Kamis, 22 Februari 2018

Menonton Atraksi Barongsai, Kami Turut Suka Cita di Imlek 2569

Ditulis oleh @elliyinayin

Tulisan ini tidak ada maksud dan unsur SARA. Murni hanya untuk berbagi kegiatan positif saat Imlek datang

Wajah mirip China karena mbah mbah mbah saya ada yang China membuat teman les di jaman SMP mengira saya turut serta merayakan Imlek dengan mendekorasi rumah menjadi serba merah. Di dukung dengan kulit berwarna cerah dan mata cukup sipit meyakinkan dia bahwa saya juga menyambut Imlek dengan penuh suka cita.
“Eh Yin rumahmu juga didekor merah nu? Kan kemarin Imlek,” tanyanya saat kami jajan es doger bersama.
Dengan bahasa anak SMP saya pun menolak disangka merayakan Imlek.

Belanja Sembako di Warung Bu Siyem, Bu Sumi atau Bu Sani? - Gerakan Belanja di Warung Tetangga (bagian 2)

Ditulis oleh @elliyinayin

Mau beli apa , dimana, harga berapa? Mikirnya jangan lama-lama ya. Keburu banyak yang antri dan minta segera dilayani. Kami sarankan agar Ibu sudah memiliki gambaran atau bahkan mencatat apa yang akan dibeli di warung. Lalu mau beli di warung siapa ya enaknya? Warung sembako Bu Siyem, Bu Sumi, atau Bu Sani,masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Selaku penulis saya tidak akan memihak ke salah satu warung. Check this out langsung ya..

Warung Sembako Bu Siyem
Kelebihan dan kekurangan
Di Warung Sembako Bu Siyem, stok dan varian sayurnya banyak. Hampir semua sayur adalah baru dan segar. Jika mendapati yang busuk, silakan milih sendiri atau minta ganti. Dari sisi harga relatif murah, meski masih ada yang mengatakan lebih murah di warung sembako sebelah. Eitsss, kalau merasa mahal nggak perlu provokasi, silakan pindah di warung lain. Coba di cek ya sist, brokoli 1 kg di Warung Bu Siyem dan di Super**do murah mana? Padahal barang sama-sama segarnya dan bersih.

Di sini kita akan lebih sering mendapati setiap barang diharga berdasarkan timbangan kodok. Sembako lain non makanan juga lengkap.

Jumlah kerabat yang membantu Bu Siyem ada beberapa. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan Anda tetap harus sabar, sabar, dan sabar untuk antri. Hal ini dikarenakan banyak para tetangga yang memiliki warung makan dan kulakan bahan baku di sini. Jadi melayani 1 orang saja bisa lamaaaa banget (ups..malah curhat). Ohya, di sini saya jarang mendapati buah, misal pisang, nanas, kedondong, dan pepaya. Hari Sabtu adalah jadwal istirahat Bu Siyem, alias tutup.

Warung  Sembako Bu Sumi
Kelebihan dan kekurangan
Di sini sesekali saya belanja. Meski masih berada di Jalan Kartika, tapi saya kira jarak ke Bu Sumi sedikit lebih jauh. Nah, disini kita bisa membeli buah-buahan semisal pisang kepok, pepaya, kedondong, nanas, bengkoang dan umbi-umbian. Soal kelengkapan dan stok sayur dan barang sembako non makanan kurang lebih sama dengan tempat Bu Siyem. Soal harga hanya 11 12 sih. Tapi begitulah ibu-ibu, beda Rp 50,- saja bisa beda ceritanya. He he he...Dalam melayani pembeli, Bu Sumi hanya dibantu oleh seorang laki-laki. Saya kurang tahu apakah anaknya atau siapa. Maklum, saya tidak kepo soal beginian. Jadi, tetap pakai antri antri dikit lah. Kalau di Bu Sumi, Sabtu tetap buka kok. Meski lokasi Bu Sumi sudah tidak se-RT dengan saya, tapi kita harus tetap berpikir untuk menggairahkan kegiatan ekonomi di lingkungan sendiri.

Warung Sembako Bu Sani
 Kelebihan dan Kekurangan
Apa yang paling beda di Bu Sani dibanding dua warung sebelumnya? Yup, drive thru. Anda tidak harus turun dari motor untuk membelinya, tapi lebih sopan tetap turun ya. Adakalanya ibu-ibu sangat buru-buru sehingga tidak sempat memarkirkan motor dengan baik. Kalau lagi buru-buru dan tidak ingin antri, warung sembako Bu Sani bisa dijadikan alternatif. Mengapa saya jarang membeli disana? Semata-mata karena jarak. Warung Bu Sani yang tampaknya bongkar tutup ini berlokasi di pertigaan Puskesmas Ngoresan. Untuk tempat berjualan, Warung Bu Siyem dan Bu Sumi memiliki kesamaan, yaitu sama-sama jualan di rumahnya sendiri. Sedangkan warung Bu Sani hanya menggunakan meja dan tenda. Karena keterbatasan tempat dan tenaga, tentu Warung Bu Sani tidak selengkap kedua warung sebelumnya. Soal harga sih masih 11 12 dengan warung sebelumnya.

Mungkin masih ada beberapa warung sembako lain di sekeliling kita yang luput dari pandangan, luput dari omongan. Hal itu semata-mata karena jarak dan ketidaktahuan saya. Semoga warung sembako yang lain juga segera eksis dan laris.

Pada intinya, mau beli di warung siapapun itu, rejeki sudah ada yang atur. Soal harga, tentu prinsip utama adalah ada harga, ada rupa. Jadi, silakan menentukan sendiri Anda ingin belanja di warung siapa. Dengan Anda belanja di tetangga maka Anda telah membantu memutar kehidupan perekonomian masyarakat sekitar.
Warung Sembako Bu Sani
Warung Sembako Bu Sumi
Warung Sembako Bu Siyem

Garasi Monce, Coffee Shop Dengan Instagramable Spot

Logo Garasi Monce
Ditulis oleh @elliyinayin
Pekan lalu (28/1) kami sekeluarga diundang oleh sepupu saya (Kak Mona) yang mengadakan syukuran soft opening Garasi Monce. Garasi Monce merupakan sebuah coffee shop dengan mengangkat konsep yang unik.

Secara menu, ia menyediakan kopi khas yang ia beri nama Kopi Monce. Sayang, kemarin saya belum sempat nyicip. Jadi ga bisa kasih testi rasa nih. Menu lainnya adalah makanan angkringan sebagaimana yang ada di angkringan yang lain seperti nasi bandeng, nasi oseng, nasi goreng, nasi teri, bihun, capcay,  telor puyuh, kepala ayam goreng, sate usus, mie goreng, mie rebus, krupuk, tempe goreng, bakwan, tahu goreng, dsb. Eits, untuk rasa jangan samakan dengan angkringan yang lain ya. Kak Mona yang saya kenal memang pandai memasak. Jadi racikan bumbunya jangan diragukan lagi. Soal harga, sudah pasti terjangkau.

Anak muda jaman now nggak afdol donk ya kalau sekedar kulineran saja. Rugi, rugi abis apalagi kalau sudah datang di Garasi Monce tapi cuma minum es teh doank. Ada hal lain yang tidak boleh kalian lewatkan yaitu take pictures. Disana tersedia spot-spot foto yang instagramable banget deh. Bukti fotonya seperti apa bisa dilihat di ig @Garasimonce. Mulai dari gerobaknya yang berwarna hitam kuning,  ceretnya dengan cat hitam putih kotak-kotak, design interior yang klasik abis, dsb. Semua sudut design interior dan ekseriornya bisa kalian jadikan background foto kekinian.

Sering kan ya kita makan di angkringan tapi di bawah kaki kita ada kucing yang mencari sisa makanan? Hehe...Di Garasi Monce ini kebersihannya dijamin. Nggak akan ada kucing yang nggodain kalian saat makan. Jarang-jarang lho ada angkringan yang punya toilet. Di Garasi Monce juga menyediakan toilet yang bersih dan para custumer diberi jalan sendiri tanpa harus melewati dapur untuk mengakses toilet.

Garasi Monce yang terletak di Kampung Griyan (belakang Solo Square)  memiliki nilai lebih tersendiri di banding  coffee shop yang lain. Pertama, dia sangat strategis karena berada di sebuah lingkungan masyarakat yang bukan perumahan. Kedua, tempat parkir yang luas. Terakhir adalah setiap saat Anda dapat melihat kereta api yang melintas. Suara berisiknya mesin kereta api tidak ada artinya jika dibanding semangat Waf untuk makan di Garasi Monce. Suara berisiknya juga tidak akan mengalahkan semangat kalian untuk mencoba menu di Garasi Monce, mencoba foto di spot yang instagramable, dan mencoba suasana baru di sebuah coffee shop. Sementara ini jam operasionalnya adalah Senin-Jumat 07.00-17.00 dan Sabtu-Minggu 07.00-22.00.

Jadi kalau bosan dengan coffee shop dan atau angkringan yang gitu-gitu aja, kini waktunya nyobain ngopi di Garasi Monce dengan suasana unik nan asyik.
Soft opening bersama keluarga besar

Rabu, 21 Februari 2018

Selalu Ada Hal Seru dan Baru Di Warung Sembako Bu Siyem - Gerakan Belanja di Warung Tetangga (bagian 1)

Ditulis oleh @elliyinayin

Teman-teman mahasiswa UNS yang nge-kost di daerah Ngoresan dan sekitarnya pasti tidak asing dengan Warung Sembako Bu Siyem yang berlokasi di pertigaan Jalan Kartika dan Jalan Antariksa. Begitu pula warga sekitar yang berdomisi di Ngoresan dan sekitarnya. Bu Siyem seorang sepuh yang telah membuka warung sembako sejak 30 tahun yang lalu. Saat saya tanya sejak kapan Jenengan buka warung sembako, ia pun menjawab, “Lali Nduk. Wis sui banget. Telung puluh tahun yo wis ono.”(Saya lupa Nduk. Sudah sangat lama. Mungkin sudah tiga puluh tahun). Bersama anak-anak dan menantunya ia memberi layanan prima kepada para pembeli sehingga warung yang buka ba’da Subuh ini selalu ramai dikunjungi ibu-ibu.

Belanja di Warung Bu Siyem menurut saya selalu seru dan ada hal baru, meskipun yang saya beli hanya itu-itu saja. He he he...Apa saja yang seru dan baru di Warung Bu Siyem? Yuk intip sejenak.

Pertama, update informasi harga sembako
Di warung Bu Siyem inilah informasi tentang perubahan (baca: kenaikan) harga sembako selalu update. Saat beras mendadak harganya melambung tinggi, pembeli saling berkeluh kesah di sana. Saat brokoli mendadak harganya mencekik leher, Bu Siyem pun menahan diri untuk tidak kulak. Saat harga telur perlahan menurun, informasi tersebut juga bisa kita dapat secara cuma-cuma di sana.

Kedua, update informasi keadaan tetangga
“Eh, si X anaknya meninggal”
“Eh, si Y masuk rumah sakit”
“Eh, katanya nanti sore mau jenguk si Y. Jam berapa ngumpulnya? Kumpul dimana?”
“Eh, si Z kemarin diserempet motor”
“Eh, hati-hati lho modus sopir ojek online yang pura-pura nunggu penumpang di depan rumah kita.”
Dst dst dst
Dari ah eh ah eh suara pembeli yang notabenenya kebanyakan tetangga sendiri, maka kita menjadi tahu keadaan tetangga yang lain. Obrolan di atas tidak perlu ditambahi, ditimpali atau kita bumbui agar lebih sedap ya. Untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan, saran saya sih saat belanja cukup menjadi pendengar yang baik terkait berita fakta maupun berita gosip, kecuali anda benar-benar membawa berita yang shahih 100% dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, hiburan
Mendengarkan ibu-ibu yang berkeluh kesah soal anak, suami, rumah atau kerabatnya, serta banyolan-banyolan spontan yang tak terduga di Warung Bu Siyem adalah hiburan tersendiri bagi saya. Bukan maksud bahagia di atas penderitaan orang lain lho. Entahlah apakah pembeli yang lain merasakan hal yang sama atau tidak. Mendengarkan Mbak Asih (anak Bu Siyem) merespon pembeli dengan gaya khasnya juga merupakan hiburan. Antri panjang hingga terkadang kesal juga menjadi cerita lucu ketika sampai di rumah. “Ngapain juga tadi marah-marah karena antri panjang. Mbok ya pindah di warung lain juga tidak ada yang protes,” batin saya. Kalau mau dilayani ya antri dulu, bukankah seharusnya memang seperti itu? Tapi nanti kalau pindah ke tempat lain, rasanya ada yang “missing” gitu. Sense belanjanya berkurang, wkwkwkwkwk

Keempat, beli berapapun dilayani
Asal kalian nggak minta gratis saja, belanja dengan nominal berapapun bakal dilayani kok. Dengan catatan tidak kebangetan ya.Tidak harus membeli 1 kg, ½ kg, ¼ kg untuk mendapatkan bawang merah atau bawang putih. Misal kita hanya butuh sedikit, kita bisa sampaikan mau beli Rp 1.000 saja. Tapi pembeli juga harus legowo seberapa banyak atau sedikit pihak Bu Siyem memberinya.

Baik diakui maupun tidak, “keseruan” di atas merupakan hal unik tersendiri saat kita berbelanja di sebuah warung sembako milik  Bu Siyem. Rasakan dan temukan sensasi berbeda saat kita nglarisi tetangga. Selamat mencoba berbelanja disana.

Warung Sembako Bu Siyem tampak depan

Beliau adalah Bu Siyem

Masih menggunakan timbangan kodok ya..

Sebagian pembeli mengambil barang sendiri karena saking ramainya pembeli

Selasa, 20 Februari 2018

Bancakan dan Interaksi Sosial Anak

Ditulis oleh @elliyinayin
Siang itu ruang tamu rumah kami dipenuhi oleh anak kecil usia SD dan balita yang didampingi oleh orang tuanya. Mereka duduk rapi menanti bancakan yang akan dibagikan setelah berdoa bersama. Mereka datang dengan pakaian seadanya layaknya saat bermain, dan tidak membawa bingkisan apa pun. Hadir pula para handai taulan dan sahabat dekat kami. Putri kami pun tampil apa adanya, dengan baju pink tanpa aksesoris apa pun. Di atas tikar, tersaji hidangan sederhana berupa nasi bancakan yang telah ditata sedemikian rupa di atas pincuk daun pisang. Karak, tahu dan tempe bacem, serta ayam goreng pun dihidangkan sebagai lauk. Sebagai tambahan, kami siapkan martabak mini dengan topping yang menarik.

Di depan Rumah Nenek (Jayengan, Surakarta)
Hari itu kami mengadakan tasyakuran ulang tahun putri kami yang genap berusia satu tahun. Tasyakuran sengaja digelar di rumah saja. Tidak ada undangan tertulis yang dibagikan kepada para tetangga maupun saudara. Pernak-pernik pesta ulang tahun pun sengaja kami hindari. Sebagai tuan rumah, kami berharap tidak ada bingkisan atau kado yang diberikan untuk putri kami. Kami lebih memilih untuk tasyakuran dengan tradisi bancakan. Menantikan doa-doa berdatangan dari kebersahajaan.

Bancakan merupakan sebuah tradisi kenduri yang masih dilakukan sebagian orang. Dalam tradisi bancakan, hidangan yang disajikan adalah nasi putih, berbagai sayuran seperti timun, tauge, buncis, wortel, bayam, kenikir, kacang panjang yang direbus lalu dicampur dengan urap kelapa parut yang telah dibumbui. Biasanya juga dilengkapi dengan telur rebus. Nasi bancakan terkadang disebut juga dengan nasi gudangan atau nasi urapan.

Awalnya tradisi bancakan adalah sebuah upacara sederhana masyarakat Jawa untuk menyertai tahapan perkembangan seorang anak. Biasanya dilakukan untuk memperingati hari lahir anak berdasarkan hari pasaran pada penanggalan Jawa, atau yang biasa disebut dengan wetonanBancakan dilaksanakan sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan berbagai nikmat, khususnya nikmat usia dan keselamatan.

Seiring berjalannya waktu, tradisi bancakan dulu dan kini pun berubah secara fisik. Dulu bancakantak lengkap tanpa penyajian tumpeng berupa gunungan nasi yang dibentuk kerucut disertai hidangan sayur dan lauk pauk yang lezat. Namun, kini bancakan tak selalu menyajikan tumpeng. Bukan urusan ada atau tidaknya tumpeng dalam tradisi bancakan yang kami selenggarakan, tapi lebih kepada tujuan diadakannya bancakan.

Bersama para tetangga dan saudara
Interaksi sosial anak dalam bancakan

Saat putri kami berusia 40 hari, kami pun mengadakan bancakan 7 hari setelah aqiqahBancakan di kampung, lagi dan lagi. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi kami mengapa menyelenggarakan bancakan, bukan pesta ulang tahun yang meriah untuk si kecil.

Pertamabancakan adalah pengajaran hidup. Penting bagi orangtua mengajarkan kesederhanaan dalam hidup, tidak berlebihan. Cukup sak madya, kata orang Jawa. Mengajari anak untuk selalu rendah hati kepada siapapun, tidak menyombongkan apa yang dia atau orangtuanya miliki. Selain itu, sudah seharusnya orangtua mengajarkan akan rasa syukur yang setiap saat bisa dipanjatkan melalui berbagai cara, salah satunya adalah berbagi nasi bancakan dengan para tetangga dan saudara tanpa mengharapkan pamrih, Murni untuk berbagi kebahagiaan saja dalam suasana yang akrab dan erat. Dengan segala kemewahan perayaan, apa yang sebenarnya ingin diajarkan kepada anak? Toh acara heboh maupun tidak, anak usia balita belum paham dengan makna kemeriahan pesta. Perlu disadari bahwa orang tua dan keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam penguatan karakter anak. Setiap sikap dan perilaku anak merupakan cerminan apa yang diajarkan dan dibiasakan oleh orangtua.

Kedua, melatih kepekaan sosial anak. Intensitas interaksi sosial anak sangat bergantung kepada seberapa sering orangtua mengajak si anak untuk bertemu orang lain yang tinggal di luar rumahnya. Jiwa sosial anak bukanlah sebuah sulap yang terwujudkan dalam sekejap bisa, tetapi butuh waktu lama untuk menjadikannnya peka akan lingkungan sekitar. Berkunjung atau silaturahim ke sanak saudara atau teman-teman si orangtua bisa menjadi salah satu cara untuk mengenalkan anak kepada orang lain. Bancakan menjadi salah satu media yang jitu untuk melatih interaksi sosial anak. Saat diteriakkan, “Ayo cah, rene, ono bancakan!”, anak-anak kecil langsung berkumpul.

Mereka duduk rapi. Ikut mendoakan dan berharap akan keselamatan. Cukup, tanpa ritual ini-itu. Dengan berkumpulnya anak-anak kecil, maka secara otomatis akan terjadi interaksi sosial yang dapat berujung pada pengasahan jiwa sosial anak. Interaksi tersebut bisa dalam bentuk bermain atau bahkan saling berebut mainan maupun makanan. Di sinilah anak akan belajar berbagi dan saling peduli, bahwa “Aku teman dia, dan dia adalah temanku. Jika dia disakiti, maka aku juga akan sakit dan sebaliknya". Karena anak kita juga butuh teman sebaya, jadi sebagai orang tua sudah seharusnya wajib mengenalkan anak balitanya kepada lingkungan terdekat.

Tidak hanya sampai disitu, dengan bancakan, kita dapat mengumpulkan sanak saudara di rumah, dengan suasana akrab tanpa jarak. Mengenalkan anak kita lebih dekat kepada kakek-neneknya yang tidak serumah, sepupunya, paklik, bulik, pakdhedan budhe, serta saudaranya yang mungkin jarang bertemu. Anak makin mempunyai banyak kesempatan dalam berinteraksi, baik dengan teman seusianya maupun saudara terdekatnya.

Ketiga, mengenalkan tradisi atau identitas. Sultan Takdir Alisyahbana mengatakan kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir. Bancakan sendiri merupakan bagian dari kebudayaan yang mencerminkan cara pikir orang Jawa yang suka menolong dan bergotong royong. Dengan mengadakan bancakan, maka secara tidak langsung kita telah mengenalkan kepada anak tentang asal usul kita, dan ikut melestarikan sebuah tradisi yang bisa jadi kini kian meluntur atau dianggap kuno. Padahal dalam sebuah tradisi, banyak sekali makna-makna simbolis yang terkandung di dalamnya.

Semoga tradisi bancakan dapat lestari di kalangan orangtua untuk mengajarkan makna kesederhanaan dalam hidup dan melatih kepekaan sosial anak. Perlu diingat, karakter anak dibentuk dari rumahnya, keluarganya. Keluarga sebagai rumah pengajaran urip.




Note: Tulisan di atas merupakan hasil perenungan saya setelah mengadakan bancakan di rumah dalam rangka ulang tahun Wafa yang pertama (28 Februari 2016). Tulisan yang asli saya kirim dan telah dimuat di http://theurbanmama.com/articles/bancaan-dan-interaksi-sosial-anak-w58132.html

Suntik Imunisasi Tidak Bertujuan Menyakitimu; Menyelami Alam Bawah Sadar Anak Dengan Sugesti Positif

Ditulis oleh @elliyinayin

Akhirnya Waf sudah lulus imunisasi pada hari ini Selasa (20/6/2017) di Puskesmas Ngoresan. Imunisasi Booster campak merupakan imunisasi terakhir dari rangkaian imunisasi sejak HB 0 saat usia 1 hari.  Agak surprise gitu karena imunisasi di semua Puskesmas ternyata gratis. Tanpa bayar biaya pendaftaran maupun bayar biaya imunisasi itu sendiri. Alhamdulillah, tadi saya hanya kena pajak beli donat, he he he…

Sejak pertama kali Waf diimunisasi, malam sebelum esoknya diimunisasi saya selalu sugesti dia. Saya ajak bicara terus menerus berulang kali bahwaBesok imunisasi ya. Tidak sakithanya seperti digigit semut saja. Kalau sakit dan pingin nangis bolehtapi nggak boleh nangis heboh. Nangisnya sebentar saja. Nangisnya biasa saja nggak perlu lebay seperti yang lain sampek sesenggukan setengah jam lebih. Terakhir, Waf ga perlu panas ya.

Itu yang saya lakukan sehari sebelum Waf menuju Puskesmas untuk imunisasi. Does it work? YES IT WORKS. Saat masih di Puskesmas Jayengan, saya mungkin dikira ibu yang “nggak genap” ya, karena anak usia 1, 2 bulan yang masih full digendong selalu diajak omong dari berangkat naik becak hingga sampai menunggu antrian diimunisasi. Saya jadi nampak seperti orang gila karena bicara sama bayi yang kadang-kadang sedang tidur. Saya hanya berusaha mengisi alam bawah sadar dia bahwa kamu nggak perlu nangis lebay saat disuntik. titik. Karena Ibu tahu bahwa disuntik itu sakit dan imunisasi itu tidak bertujuan menyakitimu.

Well, bisa dikatakan dari rentetan semua imunisasi, semuanya berhasil tanpa nangis. Yang saya ingat usia 5 atau 6 bulan, diimunisasi pas tidur, wajar nangis. Nggeeekk habis itu langsung diam lagi.

Nah, khusus untuk imunisasi terakhir ini, lebih WOW lagi. Karena saya terlambat hampir 4 bulan saking banyak kegiatan dan khawatir kalau nanti berefek panas. Hari ini sengaja saya sempat-sempatin karena September 2017 akan ada PIN rubella. Sejak kemarin Senin (19/6/2017) saya sudah katakan sama Waf, mirip dengan kata-kata di atas. Karena dia sudah bisa mulai menyusun frasa, kata dan kalimat yang hampir sempurnaSPOK, tapi masih belum jelas ucapannya, maka dia selalu menirukan seperti ini
Waf besok imunisasi ga usah nang…..is (dia IS nya saja)
Besok disuntik lengannya seperti digigit se…mut (dia MUT nya saja)
Kalau nangis ma….yu (MALU maksudnya)
Berapa kali saya ulang kata-kata tersebut? UNCOUNTABLE, ha ha ha..

Intinya untuk hal-hal yang dirasa agak negatif bagi anak padahal tidak ada maksud buruk sama sekali, saya selalu, selalu dan selalu sugesti dia jauh-jauh hari sebelumnya.
Beberapa sugesti manjur lainnya adalah saat:
  1. Pertama kali memberi ASIP dot. Saya katakan bahwa dua pekan lagi Ibu akan masuk kerja. Kamu mimik dot sama Nenek dulu ya. Ayo latihan terus pasti bisa.
  2. Pertama kali memberi MPASI. Saya katakan bahwa makanan ini enak, enak, dan enak
  3. Pertama kali saya tinggal keluar kota. Saya katakan bahwa ibu sedang belajar, belajar, dan belajar. Ibu akan segera pulang.
  4. Pertama kali Waf masuk daycare. Saya katakan bahwa temanmu akan banyak, mainanmu juga akan banyak. Nanti sore Ibu pasti jemput.
  5. Pertama kali dipijatkan, karena ada yang “sedikti berbeda” pada tangan kanan Waf. Saya katakan, dipijat tidak sakit. Enak, enak,enak, segera sehat.
  6. Dst
Inilah urutan imunisasi Waf:
HB-0, BCG, POLIO 1, PENTABIO 1, POLIO 2, PENTABIO 2, POLIO 3, PENTABIO 3, POLIO 4, CAMPAK (lalu dapat sertifikat imunisasi lengkap 9 bulan. Dilanjutkan PENTABIO BOOSTER DAN CAMPAK BOOSTER.
Selain itu Waf juga mengikuti PIN POLIO 2016 DAN PIN MMR 2017.

Bagaimana pengalaman Bunda dalam memberikan sugesti positif pada anak? Sharing yuk..

Imunisasi dasar lengkap, 9 bulan Waf mendapat sertifikat

Jadwal imunisasi Waf, sudah lulus semua
PIN Polio 2016

PIN Polio 2016

Senin, 19 Februari 2018

Mengajak Waf Potong Rambut di “Saffana” Salon Muslimah

Ditulis oleh @elliyinayin

Mau mendekati ultah ke 3 nih ceritanya, lalu diajak Ibu potong rambut sepulang sekolah (Senin 19/2). Ups, bukan itu tujuan utamanya ya. Kalau potong rambut ya karena sudah panjang, Waf tampak risih, selalu berkeringat, wajah ikut-ikutan kucel, dan karena poni sudah menyentuh mata. Selain itu ya agar Waf tampak lebih rapi dan cantik pemirsa,he he he...

Ada sebagian Ibu yang memilih memotong sendiri rambut anaknya saat mulai panjang. Rapi dan tidak itu urusan belakangan. Entahlah para ibu itu punya ilmu nyalon atau tidak, hal itu juga cenderung diabaikan. Kalau hasilnya rapi dan tidak mengecewakan pasti si anak turut senang. Lha kalau hasilnya makin nggak karuan kan kasihan si anak. Dulu sesekali saya memotong sendiri poni Waf, lama-lama saya enggan karena rambut bercecer kemana-mana, dan terlihat kurang rapi.

Ini merupakan kali kedua saya ajak Waf untuk potong rambut di salon dekat rumah, namanya “Saffana” Salon Muslimah.  Saya sudah langganan disana. Ngapain ke salon jauh-jauh dan mahal, kalau tetangga sebelah telah memfasilitasi. Dia di Antariksa 1 dan saya di Antariksa 2, dekat banget kan. Pemilik dan capster komunikatif dan tentunya sabar plus mau bantu momong kalau saya yang sedang creambath.Untungnya tadi tidak antri dan langsung eksekusi. Namanya juga potong rambut anak, pastilah pakai drama naik turun kursi. Risih dipegang rambut dan telinganya. Waf pun demikian. Adakalanya dia diam sejenak, tapi lebih banyak actionnya.

Ya sudah tidak apa-apa. Bagi saya yang paling penting adalah membiasakan Waf berada di tempat “umum”dengan selalu menjaga kesopanan, berinteraksi dengan orang lain, dan melihat hal baru bahwa “fungsi salon salah satunya adalah tempat untuk memotong rambut”. Sebagaimana Waf berproses memahami bahwa di bank adalah tempat untuk menabung.

Ohya, untuk layanan “Saffana” Salon Muslimah sebenarnya ada banyak sih, tidak hanya potong rambut dan creambath saja. Di sana kita bisa facial, make up untuk wisuda dan event lainnya, sewa kebaya dan kelengkapannya, manicure, padicure, dll. Enaknya lagi setiap hari buka, dari Senin-Sabtu mulai pukul 10.00 sd 17.00 WIB. Disana kita selalu dimanjakan dengan lagu-lagu lawas dan makin nyaman dengan ruang ber AC. Meski tempatnya tidak luas, tapi layanannya selalu memuaskan. Daripada antri panjang, lebih asyik booking dulu ya via WA 0895636609042.

Masih anteng

Mash aman
Penuh ketenangan
Mulai merengek