, tak sengaja ia menemukan foto saya dan neneknya dengan latar belakang Ka’bah. Ia makin excited dan pura-pura bertanya. “Ini apa Bu? Ini apa? Ini gambar apa?”. Saya tanya balik, “Itu gambar apa Waf?” Ia menjawab, “Gambar Ka’bah”. Saya informasikan ke dia bahwa Ibu dan Nenek dulu pernah ke Ka’bah. Titik. Usai sudah cerita Ka’bah dan naik haji.

Hal inilah yang saya sukai dari kegiatan outing class. Kenangan di lokasi dan apa yang ia lakukan begitu tertancap tajam di memorinya. Doakan kami sekeluarga agar dapat segera naik haji. Kami juga turut mendoakan agar para Guru di KB TK Permata Hati Jebres Surakarta segera dipanggil untuk ke Baitullah, tidak hanya mengantarkan anak-anak manasik haji setiap tahun. Amin.

Anak Kita Butuh Permainan, Bukan Mainan

Ditulis oleh: @elliyinayin
Pasca pengambilan Laporan Perkembangan Anak Didik (LPAD), KB TK Permata Hati Jebres Surakarta mengadakan Pentas Seni dan Seminar Parenting yang diagendakan pada Sabtu, 23 Desember 2017 bertempat di Islamic Center Kompleks Masjid Nurul Huda UNS.

Saat diinformasikan melalui grup WA sekaligus lewat undangan, saya sangat tertarik melihat tema dan pematerinya. Tema yang diangkat adalah “Keluarga Permata, Berkah di Dunia Bahagia di Akhirat” dengan pemateri Ust. Hatta Syamsuddin dan Ibu Rabiatul Al Adawiyah/ Bu Fida (Direktur KPPA Benih, Konselor Keluarga). Ada apa dengan si pemateri? Pak Hatta (seperti itu saya biasa menyapa beliau) adalah rekan kerja saya di International Office IAIN Surakarta (ISIO) saat saya masih bekerja di IAIN Surakarta. Oh, dunia sempit sekali rasanya. Dan pembicara perempuan ternyata adalah istri beliau. Serasi dan kompak sekali.

Kami pun disodorkan list konfirmasi kehadiran. Dengan semangat saya menyatakan akan hadir bersama Bapaknya Waf. Tidak sekedar untuk menghadiri seminar parenting namun kami sengaja meluangkan waktu khusus melihat Waf pentas. Hampir selama seminggu penuh setiap pulang sekolah dan selama menanti Bapaknya pulang dari kantor, Waf selalu menyanyikan lagu dengan lirik “Allahummagfirli Waliwalidayya Warhamhumma Kama Robbayani Shoghiira”. Saya pun penasaran sebenarnya lirik sepenuhnya seperti apa dan gerakannya seperti apa.

Sekitar 45 menit sebelum pembicara naik panggung, anak-anak menunjukkan hasil dari apa yang telah ia pelajari selama 1 semester penuh. Bergantian dari KB A, KB B, TK A, TK B, dan semua digilir berdasarkan kegiatan ekstra yang mereka pilih. Khusus untuk KB A kegiatan ekstranya dipilihkan Bu Guru yaitu ekstra gerak lagu. Setiap Kamis mereka menyanyikan dan menarikan lagu di atas. Dan mendekati hari H tampil maka makin seringlah mereka berlatih.

Akhirnya Waf muncul juga. Gemes lihatnya. Ia beserta teman-temannya didandani sedemikian rupa dengan aksesoris yang telah disediakan sekolah. Tampil lima menit, latihan lima bulan. Kalian adalah anak-anak yang luar biasa. Menurut saya, sudah berani berdiri di atas pentas itu luar biasa. Apalagi mau menggerakkan badannya saat lagu diputar.  Pentas yang  sangat menghibur para orang tua. Video saat pentas, dapat dilihat di https://www.4shared.com/video/WsZXBN1fca/VID-20180208-WA0007.html


Beralih ke seminar parenting

Pak Hatta sedang berbicara
Dari penjelasan kedua pemateri, ada dua hal yang menancap di pikiran saya.

Pertama, saat Bu Fida mengatakan bahwa Ibu telah menghilangkan fitrah anak. Eitsss apa-apaan ini batin saya. Saya pun penasaran dengan penjelasan beliau. Menurutnya, anak terbangun dini hari karena ngompol/pipis itu sudah menjadi fitrah. Fitrahnya ia menangis dan minta dibersihkan dari najis. Eh, malah kita pakaikan pospak. Bu Fida pun juga sempat menyentil soal anak yang “diasuh/dititipkan” simbah karena alasan ibu bekerja. Hingga candaan pun dilontarkan Bu Fida.

Yang mbobokin? Simbah

Yang bangunin? Simbah

Yang mandiin? Simbah

Yang nyuapin? Simbah

Yang ngantar sekolah? Simbah

Yang ngantar ke posyandu? Simbah

Jangan-jangan kemarin bukan hari ibu. Tapi hari??? SIMBAH

Seluruh ruangan menjadi riuh penuh gelak tawa. Bu Fida pun memberi keterangan lebih jauh bahwa kita sebagai orang tua harus tegas dan disiplin tapi bukan galak. Ia menambahkan bahwa simbah cukup diberi tugas untuk menyayangi cucu, bukan mengasuhnya. Karena sejatinya asah (mengasah), asih (mengasihi), asuh (mengasuh), ketiganya adalah tugas orang tua.

Kedua, saat Pak Hatta mengatakan anak kita butuh permainan, bukan mainan. Kemudian saya berpikir panjang dan mendengarkan keterangan beliau dengan seksama. Beliau mencontohkan saat anaknya minta dibelikan sebuah pistol mainan. Karena beliau belum sempat membelikan, maka si anak berkreasi membuat pistol sendiri dengan bahan bambo. Ia bangga menunjukkan pistol tersebut kepada Abinya. Lalu Pak Hatta menyampaikan kepada hadirin, “Setelah melihat anak bangga dengan karyanya, saya tidak jadi membelikan pistol mainan yang ia inginkan. Mengapa? Karena saya akan merusak, menjatuhkan mental dan kreasi yang telah ia ciptakan. Nanti akan terkesan bahwa pistol dari toko lebih baik dari pistol kreasinya. Padahal pistol yang membuat ia bangga itulah yang terbaik. Biarkan imajinasinya tumbuh. Sejatinya anak kita butuh permainan, bukan mainan.”

Keterangan Pak Hatta mengingatkan saya pada sebuah artikel tentang bagaimana orang tua seharusnya bisa menjadikan semua barang di rumah menjadi mainan. Misalnya,(1) dengan bantal guling yang ada kita membuat terowongan, (2) dengan badan kita, kita beraksi seperti kuda, (3)  dengan kertas koran seadanya kita membuat topi (4) dengan kertas koran, kita dapat menyobek, meremas, lalu membuat bola untuk dilempar, (4) dengan pohon, kita bisa bermain memanjat, (5) dengan piring sendok sungguhan, kita pura-pura makan di restoran, (6) dengan boneka, kita bisa bermain peran siswa dan guru, dsb.

Yakinlah bahwa anak akan jauh lebih bahagia saat kita turut serta dalam permainan-permainan yang ia ciptakan. Keterlibatan kita dalam permainan itulah yang membuat mereka sangat senang. Dengan demikian daya kreatifitas untuk memproduksi akan selalu hidup, tidak mati karena gadget atau mainan yang serba instant.

Berikut beberapa permainan Wafa yang tertangkap kamera dan video.



Waf yang Tes (evaluasi), Saya yang Stress


Ditulis oleh: @elliyinayin
Mendapat edaran dari sekolah bahwa Waf akan ada tes (evaluasi) pada  4 sd 8 Desember 2017 rasanya badan saya mendadak meriang, hehe...Saya membaca surat pemberitahuan dengan sangat cermat bahkan surat tersebut dilampirkan dengan jadwal evaluasi. Ya Allah, iki ki sekolah tenanan to. Kok sampek ada tes nya segala. Materi evaluasi hanya imtaq dan hafalan saja sebenarnya, tapi rasanya seperti mau menjalani tes masuk universitas,,,,iihh lebay dech..

Seketika saya mencari buku panduan yang diberikan oleh sekolah. Saya tandai semua materi yang akan dievaluasi. Kalau Bu Ibu pada nggak percaya, tuh, sampai saya tandai spidol pink. Untuk materi asmaul husna, surat Qur’an, doa, dan hadis saya merasa tidak kesulitan untuk mereview. Lha ini kalau materi Sirah bagaimana saya mereview dia? Saya baca materinya sekilas, lalu saya dongeng sesuka hati seperti  yang ada dalam materi.

Seharusnya saya cukup rajin-rajin berdoa saja untuk Waf, tidak perlu panik, tidak perlu stress. Meyakini bahwa dia mampu. Toh setiap hari di sekolah semua materi tersebut telah direview to (Ngleremi atine dewe). Padahal faktanya kita cuma review kecil-kecilan ya Waf saat mapan tidur, nggo syarat sinau sakdurunge  dievaluasi. Kok Waf yang  tes, malah Ibu yang stress.

Semoga ilmumu bermanfaat dan jadi jariyah kelak. Semoga guru-gurumu mendapatkan surga karena berbagi ilmu dan membantu Ibu mendidikmu. Amin.