Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

IAIN Surakarta Perlahan Tapi Pasti Melakukan Langkah-LangkahInternasionalisasi

Menerima sertifikat setelah 2 bulan pertukaran mahasiswa di USA
Ditulis oleh @elliyinayin
Alumni IAIN Surakarta, Koordinator Student Services-ISIO 2016-2017
ISIO merupakan kepanjangan dari IAIN Surakarta International Office yang berdiri pada 15 Juni 2016 berdasarkan SK Rektor IAIN Surakarta Nomor 276 Tahun 2016. Pada umumnya, di perguruan tinggi menamakannya dengan Kantor Urusan Internasional (KUI). ISIO lahir atas inisiasi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Syamsul Bakri untuk membantu Wakil Rektor di bidang luar negeri.

Sebagaimana KUI pada umumnya, IAIN Surakarta ingin meningkatkan program kerjasama dengan lembaga internasional khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Tidak hanya sampai disini, IAIN Surakarta memiliki misi besar untuk mewujudkan diri menuju World Class University.

Setiap KUI memiliki divisi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan target-target yang akan dicapai. Sedangkan ISIO yang dikepalai oleh Dr. Aris Widodo memiliki empat divisi penting, yaitu Divisi Legal and Governance (2 orang), Divisi Banchmarking (1 orang), Divisi Partnership (2 orang), Divisi Staff Development (2 orang), dan Divisi Student Services (1 orang). 

Saya sendiri, selaku penulis yang kebetulan diamanahi menjadi koordinator di Divisi Student Services sangat mengapresiasi atas berdirinya ISIO. Saya yang pernah melakoni pertukaran pelajar saat duduk di bangku  kuliah merasakan bagaimana sebuah KUI seharusnya dikelola dengan profesional.  Saat itu saya lolos pertukaran mahasiswa selama dua bulan di Colorado State University (CSU) USA dalam Indonesian English Language Study Program (IELSP) cohort 8 tahun 2011. Meskipun hanya dua bulan namun “rasa internasional” nya tak mungkin terlupakan.

Setelah lolos mengalahkan 2000 pelamar, kami pun ber 72 grantee, dihubungi oleh pihak panitia agar menyiapkan paspor dan segala macam berkas. Kami tidak dilepas, kami benar-benar dipandu oleh panitia dari IELSP yang langsung berurusan langsung dengan pihak kedutaan Amerika dan sekaligus relasi kampus bagi yang akan live on campus dan relasi family host bagi yang live off campus dimana kami akan ditempatkan. Kami tidak memilih kampus, namun sudah ditentukan oleh pihak panitia.

Apakah hanya sampai disitu? Tentu tidak. Kami pun juga diberi berbagai macam formulir untuk diisi terkait dengan pembuatan visa bahkan formulir tentang “teman kamar” seperti apa yang kami harapkan. Tak kalah penting, pihak panitia menyediakan Pre Departure Orientation (PDO), semacam “manasik” kalau orang akan berangkat haji. Dalam PDO kami dibekali banyak hal, mulai dari apa itu culture shock, apa yang harus kami lakukan dan tidak boleh kami lakukan, bagaimana budaya belajar ala Amerika karena mereka tidak mengenal apa itu terlambat dengan segala alasan, bahkan kami disediakan kesempatan untuk simulasi wawancara visa. Semua serba well-prepared mulai dari PDO, proses perjalanan yang memakan waktu hingga 52 jam include transit, dan pelaksanaan belajar di negara bagian masing-masing. Tak ada kendala yang berarti.

Saat di CSU, ada dua orang staff student services yang bertanggung jawab penuh atas kami ber 17 (khusus CSU). Namanya Lacey dan Megan. Selain sebagai guru, mereka juga menjadi pelayan kami. Mereka yang bertugas mengantarkan kami membuat rekening bank agar kami bisa menarik uang, membuatkan kartu mahasiswa, membelanjakan buku di bookstore, membelikan jatah detergen, memenuhi hari-hari kami disaat ada jadwal kunjungan berupa tour visit di sekolah bilingual, jalan-jalan ke museum, bahkan mengantarkan kami ke Wallmart(semacam Transmart jika di Indonesia) hanya sekedar untuk membeli kebutuhan harian kami. Mereka juga yang selalu mengingatkan kami akan hal-hal yang terlupakan dsb hingga mereka juga yang mengantarkan kami ke bandara untuk pulang ke Indonesia.

Di atas hanyalah gambaran dimana saya merasa peran KUI itu sangat vital bagi foreign students yang memang butuh guidance dalam banyak hal meskipun selaku international student juga dituntut untuk menjadi seorang yang mandiri.

Lalu apa yang telah dilakukan ISIO dan bagaimana ISIO seharusnya dikelola?

Menurut saya, ISIO telah melakukan langkah yang tepat. ISIO berguru pada seniornya sesegera mungkin setelah SK keluar. ISIO mengunjungi KUI Universitas Muhammadiyah  Surakarta (UMS) dan Universitas Negeri Surakarta (UNS), pada Kamis (15/9). Mereka yang berumur hampir 10 tahun telah memiliki pengalaman lebih dalam menjalin kerjasama dan mengurusi mahasiswa Luar Negeri (LN) yang memiliki berbagai macam karakter dan latar belakang yang berbeda.

Tak hanya itu, pihak ISIO pun juga telah melobi berbagai profesor dari berbagai kampus dengan bidang yang relevan untuk menjalin sebuah kerjasama dalam kegiatan joint international seminar, joint research dsb.

ISIO pun menanggapi surat dari Kementerian Sekretariat Negera RI tentang Demand Survey Pemanfaatan Program Tenaga Sukarela KOICA tahun 2016 dengan cepat. ISIO tak ingin kesempatan emas ini terlewat begitu saja. IAIN Surakarta butuh mengubah mindset lokal menjadi global terkait dengan internasionalisasi yang sedang digencarkan. Semoga tenaga sukarela KOICA mampu membantu mencapai apa yang ditargetkan oleh IAIN Surakarta, ISIO khususnya.

Selain itu ISIO juga akan menjadi peserta aktif dalam International Food and Cultural Festival (2016) di Universitas Diponegoro Semarang, Jumat mendatang (18/11). Hal ini menunjukkan IAIN Surakarta telah dipertimbangkan oleh kampus lain. Untuk mengikuti event ini ISIO dituntut menjadi lembaga yang solid dan kerja efektif dan efisien. ISIO pun juga telah merancang lunch gathering dengan pimpinan untuk mendekatkan para mahasiswa asing dengan stake holder di kampus sekaligus sebagai sosialisasi tentang fungsi dan peran ISIO bagi mereka dan lembaga.

Semua hal di atas telah menunjukkan langkah-langkah ISIO dalam menjalankan visi dan misinya. Tak cukup puas dengan apa yang telah dicapai, saya ingin memberikan beberapa saran untuk ISIO agar menjadi lebih profesional.

Pertama, kunjungan di kampus yang telah memiliki KUI yang mapan harus diperbanyak sehingga ISIO memiliki wacana yang lebih luas untuk menentukan langkah-langkah strategis selanjutnya. Kedua, jika berasumsi bahwa mahasiswa asing belum mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, maka ISIO harus segera membuat rancangan bagaimana mahasiswa asing kedepan mampu memenuhi target tersebut. Bisa dengan bekerjasama dengan Jurusan Tadris Bahasa Indonesia atau cara yang lainnya. Ketiga, jika berasumsi bahwa mahasiswa asing tidak hanya berasal dari ASEAN yang pada umumnya masih memiliki kesamaan budaya, maka sangat penting bagi ISIO merancang sebuah Post Departure Orientation untuk mengenalkan budaya di Indonesia dan IAIN Surakarta khususnya. Keempat, penting bagi ISIO untuk mengajak para civitas akademi yang lain yang ada di lingkungan IAIN Surakarta agar pelan-pelan mengubah mindset lokal menjadi mindset global untuk meningkatkan layanan. Sehingga kesadaran melayani dengan penuh keramahan dan keprofesionalpun dapat terwujud. Dengan demikian, tak hanya mahasiswa lokal, mahasiswa asing pun merasa nyaman dan homey.

Pada akhirnya, saya katakan bahwa ISIO patut diapresiasi dengan langkah-langkah yang telah ditempuh untuk men-internasionalisasi IAIN Surakarta. Disamping itu, ISIO juga harus melalukan booster untuk menjalin kerjasama dengan LN dan segera membenahi sistem dan segala prosedur internalnya demi kebaikan bersama.



Note: Tulisan di atas tertuang ketika saya aktif bekerja mendampingi para mahasiswa asing selama periode 2016-2017. Postingan aslinya dapat dilihat di http://www.iain-surakarta.ac.id/?s=isio&paged=3



Masihkah PKK Relevan di Jaman Gadget Seperti Ini?

Ditulis oleh: @elliyinayin

Apakah kalian memiliki ibu atau nenek yang masih rajin hadir di PKK setiap bulan?

Atau kalian hanya berpikir bahwa PKK itu hanya sekedar ibu-ibu yang ngumpul lalu makan lalu mengocok arisan?

Jangan-jangan singkatan PKK pun kalian tak tahu.

Waduh,,jangan separah itu donk Bu...

Para Mama jaman now harus tahu apa itu PKK. Yuk kepoin ngapain aja sih ibu-ibu PKK kalau mereka sedang berkumpul...

Berikut secuil cerita saya tentang PKK Rt 02/Rw 17 Ngoresan, Jebres, Surakarta.



Setiap Ahad pertama di awal bulan, saya memiliki kegiatan baru, yaitu hadir di PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga). Kegiatan ini saya ikuti semenjak berdomisili di Ngoresan, Jebres, Surakarta (September 2016). Sebagai warga baru, saya ingin mengenal tetangga dan lingkungan lebih akrab. Ternyata PKK menjadi media yang jitu untuk mendekatkan diri ke masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Saya hadir pertama kali saat PKK diselenggarakan di rumah adik Pak RT, yaitu di rumah Mbak Fitri. Saya hadir ke-PD an mengenakan celana jeans dan kaos oblong putih tanpa membawa anak. Saat itu saya terlambat sehingga saya tidak mengikuti “upacara” pembukaan PKK. Ya sudah, kalau sudah terlambat masak mau minta diulang, nggak mungkin to. Saya ikuti saja alurnya. Tapi karena jiwa saya yang selalu penasaran, saya banyak bertanya kepada kanan kiri. Saat isian, saya pun dipersilakan untuk memperkenalkan diri. Grogi banget...secara ini adalah PKK perdana seumur hidup. Belum lagi status sebagai ibu baru yang masih bau kencur sangat membebani saya, hehehehe... Maksudnya, saya benar-benar merasa anak kemarin sore di forum tersebut.

Beberapa bulan berjalan, saya mulai mengerti sedikit tentang PKK. Misalnya tentang urutan acara PKK, bagaimana giliran PKK Rt 2 berlangsung, siapa petugas “upacara” pembukaan PKK, apa saja yang harus dibayar saat PKK, Mars PKK, dan apa saja yang dibicarakan di PKK dan siapa saya yang diijinkan bicara di PKK.

Pertama. Urutan acara PKK di Rt 2 rw 17
Daftar hadir PKK
  • Hadirlah sebelum pukul 10.00 untuk membayar berbagai iuran dan jangan lupa mengisi daftar hadir ya..
  • Jika ada lotre dan berminat membeli, silakan. Jika tidak minat juga tidak apa-apa.

  • Jika ingin ngobrol ngalor ngidul dipersilakan sebelum upacara pembukaan dimulai. Kami ini tetangga di dalam satu lingkungan, tapi kalau sudah bertemu di acara PKK, ngobrolnya panjang lebar seakan-akan tidak bertemu bertahun-tahun lamanya.

  • Jika sekiranya yang hadir telah banyak maka biasanya ketua PKK akan meminta agar acara segera dimulai. Siapa ketua PKK kami? Pada umumnya Ketua PKK adalah istri dari Pak RT. Jadi ketua kami adalah Ibu Surami atau lebih dikenal dengan Ibu Didik, gegara beliau adalah istrinya Pak Didik :)

  • Kami semua berdiri, memanjatkan doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Upacara akan dipimping oleh dawis yang bertugas.

  • Dilanjut dengan pembacaan teks Pancasila dan ditirukan, lalu pembacaan 10 program pokok PKK tidak ditirukan.

  • Menyanyikan mars PKK, kemudian lagu nasional, dan disambung lagu daerah

  • Setelah usai upacara pembukaan, kami semua dipersilakan duduk untuk mendengarkan sambutan Ketua PKK.

  • Dilanjut dengan pembacaan notulensi dan laporan oleh sekretaris PKK.

  • Isian, pengocokan arisan, penutup, dan pembagian konsumsi, terakhir pulang
Upacara pembukaan
Ketua PKK nembe Ngendikan
Kedua. Beberapa istilah yang cukup asing di telinga saya saat PKK adalah
Lotre. Yang dimaksud membeli lotre di PKK adalah membeli 3 buah nomor seharga Rp 1.000, berlaku kelipatannya. Nomor tersebut pas di tengah-tengah acara akan dikocok. Bagi yang nomornya muncul maka ia akan mendapatkan “hadiah”. Wujud hadiahnya suka-suka pengurus PKK ya, dengan nominal Rp 1.000 sampai dengan Rp 2.000, misalnya bawang, sabun cuci piring, dsb.

Dawis adalah singkatan dari dasa wisma. Ia adalah sub dari kelompok PKK yang dibagi menjadi rata-rata 10 sampai dengan 15 rumah. Ada beberapa dawis di RT kami.

10 Program Pokok PKK. Berikut isinya: (1)Penghayatan dan pengamalan pancasila; (2)Gotong royong; (3)Pangan ; (4)Sandang; (5)Perumahan dan tatalaksana rumah tangga; (6)Pendidikan dan keterampilan; (7)Kesehatan (8)Pengembangan kehidupan berkoperasi; (9)Kelestarian lingkungan hidup; (10)Perencanaan sehat.

Mars PKK. Berikut lirik Mars PKK yang setiap bulan kami nyanyikan.

Marilah hai semua rakyat Indonesia // Membangun segra //Membangun keluarga yang sejahtera // dengan PKK

Hayatilah dan amalkan pancaila // Untuk negara // Hidup gotong royong// makmur pangan dan sandang// Rumah sehat sentosa

Tata laksana di dalam rumah tangga// Rapi dan indah// Didiklah putra putri berpibadi bangsa// Trampil dan sehat

Kembangkan koperasi jagalah lingkungan// Dan sekitarnya //Aman dan bahagia keluarga berencana// Hidup jaya PKK


Isian
. Ternyata isian tersebut isinya adalah sebuah himbauan/informasi/peringatan/pengumuman dari Ketua PKK khususnya dan dari anggota PKK lain umumnya. Beberapa kali Ibu RT menghimbau soal sampah di lingkungan kami. Kader posyandu juga pernah menyampaikan tentang pemeriksaan jentik nyamuk di bak kamar mandi. Beliau juga mengingatkan warga yang punya anak agar tidak lupa memberikan imunisasi MMR. Lalu saya sendiri pernah menyampaikan promosi sekaligus informasi terkait dengan bahaya popok sekali pakai yang lebih baik diganti dengan popok cuci ulang (clodi) dan tentang pengurangan risiko kanker dengan mengkonsumsi ubi ungu (saya promosi bakpao ubi ungu). Kebetulan, PKK kemarin (4/2) saya memberi isian berupa permohonan ijin kepada masyarakat untuk jeprat jepret ambil gambar/foto untuk materi konten isi tulisan saya yang saya unggah di blog pribadi.

Lagu nasional dan lagu daerah. Di PKK saya seperti mengenang masa sekolah. PKK terupdate,(4/2), kami menyanyikan lagu nasional Garuda Pancasila dan lagu daerah Sue Ora Jamu.

Notulensi dan laporan. Saat ngantor saya juga sering menulis notulensi. Saya pikir ada yang berbeda dengan notulensi di PKK. Ehh...ternyata ya 11 12 sih. Pembacaan notulensi adalah saat si sekretaris PKK menyampaikan apa-apa saja yang telah “terjadi” di PKK bulan lalu. Misal lokasi PKK, jumlah yang hadir, isiannya apa saja, hingga laporan keuangan.

Ketiga. Bayar iuran apa saja saat kami hadir di PKK?

Karena saya warga baru maka saya hanya membayar iuran sampah/kebersihan sebesar Rp 2.000 dan konsumsi sebesar Rp 7.000.

Perputaran arisannya sangat lama yaitu sekitar 3 tahun. Jadi saya belum diijinkan gabung karena harus menghabiskan putaran yang sedang berlangsung.

Tabungan. Yaitu hak warga untuk menabung. Uang akan kembali penuh kepada yang bersangkutan. Batas atas menabung adalah Rp 200.000 per bulan/per sekali datang.

Simpan Pinjam. Ya sebagaimana aturan koperasi diterapkan, simpan pinjam ini ada untuk membantu anggota yang mendadak membutuhkan dana dan kelak bisa mengembalikan dengan aturan angsuran yang telah ditentukan. Prinsipnya tetap gotong royong.

Jadi ada 5 hal terkait dana di PKK yaitu iuran sampah, uang konsumsi, arisan, tabungan, dan simpan pinjam.



Banyak hal yang dapat saya ambil hikmahnya dari forum PKK yang notabennya sering dianggap jadul di jaman gadget.

Melalui PKK saya semakin sadar peran saya sebagai ibu, sebagai manager di rumah, sebagai kepala bagian domestik, dan sebagai pengayom. Saya juga makin mengerti bahwa keadaan baiti jannati (rumahku surgaku) dimotori oleh seorang ibu.

Lirik Mars PKK dan 10 Program Pokok PKK sangatlah sesuai dan tidak saling bertentangan. Hal inilah yang seharusnya ibu-ibu terapkan seoptimal mungkin di dalam rumah untuk mewujudkan apa yang telah disebut dalam Mars PKK: (1) Membangun keluarga yang sejahtera; (2)Makmur pangan dan sandang; (3) Rumah sehat sentosa; (4) Anak yang terdidik; dan  (5)Keluarga yang aman dan bahagia.

Memang hal di atas sangatlah idealis, tapi bisa kita usahakan untuk mencapainya.

Makin harmonisnya hubungan kita dan tetangga. Saya pernah mendengar bahwa tetangga adalah pager mangkok bukan pager tembok. Hubungan yang harmonis dengan tetangga sekitar akan memberi kenyamanan dan ketenangan hidup bagi pemilik rumah. Mangkok dimaknai sebagai simbol pemberian kita kepada tetangga. Kalau kita bandingan dengan bertegur sapa di grup WA pasti rasanya akan berbeda.

Saya teringat saat Waf harus dirawat di RS. Sepulang dari RS, Waf dijenguk serombongan ibu-ibu PKK. Subhanallah, saya sangat terharu dan sangat berterima kasih atas kepedulian tetangga. Bahkan kami juga dibantu dengan adanya dana sosial yang telah mereka persiapkan. Jika ada anggota atau keluarganya yang sakit, maka bendahara dawis akan mengkoordinir pengumpulan dana sosial dan menjadwalkan untuk menjenguk. So sweet kan.. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing pepatah itu yang nampaknya diterapkan. Lagi dan lagi gotong royong adalah Indonesia banget.

Di jaman serba modern, ada sebagian Mama yang merasa bahwa PKK itu jadul. Mungkin bagi mereka obrolan via grup WA atau medsos lainnya sudah cukup. Arisan online dengan hadiah satu set teflon atau satu set furniture dirasa sudah cukup asyik tanpa harus berjalan kaki untuk membayar arisan. Mama sibuk dengan kegiatan bersalon, berhadapan dengan teman-teman maya-nya melalui gadget, bersosialita lainnya hingga mereka lupa bahwa mereka hidup di masyarakat, di dunia nyata, dan mereka punya tetangga.

PKK menjadi ajang silaturahmi yang nyata terkhusus bagi Mama yang berkarir di luar rumah. Kemungkinan besar mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk berinteraksi dengan tetangga, bahkan yang temboknya gandeng. Nah, di PKK inilah mereka dapat face to face untuk berbincang apa saja. Konsep PKK bukan seperti HP yang lebih sering mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat sehingga PKK menjadi sangat relevan untuk Mama nan sibuk.

Rajinlah hadir di PKK meski jaman dirasa telah berubah. Sejatinya PKK itu ada untuk saling menguatkan, untuk saling memberi, dan untuk saling mengingatkan. Lebih dari itu silaturahmi dengan bertatap muka akan menjadi lebih indah dibanding dikirimi ucapan selamat ulang tahun dengan gambar roti tart via WA.

Akhirnya PKK akan selalu relevan dari jaman ke jaman. Hidup Jaya PKK.

Ketika Anak Mengenal Istilah "Jajan"

Ditulis oleh: @elliyinayin
Wafa sudah tujuh bulan bergabung di Kelompok Bermain A. Tentunya sudah banyak perkembangan pada berbagai bidang, seperti bahasa, hafalan doa, ibadah, motorik kasar, motorik halus, dan tata krama. Seiring bertambahnya usia, teman bermain, variasi makanan, dan lingkungan bermasyarakatnya, maka bertambah pula kosa kata yang ia miliki.

Kata “jajan” tak asing lagi bagi anak-anak yang telah dapat berbicara, baik yang sudah lancar maupun belum. Wafa memang tidak pernah saya perkenalkan dengan kata “jajan”. Namun, perlahan Wafa pun mengenal apa yang dimaksud dengan jajan dari lingkungan sekolahnya. Padahal di KB telah disiapkan snack khusus setiap hari. Namanya juga anak-anak, tak afdol rasanya kalau tidak ada kisah merengek minta jajan. Jika di rumah ada uang receh tergeletak, Wafa akan mengatakan, “Buat jajan ya, Bu” atau saat ia melihat dompet yang tidak pada tempatnya, ia akan membuka dan mengambil uang lalu mengatakan hal yang sama.

Saya sendiri sering mendengar kakak-kakak mengeluhkan banyaknya pengeluaran jajan untuk anak, bahkan sampai over budget setiap bulannya. Lalu saya berpikir, apa yang harus saya lakukan agar Wafa dapat menahan diri dari jajan.


Pertama, membuatnya kenyang baik dengan makan nasi maupun minum susu. Bagi Wafa, makan nasi adalah momen yang paling ditunggu-tunggu. Badannya memang tampak kecil, tetapi makannya luar biasa banyak. Alhamdulillah, di saat teman-teman seusianya sulit makan, ia sangat mudah makan. Syukur juga karena tidak cacingan.

Kedua, selalu menyediakan camilan kesukaannya di rumah. Misalnya kacang telur, pilus, wafer coklat, semprong, atau dibuatkan pisang goreng, kolak, kacang hijau, ketela goreng, bakso cilok, dan lainnya. Snack kemasan kecil juga menjadi solusi. Hal di atas sekadar meminimalkan ia mengajak saya keluar untuk jajan.

Ketiga, mengajaknya ke bank untuk menabung. Kebetulan jarak antara rumah, sekolah, dan bank sangatlah dekat. Bahkan sekolah dan bank hanya berjarak kurang dari 500 meter. Setiap seminggu sekali, ia sengaja saya ajak ke bank untuk menabung.


Ada beberapa manfaat yang dapat saya ambil dari mengajak Wafa ke bank. Ia makin mengenal apa itu tata krama/sopan santun di tempat umum, misalnya dengan duduk yang baik-tidak berlari-lari. Selanjutnya, jika di rumah ia tak sengaja membuka dompet kami yang tidak pada tempatnya, maka saya dapat mengatakan ke Wafa, “Nanti kalau uangnya hilang, kamu nggak bisa tabung lho.” (Catatan: Wafa pernah memegang uang saat di motor dan malah terbang. Selanjutnya ia juga pernah memaksa meminta uang yang saya pegang sebesar Rp50.000,- dan tidak jelas ia letakkan di mana hingga berakhir dengan hilang).

Saya tidak tahu apakah saya terlalu dini atau tidak mengenalkan bank sebagai tempat yang aman untuk manabung. Pada usianya yang akan menginjak 3 tahun di 28 Februari mendatang, saya hanya ingin mengajarkan bahwa uang tak semata-mata hanya untuk jajan, membeli, dan membeli. Saya meyakini bahwa suatu saat ia akan mengerti bahwa uang tak hanya untuk dibelanjakan.

______________________________________________________________
Tulisan di atas telah terbit hari ini (9/2/2018)  pada laman http://theurbanmama.com/articles/saat-waf-mengenal-istilah-jajan-apa-yang-harus-saya-lakukan-Y92578.html

Mbah, Ayo Besok Naik Haji



Ditulis oleh: @elliyinayin

Setiap akan outing class, sepertinya Wafa selalu menyambut dengan gembira. Outing class sudah terjadwal. Misal bulan ini renang, bulan depan outbound, bulan selanjutnya kunjungan ke kebun binatang dst. Semua kegiatan tetap menyesuaikan materi di kelas. Jadi saya yakin kalau outing class pasti ada manfaatnya. Toh kami selaku wali murid tidak dibebani biaya lagi karena semua biaya kegiatan sudah dibayar di awal.

Hari itu saya mendapatkan informasi via grup WA bahwa besok ananda akan melaksanakan manasik haji di Donohudan, Boyolali. Sudah ada catatan bahwa anak harus membawa apa dan apa, tidak boleh membawa ini dan itu, serta mengenakan kerudung dan baju putih. Puyeng lah saya. Waf tidak memiliki baju putih maupun kerudung putih. Masak iya sih hanya untuk moment 1 kali di kegiatan sekolah saya harus membelikan baju baru? hehehe....Tak kehilangan ide, saya japri kakak-kakak saya untuk cari pinjaman  baju dan jilbab putih. “Ini ada, semoga tidak kegedean. Ini dulu dipakai oleh Jien (ponakan saya) juga untuk manasik haji saat dia TK,” kata kakak saya no.2. Alhamdulillah dapat baju pinjaman. Kerudung juga dapat pinjaman dari Nenek. Hemat sedikit lah ya,,,jiwa emak-emak  mulai muncul nih.

Malam itu kebetulan Mbah Kakungnya Waf sedang berkunjung di rumah. Waf dengan riang mengatakan, “Mbah, ayo besok naik haji.” Mbah Kakungnya Waf sudah pernah umroh 1 kali namun belum berangkat haji (semoga list calon jemaah hajinya segera naik ya, Amin). Beliau usianya lebih dari 72 tahun. Simbahnya langsung tanya, “Apa Nduk? Kemana?”. Saya pun menjelaskan bahwa Waf ngajak jenengan naik haji besok pagi. Kalau saya berada di posisi simbah, pasti saya akan menangis seketika. Seorang anak yang belum mengerti naik haji, seorang anak yang belum paham perjuangan para calon jamaah haji, dengan entengnya mengajak naik haji. Waf memaknai bahwa naik haji adalah jalan-jalan naik bus. Nampaknya kata-kata “ayo naik haji” ke simbahnya seperti gurauan belaka. Namun tidak bagi saya. Seketika Waf mengucap, “ayo naik haji  Mbah”, saya langsung mengAmini.

Dengan kostum serba putih yang saya dapat dengan usaha meminjam, pagi-pagi Waf mengatakan ke Bapaknya, “Waf mau naik haji. Ayo Pak naik haji sama Waf.” Berulang kali ia katakan hingga akan berangkat ke sekolah. Perjalanan menuju sekolah, saya berulang kali mengucap kalimat talbiyah di motor. Mengenalkan Waf dengan jawaban “Labbaik” , kita segera penuhi panggilan ke Baitullah.




Sepulang dari manasik haji, Waf masih memiliki cerita yang sama.

“Waf tadi naik haji Bu”

“Waf tadi lari-lari disana Bu”

“Waf tadi naik haji sama Bu Yani sama Bu Muti”

“Waf tadi naik haji naik bus”

“Waf tadi naik haji, Ibu nggak diajak”

Apakah yang dimaksud lari-lari adalah Sa’i dan tawaf, atau dia berlari sesuka hati. Saya tidak mengerti.

OMG, saya harus tetap tersenyum dan selalu tampak bahagia meski ceritanya akan selalu sama. Saya berusaha merespon sepositif mungkin agar cerita itu tetap mengalir lancar dari bibir mungilnya.



Keesokannya, cerita masih sama.

Bulan berikutnya, LPAD pun datang. Saya menerima foto dia dengan didandani kostum ihram. Ya ampun, lucunya luar biasa. Dan kata Bu Guru, hanya ada 4 anak dari semua siswa KB A yang mau foto dengan kostum putih-putih. Makin Alhamdulillah.


Bulan berikutnya, jangan dikira Waf lupa dengan manasik haji. Malah tambah terkenang, karena ada materi “Ka’bah diserang Raja Abrahah”. Di rumah ia katakan, “Disana lho Bu, di naik haji ada Ka’bah. Ka’bahnya diserang Raja Abrahah”. Setiap lihat foto manasik haji, ia juga mengatakan hal yang serupa, seputaran manasik haji.



Bulan berikutnya, Februari 2018, tak sengaja ia menemukan foto saya dan neneknya dengan latar belakang Ka’bah. Ia makin excited dan pura-pura bertanya. “Ini apa Bu? Ini apa? Ini gambar apa?”. Saya tanya balik, “Itu gambar apa Waf?” Ia menjawab, “Gambar Ka’bah”. Saya informasikan ke dia bahwa Ibu dan Nenek dulu pernah ke Ka’bah. Titik. Usai sudah cerita Ka’bah dan naik haji.

Hal inilah yang saya sukai dari kegiatan outing class. Kenangan di lokasi dan apa yang ia lakukan begitu tertancap tajam di memorinya. Doakan kami sekeluarga agar dapat segera naik haji. Kami juga turut mendoakan agar para Guru di KB TK Permata Hati Jebres Surakarta segera dipanggil untuk ke Baitullah, tidak hanya mengantarkan anak-anak manasik haji setiap tahun. Amin.

Anak Kita Butuh Permainan, Bukan Mainan

Ditulis oleh: @elliyinayin
Pasca pengambilan Laporan Perkembangan Anak Didik (LPAD), KB TK Permata Hati Jebres Surakarta mengadakan Pentas Seni dan Seminar Parenting yang diagendakan pada Sabtu, 23 Desember 2017 bertempat di Islamic Center Kompleks Masjid Nurul Huda UNS.

Saat diinformasikan melalui grup WA sekaligus lewat undangan, saya sangat tertarik melihat tema dan pematerinya. Tema yang diangkat adalah “Keluarga Permata, Berkah di Dunia Bahagia di Akhirat” dengan pemateri Ust. Hatta Syamsuddin dan Ibu Rabiatul Al Adawiyah/ Bu Fida (Direktur KPPA Benih, Konselor Keluarga). Ada apa dengan si pemateri? Pak Hatta (seperti itu saya biasa menyapa beliau) adalah rekan kerja saya di International Office IAIN Surakarta (ISIO) saat saya masih bekerja di IAIN Surakarta. Oh, dunia sempit sekali rasanya. Dan pembicara perempuan ternyata adalah istri beliau. Serasi dan kompak sekali.

Kami pun disodorkan list konfirmasi kehadiran. Dengan semangat saya menyatakan akan hadir bersama Bapaknya Waf. Tidak sekedar untuk menghadiri seminar parenting namun kami sengaja meluangkan waktu khusus melihat Waf pentas. Hampir selama seminggu penuh setiap pulang sekolah dan selama menanti Bapaknya pulang dari kantor, Waf selalu menyanyikan lagu dengan lirik “Allahummagfirli Waliwalidayya Warhamhumma Kama Robbayani Shoghiira”. Saya pun penasaran sebenarnya lirik sepenuhnya seperti apa dan gerakannya seperti apa.

Sekitar 45 menit sebelum pembicara naik panggung, anak-anak menunjukkan hasil dari apa yang telah ia pelajari selama 1 semester penuh. Bergantian dari KB A, KB B, TK A, TK B, dan semua digilir berdasarkan kegiatan ekstra yang mereka pilih. Khusus untuk KB A kegiatan ekstranya dipilihkan Bu Guru yaitu ekstra gerak lagu. Setiap Kamis mereka menyanyikan dan menarikan lagu di atas. Dan mendekati hari H tampil maka makin seringlah mereka berlatih.

Akhirnya Waf muncul juga. Gemes lihatnya. Ia beserta teman-temannya didandani sedemikian rupa dengan aksesoris yang telah disediakan sekolah. Tampil lima menit, latihan lima bulan. Kalian adalah anak-anak yang luar biasa. Menurut saya, sudah berani berdiri di atas pentas itu luar biasa. Apalagi mau menggerakkan badannya saat lagu diputar.  Pentas yang  sangat menghibur para orang tua. Video saat pentas, dapat dilihat di https://www.4shared.com/video/WsZXBN1fca/VID-20180208-WA0007.html


Beralih ke seminar parenting

Pak Hatta sedang berbicara
Dari penjelasan kedua pemateri, ada dua hal yang menancap di pikiran saya.

Pertama, saat Bu Fida mengatakan bahwa Ibu telah menghilangkan fitrah anak. Eitsss apa-apaan ini batin saya. Saya pun penasaran dengan penjelasan beliau. Menurutnya, anak terbangun dini hari karena ngompol/pipis itu sudah menjadi fitrah. Fitrahnya ia menangis dan minta dibersihkan dari najis. Eh, malah kita pakaikan pospak. Bu Fida pun juga sempat menyentil soal anak yang “diasuh/dititipkan” simbah karena alasan ibu bekerja. Hingga candaan pun dilontarkan Bu Fida.

Yang mbobokin? Simbah

Yang bangunin? Simbah

Yang mandiin? Simbah

Yang nyuapin? Simbah

Yang ngantar sekolah? Simbah

Yang ngantar ke posyandu? Simbah

Jangan-jangan kemarin bukan hari ibu. Tapi hari??? SIMBAH

Seluruh ruangan menjadi riuh penuh gelak tawa. Bu Fida pun memberi keterangan lebih jauh bahwa kita sebagai orang tua harus tegas dan disiplin tapi bukan galak. Ia menambahkan bahwa simbah cukup diberi tugas untuk menyayangi cucu, bukan mengasuhnya. Karena sejatinya asah (mengasah), asih (mengasihi), asuh (mengasuh), ketiganya adalah tugas orang tua.

Kedua, saat Pak Hatta mengatakan anak kita butuh permainan, bukan mainan. Kemudian saya berpikir panjang dan mendengarkan keterangan beliau dengan seksama. Beliau mencontohkan saat anaknya minta dibelikan sebuah pistol mainan. Karena beliau belum sempat membelikan, maka si anak berkreasi membuat pistol sendiri dengan bahan bambo. Ia bangga menunjukkan pistol tersebut kepada Abinya. Lalu Pak Hatta menyampaikan kepada hadirin, “Setelah melihat anak bangga dengan karyanya, saya tidak jadi membelikan pistol mainan yang ia inginkan. Mengapa? Karena saya akan merusak, menjatuhkan mental dan kreasi yang telah ia ciptakan. Nanti akan terkesan bahwa pistol dari toko lebih baik dari pistol kreasinya. Padahal pistol yang membuat ia bangga itulah yang terbaik. Biarkan imajinasinya tumbuh. Sejatinya anak kita butuh permainan, bukan mainan.”

Keterangan Pak Hatta mengingatkan saya pada sebuah artikel tentang bagaimana orang tua seharusnya bisa menjadikan semua barang di rumah menjadi mainan. Misalnya,(1) dengan bantal guling yang ada kita membuat terowongan, (2) dengan badan kita, kita beraksi seperti kuda, (3)  dengan kertas koran seadanya kita membuat topi (4) dengan kertas koran, kita dapat menyobek, meremas, lalu membuat bola untuk dilempar, (4) dengan pohon, kita bisa bermain memanjat, (5) dengan piring sendok sungguhan, kita pura-pura makan di restoran, (6) dengan boneka, kita bisa bermain peran siswa dan guru, dsb.

Yakinlah bahwa anak akan jauh lebih bahagia saat kita turut serta dalam permainan-permainan yang ia ciptakan. Keterlibatan kita dalam permainan itulah yang membuat mereka sangat senang. Dengan demikian daya kreatifitas untuk memproduksi akan selalu hidup, tidak mati karena gadget atau mainan yang serba instant.

Berikut beberapa permainan Wafa yang tertangkap kamera dan video.



Waf yang Tes (evaluasi), Saya yang Stress


Ditulis oleh: @elliyinayin
Mendapat edaran dari sekolah bahwa Waf akan ada tes (evaluasi) pada  4 sd 8 Desember 2017 rasanya badan saya mendadak meriang, hehe...Saya membaca surat pemberitahuan dengan sangat cermat bahkan surat tersebut dilampirkan dengan jadwal evaluasi. Ya Allah, iki ki sekolah tenanan to. Kok sampek ada tes nya segala. Materi evaluasi hanya imtaq dan hafalan saja sebenarnya, tapi rasanya seperti mau menjalani tes masuk universitas,,,,iihh lebay dech..

Seketika saya mencari buku panduan yang diberikan oleh sekolah. Saya tandai semua materi yang akan dievaluasi. Kalau Bu Ibu pada nggak percaya, tuh, sampai saya tandai spidol pink. Untuk materi asmaul husna, surat Qur’an, doa, dan hadis saya merasa tidak kesulitan untuk mereview. Lha ini kalau materi Sirah bagaimana saya mereview dia? Saya baca materinya sekilas, lalu saya dongeng sesuka hati seperti  yang ada dalam materi.

Seharusnya saya cukup rajin-rajin berdoa saja untuk Waf, tidak perlu panik, tidak perlu stress. Meyakini bahwa dia mampu. Toh setiap hari di sekolah semua materi tersebut telah direview to (Ngleremi atine dewe). Padahal faktanya kita cuma review kecil-kecilan ya Waf saat mapan tidur, nggo syarat sinau sakdurunge  dievaluasi. Kok Waf yang  tes, malah Ibu yang stress.

Semoga ilmumu bermanfaat dan jadi jariyah kelak. Semoga guru-gurumu mendapatkan surga karena berbagi ilmu dan membantu Ibu mendidikmu. Amin.