Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Apa Yang Harus Diketahui dan Dilakukan Ibu Saat Mendekati Masa Persalinan?

Ditulis kembali oleh @elliyinayin

Mendekati hari persalinan atau masa masa Hari Perkiraan Lahir (HPL) adalah saat yang semakin mendebarkan bagi seorang calon ibu dan ayah, lebih-lebih menanti anak pertama. Ibu dan Ayah harus meminimalkan rasa panik. Ketahuilah tanda bayi akan lahir. Berikut sedikit panduan bagi ibu yang menanti masa persalinan.

Tanda bayi akan lahir
  • Perut mulas secara teratur
  • Mulasnya sering dan lama
  • Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir
  • Keluar air ketuban dari jalan lahir
  • Jika muncul salah satu tanda di atas maka suami atau keluarga harus segera membawa ibu hamil ke fasilitas layanan kesehatan

Proses melahirkan (persalinan)
  • Bayi biasanya lahir 12 jam sejak mulas teratur yang pertama. Ibu masih boleh makan, minum, buang air kecil dan berjalan
  • Jika terasa sakit, tarik nafas panjang lewat hidung dan keluarkan lewat mulut
  • Jika terasa ingin buang air besar, segera beri tahu bidan/dokter
  • Bidan/dokter akan menyuruh ibu mengejan. Ikuti perintahnya
  • Begitu bayi lahir, letakkan bayi di dada ibu. Biarkan ia berusaha mencari puting susu ibunya (inisiasi menyusu dini)
  • Tindakan ini bisa mencegah perdarahan dan merangsang keluarnya ASI

Masalah pada persalinan
  • Perdarahan lewat jalan lahir
  • Tali pusar atau tangan bayi keluar dari jalan lahir
  • Ibu tidak kuat mengejan
  • Ibu kejang
  • Air ketuban keruh dan berbau
  • Ibu gelisah
  • Ibu merasakan sakit yang hebat
  • Ikuti semua nasihat bidan/dokter. Suami atau keluarga harus selalu mendampingi

Seluruh tulisan di atas bersumber dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia atu lebih sering kita kenal dengan buku pink

Sabtu, 03 Maret 2018

Apa Yang Harus Diketahui dan Dilakukan Ibu Hamil?

Ditulis kembali oleh @elliyinayin

Panduan ini sengaja ditulis ulang karena umumnya ibu hamil kurang memperhatikan panduan yang tertuang dalam buku pink. Buku pink adalah Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Setiap Ibu yang memeriksakan kehamilannya, pasti akan mendapatkan buku tersebut. Kalau nggak periksa, ya tentu tidak dapat. Ada himbauan agar buku ini selalu dibawa setiap ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Buku ini berisi catatan kesehatan ibu (hamil, bersalin, dan nifas) dan bayi (bayi baru  lahir, bayi, dan anak balita) serta informasi cara memelihara dan merawat kesehatan ibu dan anak.

Setiap ibu hamil mendapat satu buku KIA. Jika ibu melahirkan bayi kembar, maka ibu memerlukan tambahan buku KIA lagi.

Buku ini tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan (Posyandu, Polindes/Poskesdes/ Pustu, Puskesmas, bidan, dokter praktik, rumah bersalin, dan rumah sakit.

Periksa kehamilan secara rutin
  • Segera periksakan diri ke petugas kesehatan
  • Ukur tinggi badan dan lingkar lengan aras (lila) saat pertama kali periksa
  • Timbang berat badan setiap kali periksa. Berat badan akan naik sesuai umur kandungan
  • Ukur tekanan darah dan besarnya kandungan tiap kali periksa. Kandungan akan membesar sesuai umur kehamilan
  • Minum 1 pil tambah darah setiap hari selama 90 hari. Pil ini tidak berbahaya bagi bayi.
  • Mintalah imunisasi Tetanus Toksoid (TT) kepada petugas. Hal ini untuk mencegah tetanus pada bayi. Ikuti kelas ibu hamil jika memungkinkan

 Persiapan melahirkan/bersalin
  • Tanyakan kepada bidan atau dokter tanggal perkiraan persalinan
  • Pastikan suami atau keluarga mendampingi ibu hamil saat periksa
  • Siapkan tabungan untuk biaya persalinan
  • Suami atau keluarga dan masyarakat menyiapkan kendaraan jika sewaktu-waktu diperlukan
  • Pikirkan dimana ibu hamil berencana akan melahirkan (Puskesmas/Rumah Sakit/ Rumah Bersalin)
  • Rencanakan Keluarga Berencana (KB). Tanyakan cara dan macam-macam KB kepada petugas
  • Siapkan orang yang bersedia menjadi donor darah jika sewaktu-waktu diperlukan
  • Tempelkan stiker Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di rumah ibu hamil setelah merencanakan persalinan dengan petugas kesehatan

 Perawatan sehari hari
  • Mandi 2 kali sehari dengan sabun
  • Gosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur
  • Boleh melakukan hubungan suami istri tapi tanyakan kepada petugas cara yang aman
  • Setelah kandungan berumur 4 bulan, seringlah elus-elus perut dan ajak bicara bayi di dalam kandungan
  • Kurangi kerja berat
  • Istirahat berbaring minimal 1 jam di siang hari. Posisi tidur sebaiknya miring
  • Sebaiknya ibu hamil tidur menggunakan selambu, hindari penggunaan obat nyamuk bakar atau semprot

 Anjuran  makan untuk ibu hamil
  • Tanyakan kepada petugas kesehatan tentang makanan yang bergizi
  • Makanlah dengan pola gizi seimbang, lebih banyak daripada sebelum hamil
  • Tidak ada pantangan makanan selama hamil
  • Jika mual, muntah, dan tidak nafsu makan, pilihlah makanan yang tidak berlemak dan menyegarkan. Misalnya, roti , ubi, singkong, biskuit, dan buah.
  • Jangan minum jamu, minuman keras atau merokok karenan membahayakan kandungan
  • Jika minum obat, tanyakan caranya kepada petugas kesehatan


Tanda bahaya pada kehamilan
  • Perdarahan pada hamil muda maupun hamil tua
  • Bengkak di kaki, tangan, atau wajah disertai sakit kepala dan atau kejang.
  • Demam atau panas tinggi
  • Air ketuban keluar sebelum waktunya
  • Bayi di dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak
  • Muntah terus. Tidak mau makan
  • 6 masalah di atas dapat menyebabkan keguguran atau kelahiran diri (prematur) yang membahayakan ibu dan bayi. Segeralah bawa ke petugas kesehatan didampingi suami atau keluarga

 Masalah lain pada kehamilan
  • Batuk lama
  • Lemah
  • Jantung berdebar-debar
  • Gatal-gatal pada kemaluan
  • Keluar keputihan

Seluruh tulisan di atas bersumber dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia atau lebih sering kita kenal dengan buku pink

Jumat, 02 Maret 2018

Mbak Tini Ikuti Program Kejar Paket A, Membekali ART dengan Pendidikan Itu Penting

Ditulis oleh @elliyinayin

Pertanyaan pertama apa yang akan anda tanyakan jika mewawancarai seorang calon Asisten Rumah Tangga (ART)?
Minta gaji berapa? // Pengalaman kerjanya apa? // Sudah pernah ikut berapa juragan? Atau hal-hal lain yang mungkin malah tidak ada hubungannya dengan pekerjaan? hehehe....Mencari ART memang susah susah gampang.

Pengalaman saya soal pencarian ART sangat simple. Saya tidak terlalu peduli dengan tetek bengek pribadinya. Yang paling penting bagi saya adalah bisa calistung alias membaca, menulis, dan menghitung. Tapi saya sempat kaget saat Mbak Tini mengatakan dia tidak lulus SD. Namanya Partini (lahir 1979). Ia hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 4 SD. Untung saja ia bisa calistung. Kurang lebih 1 tahun ia bekerja dengan saya untuk mengurus rumah tangga dan membantu momong Wafa ketika saya ngantor. Beruntungnya saya mendapat orang yang InsyAllah amanah serta memiliki 2 pengalaman pekerjaan yang sangat mendukung. Pertama, pernah menjadi tukang laundry. Kedua, pernah momong bayi hingga si bayi berusia 11 tahun. Artinya, skill dan kesabarannya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Saya berpikir, Mbak Tini tak selamanya bekerja dengan saya. Jika kelak ia berhenti, dia harus memiliki sesuatu yang bisa dijadikan modal untuk meningkatkan taraf hidupnya. Saya pun berembug dengan suami untuk mengikutkan Mbak Tini pada program paket A di daerah Sangkrah, Surakarta. Tujuannya agar Mbak Tini memiliki ijazah SD. Mbak Tini memiliki kemampuan yang mumpuni sehingga kalau ia memiliki ijazah SD, dia bisa bekerja di pabrik atau sebagai karyawan OS. Mas Cahyo setuju. Tinggal Mbak Tini meminta ijin suaminya untuk mengikuti program ini.

Deal. Mbak Tini tidak keberatan untuk melaksanakan program tersebut. Saya katakan bahwa saya akan tanggung biaya bulanan, semesteran dan Ujian Nasional nanti. Jika ada tagihan lain sampaikan saja. Saya juga sempat mengajak Mbak Tini ke studio foto untuk melengkapi syarat pendaftaran. Dengan mengenakan baju milik saya serta dandan seadanya, jepret jepret. Beres. KBM pun berlangsung setiap Senin-Kamis pukul 19.30-21.00. Saya berpesan ke Mbak Tini agar selalu masuk kelas. Tidak hanya nanggung biaya, saat sebulan mendekati UN, saya juga nanggung PR nya Mbak Tini,wkwkwkwkw.

Pagi-pagi sebelum berangkat ngantor, ia sodorkan sebendel soal dengan beberapa mapel. Katanya sih untuk tryout. “Bu, ada PR disuruh latihan,” katanya. Lalu saya jawab, “Yang sekolah kamu, kok yang disuruh ngerjain PR aku.” Lalu kami tertawa bersama. Ia menggendong Wafa, dan saya sambil mengerjakan PR nya. Jadi Mbak Tini hanya perlu mengingat setiap soal dengan jawaban yang benar. Keadaan seperti ini, pasti kita maklum. Ia tak mungkin membaca buku. Ia tak mungkin belajar selayaknya anak sekolah.

Hari-hari mendekati UN. Apakah menegangkan? Tidak sama sekali. Mbak Tini bekerja seperti biasanya. Saya ngantor seperti biasanya. Kalau dia ada PR ya pasti saya bantu kerjakan. Yang menegangkan bukan UN nya, tapi perutnya yang semakin membesar. Seingat saya, saat UN ia sedang hamil 7 bulan. Oh oh,,,semoga lancar. UN pun berlansung lancar.

Dengan berat hati saya sampaikan, “Mbak, maaf. Sampeyan tidak mungkin kerja dengan aku selamanya. Aku tidak mungkin ngopeni anakmu juga. Sampeyan juga tidak mungkin bekerja dalam keadaan punya bayi . Jadi, maaf banget, kalau usia kehamilanmu sudah 36 minggu, aku menghentikanmu ya Mbak. Terima kasih banyak atas bantuan selama ini.” Saat itu saya sedih sekali. Tidak tega. Saya sangat sedih karena harus berpikir mencari ART baru atau mencarikan Wafa sebuah day care. Tapi menghentikan ia bekerja adalah pilihan yang paling realistis.

Si jabang bayi dengan nama Joko Perkasa telah lahir dengan berat badan 3.4 kg. Kini ia telah berusia 1,5 tahun dan sudah bisa berlari. Sayang, usia Bapaknya tidak panjang. Suami Mbak Tini meninggal 1,5 bulan yang lalu dalam kecelakaan motor saat berangkat bekerja. Ijazah Mbak Tini pun baru sempat diambil pada Senin (26/2/2018) kemarin.

Saya tidak bisa berucap kecuali satu hal, semoga ilmumu manfaat ya Mbak dan semoga Joko menjadi anak sholeh. Amin.



Selasa, 13 Februari 2018

Rapor Jaman Old Versus Jaman Now:(Rapor Saya VS LPAD Waf)

Ditulis oleh: @elliyinayin
Kamis malam, tepatnya 21 Desember 2017 menjadi moment yang cukup dag dig dug bagi  saya selaku seorang ibu baru yang sedang mem-PAUD kan anak di tahun pertama. Bukan karena esoknya adalah hari Ibu yang diperingati pada 22 Desember dan berharap mendapat ucapan selamat hari ibu dari suami. Bukan sama sekali. Namun saya deg-degan karena esok akan menerima Laporan Perkembangan Anak Didik (LPAD) atau rapor semester gasal. Waf masih berada di Kelompok Bermain (KB) A yang rentan usianya 2-3 tahun. Tidak seharusnya saya mengkhawatirkan banyak hal terkait perkembangan anak. Tapi kok rasanya saya yang habis melaksanakan tes lalu esoknya menerima hasil ya...hehehe....

Pikiran-pikiran tidak jelas sedikit menghantui saya di malam itu. Apakah Waf sholihah di sekolah? Apakah ada gangguan perkembangan motorik halus dan kasar Waf? Apakah setiap pagi dia rutin mau mengikuti latihan fisik motorik (fismot)? Apakah dia seorang pemilih saat lauk makan siang dihidangkan? Apakah kemampuan sosialisasi dan adaptasinya meningkat lebih baik? Apakah perkembangannya signifikan secara keseluruhan? Dst. Dan pertanyaan – pertanyaan lain yang sewajarnya tidak saya khawatirkan karena hampir setiap hari menerima laporan via grup WA, laporan lisan saat antar jemput, maupun melalui buku komunikasi (bukom).
Buku Komunikasi KB TK Permata Hati Jebres Surakarta


Saya masih ingat masa SD hingga Aliyah (SMA) dimana Abah lebih sering mengambilkan rapor dibanding  Mamak. Abah Mamak tak pernah mempermasalahkan kami mendapat rangking atau nilai berapa. Mereka hanya mendengarkan dan menyampaikan pesan guru kelas kepada kami. Abah Mamak selalu memastikan bahwa kami baik-baik saja selama belajar di sekolah.Tidak pernah ada omelan soal nilai-nilai kami. Abah Mamak meyakini bahwa anak-anaknya itu try to do the best for them. Semasa kuliah pun Abah makin tidak pernah menanyakan berapa IPK kami karena Abah tidak pernah merasakan bangku kuliah. Yang Abah peduli adalah saat saya minta belajar Qowaidul Fiqh (masa Aliyah di MA Krapyak) dan minta diajari buku Al-Arabiyah baina Yadaik (tahun pertama kuliah)

Rapor TK A

Rapor TK B
Ya seperti itulah wujud dari rapor TK saya selama 2 tahun. Munculnya penilaian adalah A,B, atau C. Rapor jaman old itu materi yang disampaikan dan muncul nilainya adalah (1) Pendidikan moral pancasila; (2) Pendidikan sejarah perjuangan bangsa; (3) Kemampuan berbahasa; (4) Perasaan, kemasyarakatan, dan kesadaran lingkungan; (5) Daya cipta; (6) Pengetahuan; dan (7) Jasmani dan kesehatan. Pertanyaanya apakah semasa saya menjalani TK selama 2 tahun bahagia? SAYA TIDAK TAHU. Yang jelas saya sering merasa tidak bebas bermain saat ada teman-teman yang “nakal dan usil”. Sedangkan yang terekam jelas dalam memori saya adalah saat melakukan kegiatan ekstra, seperti latihan Tari Bali lalu pentas di Gedung Sriwedari, latihan drumband lalu pentas, berkunjung ke THR Sriwedari dan di Kebun Binatang Satwa Taru Jurug.

Apakah Abah merasakan dag dig dug setiap kali mengambil rapor saya/ anak yang lain? Saya yakin tidak, karena saya adalah anak terakhir dari 6 bersaudara.


Pentas tari Bali di Sriwedari
Lalu bagaimana kelanjutan dari pengambilan LPAD Waf?

Saya merasa WOW banget saat melihat LPAD nya. Saking WOW nya saya tidak terlalu mendengarkan penjelasan Bu Yani dan Bu Muti  (Wali kelas KB A) tentang perkembangan Waf selama 1 semester. Saya terlalu fokus membaca narasi yang ada di LPAD,hehehe... LPAD Waf mirip sekali dengan rapor saya semasa Aliyah di MA Ali Maksum dengan kurikulum KBK. Bukan score/angka/ABC yang muncul pada rapor namun berupa narasi. Apa yang sudah mampu siswa lakukan dan apa yang belum mampu dilakukan.

Menurut informasi yang saya dengar, KB TK Permata Hati Jebres Surakarta baru menerapkan rapor model narasi (saya kurang mengerti istilah yang tepat apa) tahun 2017. Masih banyak salah ketik disana sini, bahkan jenis kelamin Wafa pun salah input. Yang seharusnya perempuan menjadi laki-laki. Tidak mengapa. Para Bu Guru sudah berjuang memberikan yang terbaik untuk siswa dan wali siswa. Jadi guru TK tuh capek lho ya, benar-benar momong. Saya secara pribadi sangat mengapresiasi. Tidak hanya narasi pada LPAD yang diberikan kepada kami, namun juga karya-karya alias coretan-coretan Waf selama belajar dan bermain di sentra-sentra yang telah dibendel dalam satu folder. Ya Allah, Bu guru kok isih selo.. Bagi saya itu adalah mahakarya anak. Foto-foto kegiatan pun tak pernah lupa dishare melalui grup WA. Kadang saya mbatin, “Bu Guru kok masih sempat memotret dan mengirimkan ke kami.”
Di PAUD nya Waf, kegiatan KBM dibagi menjadi sentra sentra, seperti sentra bahan alam, sentra persiapan bahasa, sentra peran, sentra persiapan angka, sentra balok, dan sentra seni. Untuk KB A ekstrakurikulernya berupa ekstra gerak lagu. Sedangkan lingkup perkembangan anak dibagi menjadi nilai agama dan moral, kognitif, bahasa, sosial emosional, seni, dan fisik motorik.

Alhamdulillah tidak ada yang perlu kami khawatirkan tentang perkembangan Waf. Ia hanya butuh dilatih untuk menurunkan ego nya dan dilatih motorik halusnya saja. Itu kesimpulan yang saya tangkap dari penjelasan wali kelas dan narasi LPAD.

See, betapa berbedanya rapor kami. Waf yang berlembar-lembar selama satu semester dan saya yang 2 lembar selama 2 tahun.

Cover LPAD

Sentra persiapan bahasa

Sentra peran

Ekstra gerak lagu

Lingkup perkembangan anak page 1

Lingkup perkembangan anak page 2

Sentra persiapan angka

Sentra balok

Sentra Seni

Anak Kita Butuh Permainan, Bukan Mainan

Ditulis oleh: @elliyinayin
Pasca pengambilan Laporan Perkembangan Anak Didik (LPAD), KB TK Permata Hati Jebres Surakarta mengadakan Pentas Seni dan Seminar Parenting yang diagendakan pada Sabtu, 23 Desember 2017 bertempat di Islamic Center Kompleks Masjid Nurul Huda UNS.

Saat diinformasikan melalui grup WA sekaligus lewat undangan, saya sangat tertarik melihat tema dan pematerinya. Tema yang diangkat adalah “Keluarga Permata, Berkah di Dunia Bahagia di Akhirat” dengan pemateri Ust. Hatta Syamsuddin dan Ibu Rabiatul Al Adawiyah/ Bu Fida (Direktur KPPA Benih, Konselor Keluarga). Ada apa dengan si pemateri? Pak Hatta (seperti itu saya biasa menyapa beliau) adalah rekan kerja saya di International Office IAIN Surakarta (ISIO) saat saya masih bekerja di IAIN Surakarta. Oh, dunia sempit sekali rasanya. Dan pembicara perempuan ternyata adalah istri beliau. Serasi dan kompak sekali.

Kami pun disodorkan list konfirmasi kehadiran. Dengan semangat saya menyatakan akan hadir bersama Bapaknya Waf. Tidak sekedar untuk menghadiri seminar parenting namun kami sengaja meluangkan waktu khusus melihat Waf pentas. Hampir selama seminggu penuh setiap pulang sekolah dan selama menanti Bapaknya pulang dari kantor, Waf selalu menyanyikan lagu dengan lirik “Allahummagfirli Waliwalidayya Warhamhumma Kama Robbayani Shoghiira”. Saya pun penasaran sebenarnya lirik sepenuhnya seperti apa dan gerakannya seperti apa.

Sekitar 45 menit sebelum pembicara naik panggung, anak-anak menunjukkan hasil dari apa yang telah ia pelajari selama 1 semester penuh. Bergantian dari KB A, KB B, TK A, TK B, dan semua digilir berdasarkan kegiatan ekstra yang mereka pilih. Khusus untuk KB A kegiatan ekstranya dipilihkan Bu Guru yaitu ekstra gerak lagu. Setiap Kamis mereka menyanyikan dan menarikan lagu di atas. Dan mendekati hari H tampil maka makin seringlah mereka berlatih.

Akhirnya Waf muncul juga. Gemes lihatnya. Ia beserta teman-temannya didandani sedemikian rupa dengan aksesoris yang telah disediakan sekolah. Tampil lima menit, latihan lima bulan. Kalian adalah anak-anak yang luar biasa. Menurut saya, sudah berani berdiri di atas pentas itu luar biasa. Apalagi mau menggerakkan badannya saat lagu diputar.  Pentas yang  sangat menghibur para orang tua. Video saat pentas, dapat dilihat di https://www.4shared.com/video/WsZXBN1fca/VID-20180208-WA0007.html


Beralih ke seminar parenting

Pak Hatta sedang berbicara
Dari penjelasan kedua pemateri, ada dua hal yang menancap di pikiran saya.

Pertama, saat Bu Fida mengatakan bahwa Ibu telah menghilangkan fitrah anak. Eitsss apa-apaan ini batin saya. Saya pun penasaran dengan penjelasan beliau. Menurutnya, anak terbangun dini hari karena ngompol/pipis itu sudah menjadi fitrah. Fitrahnya ia menangis dan minta dibersihkan dari najis. Eh, malah kita pakaikan pospak. Bu Fida pun juga sempat menyentil soal anak yang “diasuh/dititipkan” simbah karena alasan ibu bekerja. Hingga candaan pun dilontarkan Bu Fida.

Yang mbobokin? Simbah

Yang bangunin? Simbah

Yang mandiin? Simbah

Yang nyuapin? Simbah

Yang ngantar sekolah? Simbah

Yang ngantar ke posyandu? Simbah

Jangan-jangan kemarin bukan hari ibu. Tapi hari??? SIMBAH

Seluruh ruangan menjadi riuh penuh gelak tawa. Bu Fida pun memberi keterangan lebih jauh bahwa kita sebagai orang tua harus tegas dan disiplin tapi bukan galak. Ia menambahkan bahwa simbah cukup diberi tugas untuk menyayangi cucu, bukan mengasuhnya. Karena sejatinya asah (mengasah), asih (mengasihi), asuh (mengasuh), ketiganya adalah tugas orang tua.

Kedua, saat Pak Hatta mengatakan anak kita butuh permainan, bukan mainan. Kemudian saya berpikir panjang dan mendengarkan keterangan beliau dengan seksama. Beliau mencontohkan saat anaknya minta dibelikan sebuah pistol mainan. Karena beliau belum sempat membelikan, maka si anak berkreasi membuat pistol sendiri dengan bahan bambo. Ia bangga menunjukkan pistol tersebut kepada Abinya. Lalu Pak Hatta menyampaikan kepada hadirin, “Setelah melihat anak bangga dengan karyanya, saya tidak jadi membelikan pistol mainan yang ia inginkan. Mengapa? Karena saya akan merusak, menjatuhkan mental dan kreasi yang telah ia ciptakan. Nanti akan terkesan bahwa pistol dari toko lebih baik dari pistol kreasinya. Padahal pistol yang membuat ia bangga itulah yang terbaik. Biarkan imajinasinya tumbuh. Sejatinya anak kita butuh permainan, bukan mainan.”

Keterangan Pak Hatta mengingatkan saya pada sebuah artikel tentang bagaimana orang tua seharusnya bisa menjadikan semua barang di rumah menjadi mainan. Misalnya,(1) dengan bantal guling yang ada kita membuat terowongan, (2) dengan badan kita, kita beraksi seperti kuda, (3)  dengan kertas koran seadanya kita membuat topi (4) dengan kertas koran, kita dapat menyobek, meremas, lalu membuat bola untuk dilempar, (4) dengan pohon, kita bisa bermain memanjat, (5) dengan piring sendok sungguhan, kita pura-pura makan di restoran, (6) dengan boneka, kita bisa bermain peran siswa dan guru, dsb.

Yakinlah bahwa anak akan jauh lebih bahagia saat kita turut serta dalam permainan-permainan yang ia ciptakan. Keterlibatan kita dalam permainan itulah yang membuat mereka sangat senang. Dengan demikian daya kreatifitas untuk memproduksi akan selalu hidup, tidak mati karena gadget atau mainan yang serba instant.

Berikut beberapa permainan Wafa yang tertangkap kamera dan video.



Waf yang Tes (evaluasi), Saya yang Stress


Ditulis oleh: @elliyinayin
Mendapat edaran dari sekolah bahwa Waf akan ada tes (evaluasi) pada  4 sd 8 Desember 2017 rasanya badan saya mendadak meriang, hehe...Saya membaca surat pemberitahuan dengan sangat cermat bahkan surat tersebut dilampirkan dengan jadwal evaluasi. Ya Allah, iki ki sekolah tenanan to. Kok sampek ada tes nya segala. Materi evaluasi hanya imtaq dan hafalan saja sebenarnya, tapi rasanya seperti mau menjalani tes masuk universitas,,,,iihh lebay dech..

Seketika saya mencari buku panduan yang diberikan oleh sekolah. Saya tandai semua materi yang akan dievaluasi. Kalau Bu Ibu pada nggak percaya, tuh, sampai saya tandai spidol pink. Untuk materi asmaul husna, surat Qur’an, doa, dan hadis saya merasa tidak kesulitan untuk mereview. Lha ini kalau materi Sirah bagaimana saya mereview dia? Saya baca materinya sekilas, lalu saya dongeng sesuka hati seperti  yang ada dalam materi.

Seharusnya saya cukup rajin-rajin berdoa saja untuk Waf, tidak perlu panik, tidak perlu stress. Meyakini bahwa dia mampu. Toh setiap hari di sekolah semua materi tersebut telah direview to (Ngleremi atine dewe). Padahal faktanya kita cuma review kecil-kecilan ya Waf saat mapan tidur, nggo syarat sinau sakdurunge  dievaluasi. Kok Waf yang  tes, malah Ibu yang stress.

Semoga ilmumu bermanfaat dan jadi jariyah kelak. Semoga guru-gurumu mendapatkan surga karena berbagi ilmu dan membantu Ibu mendidikmu. Amin.